Seorang pria tampak kelelahan dan stres saat bekerja di depan laptop. (pexels.com)
Coba evaluasi kembali aliran keuangan bulananmu secara jujur. Perhatikan apakah nominal gajimu benar-benar mengendap di tabungan atau hanya menumpang lewat di rekening.
Banyak orang tak sadar gajinya ludes untuk revenge spending, terapi kesehatan, obat-obatan, hingga liburan mahal yang tujuannya sekadar melarikan diri dari kenyataan kerja. Jika net savings kamu ternyata sama saja dengan orang bergaji standar akibat tingginya biaya kompensasi stres, maka nilai nominal gaji besar tersebut sebenarnya semu.
Sebelum buru-buru menyerahkan surat pengunduran diri, lakukan persiapan finansial yang matang. Pastikan kamu sudah mengamankan dana darurat minimal 6 hingga 12 bulan biaya hidup. Turunkan keterikatan emosional pada pekerjaan saat ini (quiet quitting), lalu manfaatkan waktu luang untuk memperbarui profil LinkedIn dan berburu peluang baru. Jangan lupa manfaatkan sisa jatah asuransi kesehatan kantor untuk medical check-up atau sesi psikolog sebelum resmi keluar.
Uang memang bisa dicari lagi, tetapi kesehatan fisik dan mental yang rusak butuh waktu lama untuk dipulihkan. Mengambil langkah mundur demi menyelamatkan diri bukanlah tanda kekalahan, melainkan bentuk kepedulian pada masa depanmu sendiri.
Nah, apakah kamu sedang merasakan salah satu dari empat tanda di atas dalam pekerjaanmu saat ini? Yuk, bagikan cerita dan pengalamanmu di kolom komentar!