Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
276 Siswa Bawang Keracunan MBG Karena Sering Ganti Penjamah Makanan
Makanan MBG di salah satu sekolah di Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), diduga berbau busuk, Jumat (23/5/2025)/Istimewa
  • Dinkes Jawa Tengah memperkirakan keracunan MBG berulang di sekolah-sekolah Kecamatan Bawang, Batang, terkait pola kerja penjamah makanan yang sering berganti.

  • Pergantian petugas terjadi karena kerja dapur SPPG berlangsung dari malam hingga pagi; pekerja baru kerap keluar setelah sekitar sebulan, meski pelatihan rutin telah diberikan.

  • Dinkes menyebut SOP SPPG sudah diterapkan, namun perbaikan menyeluruh diperlukan; sampel sisa makanan, muntahan, feses, dan diare siswa diuji di Labkesda Semarang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kamis (24/9/2026)

Dinkes Jawa Tengah memperkirakan keracunan MBG pada 276 siswa di Kecamatan Bawang dipicu seringnya pergantian penjamah makanan. Dinkes menilai pergantian petugas menyulitkan penerapan pelatihan dan pengelolaan dapur SPPG.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sebanyak 276 siswa di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, mengalami keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sampel sisa makanan, muntahan, dan feses telah diambil untuk pemeriksaan laboratorium.
  • Who?
    276 siswa terdampak keracunan; Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Dinas Kesehatan setempat, pengelola dapur SPPG, serta penjamah makanan MBG menangani dan menjadi bagian dari kejadian ini.
  • Where?
    Kejadian terjadi di sejumlah sekolah di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Sampel pemeriksaan dibawa ke Labkesda Semarang.
  • When?
    Keterangan dari Kepala Dinkes Jawa Tengah, Dr Zulfachmi Wahab, disampaikan pada Kamis, 24 September 2026. Waktu pasti kejadian keracunan pada para siswa per saat ini belum diketahui.
  • Why?
    Dinkes Jawa Tengah memperkirakan kejadian berulang berkaitan dengan pola kerja penjamah makanan yang sering berganti. Petugas baru dinilai belum selalu mendapat pelatihan penanganan bahan, peralatan, dan pengemasan makanan.
  • How?
    Dinkes menyatakan SOP SPPG telah diberlakukan, namun diperlukan perbaikan menyeluruh. Petugas mengambil sisa nasi, lauk, muntahan, dan feses siswa untuk diuji di laboratorium guna mengetahui kondisi keracunan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sebanyak 276 siswa di Bawang, Batang, sakit keracunan setelah makan MBG. Dinkes Jawa Tengah bilang petugas makanan sering ganti-ganti. Mereka bekerja dari malam sampai pagi, jadi banyak yang pergi. Petugas baru mungkin belum tahu cara bersihkan dan masak makanan. Sekarang sisa makanan, muntah, dan kotoran siswa sedang diperiksa di lab.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Respons Dinkes Jawa Tengah menunjukkan adanya fondasi pengawasan yang sudah berjalan, melalui pelatihan rutin bagi penjamah makanan, penerapan SOP di dapur SPPG, serta penerbitan SLHS. Pengujian sisa makanan dan sampel dari siswa di laboratorium juga mencerminkan upaya penanganan yang berbasis pemeriksaan untuk memahami sumber persoalan secara lebih terukur.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Batang, IDN Times - Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah memperkirakan kasus keracunan MBG yang terus berulang kali terjadi di masing-masing sekolah karena faktor pola kerja penjamah makanan. 

Pihak Dinkes juga menyoroti keberadaan penjamah makanan MBG yang sering berganti akhirnya juga menimbulkan kasus keracunan di sejumlah sekolah di Kecamatan Bawang Kabupaten Batang.

"Biasanya itu kalau muncul KLB keracunan MBG faktornya pada petugas penjamah makanan. Di Bawang pasti juga demikian. Karena banyak petugas penjamah yang tidak betah kerja di dapur SPPG, karena kerjanya dari malam sampai pagi. Baru kerja sebulan sudah keluar terus ganti yang baru lagi," ujar Kepala Dinkes Jateng, Dr Zulfachmi Wahab kepada IDN Times, Kamis (24/9/2026).

Lebih lanjut lagi, pihaknya sebetulnya telah memberikan pelatihan kepada para petugas penjamah makanan MBG di tiap kabupaten/kota. 

Proses pelatihan dilakukan rutin untuk membekali pengetahuan mengenai cara membersihkan bahan baku makanan, peralatan memasak dan pengemasan makanan MBG.

Namun setiap kali selesai memberikan pelatihan, petugas penjamah makanan selalu diganti dengan yang baru. Hal inilah, menurutnya yang menjadi tantangan terberat para pengelola dapur SPPG. 

"Karena seringnya ganti-ganti penjamah makanan, ini yang memberatkan SPPG. Maka Masalah ini perlu menjadi perhatian kita bersama," kata Zul.

Zul mengatakan dalam kasus KLB keracunan MBG, SOP sudah diberlakukan oleh SPPG. Akan tetapi beberapa persoalan memang perlu perbaikan menyeluruh.

Khusus kejadian keracunan MBG di Bawang, pihaknya sebelumnya sempat menerbitkan SLHS. Pihaknya dalam mengatasi kasus keracunan MBG yang dialami ratusan siswa di Bawang telah membawa sejumlah sampel sisa makanan, feses atau sisa diare dan muntahan dari siswa untuk dibawa ke Labkesda Semarang.

"Sisa nasi atau lauk pasti dibawa petugas Dinas Kesehatan ke laboratorium. Seperti muntahan dan feses juga dijadikan sampel uji laboratorium," urainya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article