Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sejarah Malam Selikuran dan Kirab Dua Kubu Keraton Surakarta

Sejarah Malam Selikuran dan Kirab Dua Kubu Keraton Surakarta
Pelaksanaan Malam Selikuran yang digelar di Masji Agung Solo. (IDN Times/Larasati Rey)
Intinya Sih
  • Dua kubu Keraton Surakarta, yakni PB XIV Hangabehi dan PB XIV Purboyo, sama-sama menggelar kirab Malam Selikuran dengan rute berbeda namun tetap menjaga makna spiritual tradisi tersebut.
  • Malam Selikuran, yang jatuh pada malam ke-21 Ramadan, merupakan warisan budaya hasil perpaduan ajaran Islam dan tradisi Jawa untuk menyambut datangnya malam Lailatul Qadar.
  • Prosesi utama berupa Kirab Tumpeng Sewu dengan obor dan doa bersama melambangkan cahaya ilahi, rasa syukur, serta kebersamaan antara raja dan rakyat dalam suasana religius penuh makna.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Surakarta, IDN Times - Bagi masyarakat Jawa, khususnya di lingkungan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, malam ke-21 bulan Ramadan bukan sekadar penanda memasuki sepertiga terakhir bulan suci. Malam tersebut dirayakan dengan tradisi agung bernama Malam Selikuran.

Tradisi ini merupakan perpaduan harmonis antara ajaran Islam dengan budaya Jawa yang telah eksis selama ratusan tahun. Berikut adalah ulasan lengkapnya dari A sampai Z.

1. Malam selikuran dilangsungkan dua kubu Keraton Surakarta

IMG_3334.jpeg
PB XIV Purboyo mengikuti peringatan Malam Selikuran. (IDN Times/Larasati Rey)

Namun di malam selikuran kali ini ada yang berbeda, Tradisi khas masyarakat Jawa yang berlangsung pada malam ke-21 Ramadan ini dilaksanakan oleh dua kubu Keraton Solo dengan rute kirab yang berbeda.

Dua kubu Keraton yakni kubu PB XIV Hangabehi dan kubu PB XIV Purboyo sama-sama mengelar Kirab malam Selikuran yang menjadi salah satu tradisi yang dilakukan masyarakat Jawa untuk menyambut datangnya malam Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir Ramadan.

Kubu Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo atau kubu Pakubuwono XIV Hangabehi menggelar kirab dengan rute dari Kori Kamandungan Keraton Solo, mengelilingi kawasan Baluwarti, dan berakhir di Masjid Agung Solo.

Ketua Eksekutif LDA Keraton Solo, KPH Eddy Wirabhumi, menjelaskan malam Selikuran sering dimaknai sebagai malam seribu bintang. Oleh karena itu, dalam kirab tersebut dibawa tumpeng sewu yang ditempatkan dalam delapan ancak atau jodang.

“Tumpeng sewu dibagikan kepada yang hadir mengikuti acara malam Selikuran. Selebihnya kepada masyarakat,” kata Eddy, Senin (9/3/2026) malam.

Meski berjalan dua kubu, menurutnya hal tersebut tidak mengurangi makna peringatan Malam Selikuran. Kejadian yang juga pernah terjadi pada saat PB XIII masih memimpin dulu.

Sementara itu, dalam waktu bersamaan, kubu Pakubuwono XIV Purboyo juga menggelar kirab malam Selikuran dengan rute berbeda. Kirab dimulai dari Keraton Solo menuju Alun-alun Utara, Jalan Slamet Riyadi, hingga berakhir di Taman Sriwedari.

Pengangeng Parentah, KGPH Dipokusumo mengatakan kirab malam Selikuran menjadi simbol rasa syukur karena telah memasuki sepertiga terakhir bulan Ramadan.

“Jadi ini sebagai tanda syukur bahwa kita memasuki sepertiga terakhir dari bulan Ramadan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut PB XIV Purboyo terlihat mengikut pelaksanaan Malam Selikuran, ia mengendarai mobil Pajero saat melaksanakan kirab dari Keraton Kasunanan Surakarta menuju ke Sriwedari.

2. Apa itu Malam Selikuran?

IMG_3459.jpeg
Pelaksanaan Malam Selikuran yang digelar di Masji Agung Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

Secara etimologi, "Selikuran" berasal dari kata bahasa Jawa selikur, yang berarti dua puluh satu (21). Tradisi ini dilakukan pada malam tanggal 21 Ramadan sebagai bentuk penyambutan terhadap datangnya malam Lailatul Qadar, malam yang diyakini lebih mulia dari seribu bulan dalam ajaran Islam.

Tradisi ini tidak lepas dari peran Wali Songo sebagai pendakwah Islam di tanah Jawa.

Dahulu, para Wali menggunakan metode budaya untuk mengajak masyarakat beribadah di masjid pada akhir Ramadan.

Tradisi ini semakin diperkuat di zaman Kerajaan Mataram Islam di bawah pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Era Pakubuwono IX & X: Di Keraton Surakarta, tradisi ini mencapai puncak kemegahannya pada masa Sri Susuhunan Pakubuwono IX dan Pakubuwono X. Perayaan dipindahkan atau difokuskan dari keraton menuju Masjid Agung atau ke Taman Sriwedari sebagai simbol kedekatan raja dengan rakyat.

3. Prosesi dan Ritual Utama

IMG_3355.jpeg
Lampu Ting yang menjadi lentera saat kirab Malam Selikuran. (IDN Times/Larasati Rey)

Malam Selikuran di Keraton Surakarta biasanya ditandai dengan prosesi Kirab Tumpeng Sewu.

Ribuan abdi dalem berjalan membawa obor. Obor melambangkan cahaya penerang di tengah kegelapan, sekaligus pengingat saat para sahabat menjemput Rasulullah SAW setelah menerima wahyu atau saat turunnya Lailatul Qadar.

Membawa ribuan tumpeng berukuran kecil (nasi berkat). Angka "sewu" atau seribu melambangkan kemuliaan malam Lailatul Qadar yang setara dengan seribu bulan.

Prosesi berakhir di Masjid Agung atau Joglo Sriwedari dengan pembacaan doa syukur dan selawat demi keselamatan raja, keraton, rakyat, dan negara.

4. Filosofi di Balik Tradisi

Tradisi Malam Selikuran. (Dok/Surakarta.go.id)
Tradisi Malam Selikuran. (Dok/Surakarta.go.id)

Malam Selikuran kaya akan simbolisme mendalam:

Lampu Ting/Obor: Manusia diingatkan untuk selalu mencari "nur" atau cahaya ilahi dalam hidup agar tidak tersesat dalam kegelapan nafsu.

Sedekah Tumpeng: Menunjukkan sifat kedermawanan raja kepada rakyatnya. Nasi tumpeng yang dibagikan adalah simbol berkah dan rasa syukur atas nikmat Tuhan.

Kebersamaan: Tradisi ini meleburkan sekat antara kaum bangsawan (keraton) dan rakyat jelata dalam satu doa yang sama.

Sesuai namanya, ritual ini dilakukan setiap tahun pada malam tanggal 21 Ramadan. Di Surakarta, acara biasanya dimulai setelah waktu salat Isya.

Malam Selikuran adalah bukti nyata bagaimana kearifan lokal mampu menjaga nafas religiusitas tetap hidup. Di Keraton Surakarta, tradisi ini bukan sekadar pawai budaya, melainkan sebuah pengingat bagi setiap insan untuk memperbanyak amal ibadah dan menjaga kesucian hati di penghujung Ramadan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More