Program hilirisasi membuka peluang baru bagi pemanfaatan batu bara berkalori rendah di sektor pertanian. PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengembangkan batu bara berkalori rendah menjadi kalium humat. Inovasi tersebut berfungsi membantu membenahi kondisi tanah. Saat ini, produk tersebut diproduksi pada skala percontohan dan masuk tahap pengujian di lahan pertanian. Tantangan ke depan bagi proyek itu adalah memperbesar kapasitas produksi dari sekitar 171 ton menjadi target 10.000 ton per tahun.
Batu Bara Masuk Sawah: Inovasi Kalium Humat PTBA dan UGM untuk Pertanian

- PTBA dan UGM mengolah batu bara berkalori rendah menjadi kalium humat, pembenah tanah yang kini diproduksi skala percontohan dan diuji di lahan pertanian.
- Kalium humat membantu memperbaiki struktur tanah, daya simpan air, ketersediaan hara, dan aktivitas mikroorganisme, namun hasilnya bergantung pada kondisi lahan, tanaman, dosis, serta pemupukan.
- Uji coba di Muara Enim memperkirakan tambahan panen padi 1 ton pada 0,8 hektare; PTBA menargetkan kapasitas naik dari 171 menjadi 10.000 ton per tahun.
Tahapan pengolahan dimulai dengan mengekstraksi senyawa humat dari batu bara berkalori rendah. Hasil pengolahan ini kemudian diproses menjadi kalium humat. Produk akhir inilah yang diaplikasikan ke lahan pertanian untuk membantu memperbaiki kondisi tanah.
Kalium humat berperan utama sebagai pembenah tanah dan pendamping pemupukan. Penggunaan produk ini membawa beberapa manfaat bagi lahan, antara lain memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kapasitas tanah dalam menahan air, membuat unsur hara lebih tersedia, serta membuat mikroorganisme tanah lebih aktif. Meskipun membawa dampak positif, respons tanah terhadap kalium humat dapat berbeda-beda. Hal ini bergantung pada kondisi tanah, jenis tanaman, dosis, dan pola pemupukan di setiap lokasi.
Berdasarkan uji coba lapangan pada panen Maret 2026 di Tanjung Karangan, Muara Enim, PTBA menyebutkan adanya penambahan hasil panen. Pada lahan sawah seluas 0,8 hektare (ha) yang sebelumnya menghasilkan sekitar 3,5 ton padi, penggunaan kalium humat diperkirakan menambah hasil panen hingga sekitar 1 ton. Namun, angka ini merupakan perkiraan spesifik dari lokasi uji coba dan tidak dapat digeneralisasikan untuk semua lahan.
Per September 2026, PTBA menyebut kapasitas pabrik percontohan kalium humat mencapai sekitar 171 ton per tahun. Perusahaan menargetkan pengembangan kapasitas produksi hingga 10.000 ton per tahun, yang setara dengan hampir 59 kali lipat dari kapasitas percontohan saat ini.
Walaupun teknologi ini sukses masuk ke area persawahan, lompatan skala produksi skala komersial masih memerlukan pembuktian secara menyeluruh. Beberapa aspek yang masih perlu dibuktikan meliputi konsistensi hasil pada berbagai kondisi lahan, konsistensi mutu pada skala produksi besar, kepastian biaya produksi komersial, serta kemampuan pasar dalam menyerap hasil produksi.
Inovasi hilirisasi tersebut berpotensi besar menjaga kesehatan tanah di masa depan.





















