Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Raksasa Baterai EV CATIB Beroperasi, Investasi Rp96 Triliun

Kota Semarang
3 min read
Raksasa Baterai EV CATIB Beroperasi, Investasi Rp96 Triliun
Buritan Lepas E4 EV (IDN Times/Fadhliansyah)
  • Pabrik sel baterai EV PT CATIB di Karawang resmi beroperasi Juli 2026, hasil kemitraan Antam, IBC, dan CBL, dengan investasi ekosistem terintegrasi mencapai Rp96,04 triliun.
  • Kapasitas awal pabrik mencapai 6,9 GWh per tahun pada 2026 dan ditargetkan 15 GWh pada 2028, cukup memasok sekitar 250.000 kendaraan listrik per tahun.
  • Proyek enam usaha patungan mencakup rantai nikel hingga daur ulang, menyerap 8.000 pekerja langsung, serta menyiapkan penghematan BBM, PLTS 18 MWp, dan pemulihan logam lebih dari 95 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ekosistem kendaraan listrik Indonesia memasuki babak baru. Pabrik sel baterai electric vehicle (EV) terbesar kedua di Indonesia milik PT CATIB di Karawang, Jawa Barat, resmi beroperasi pada Juli 2026. Fasilitas ini merupakan hasil kemitraan strategis antara PT Aneka Tambang Tbk (Antam), Indonesia Battery Corporation (IBC), dan anak usaha raksasa baterai Tiongkok CATL, yaitu CBL. Megaproyek ini menyerap total investasi terintegrasi dari hulu ke hilir mencapai US$5,9 miliar atau sekitar Rp96,04 triliun.

Pembangunan pabrik CATIB terbilang cepat. Usai peletakan batu pertama oleh Presiden Prabowo pada 29 Juni 2025, fasilitas manufaktur ini siap beroperasi penuh hanya dalam waktu 13 bulan.

Berlokasi di kawasan AIH dan KNIC Karawang, pabrik ini berdiri megah dengan lini produksi sel sepanjang 1 kilometer yang berdampingan langsung dengan fasilitas packing. Pada fase pertama tahun 2026, pabrik mencatat kapasitas produksi 6,9 GWh per tahun. Angka ini ditargetkan naik menjadi 15 GWh per tahun pada fase kedua tahun 2028.

Saat kapasitas produksinya maksimal, pabrik sanggup memasok daya untuk sekitar 250.000 unit kendaraan listrik per tahun. Khusus untuk fasilitas di Karawang ini, nilai investasi menembus US$1,2 miliar (sekitar Rp21,17 triliun hingga Rp21,19 triliun) dengan hasil produksi berupa sel baterai lithium-ion untuk kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi (BESS).

Pabrik sel baterai di Karawang tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari ekosistem enam usaha patungan (JV) yang membentang dari hulu di Halmahera Timur, Maluku Utara, hingga ke hilir.

Di sektor hulu, Antam dan CBL mengelola pertambangan nikel (JV 1) dengan kapasitas 13,8 juta wet metric ton (wmt) per tahun yang berproduksi sejak 2023. Sektor ini juga mencakup persiapan smelter RKEF (JV 2) berkapasitas 88.000 ton paduan nikel yang ditargetkan operasi pada 2027, serta smelter HPAL (JV 3) untuk memproduksi 55.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) pada 2028.

Sementara itu di sektor hilir, CBL dan IBC berkolaborasi membangun pabrik material baterai (JV 4) yang dijadwalkan rampung 2028, pabrik sel baterai CATIB (JV 5), serta fasilitas daur ulang baterai (JV 6) berkapasitas 20.000 ton logam per tahun dengan target operasi pada 2031.

Proyek raksasa ini membuka lapangan kerja secara masif dengan menyerap 8.000 pekerja langsung serta hingga 35.000 pekerja tidak langsung di sepanjang rantai pasok. Sebagai bentuk transfer pengetahuan, 600 karyawan mendapat kesempatan menjalani pelatihan teknis di Tiongkok.

Dari sisi ketahanan energi, kehadiran EV dari ekosistem ini diproyeksikan menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) hingga 300.000 kiloliter per tahun. Prinsip ekonomi sirkular juga terwujud lewat fasilitas daur ulang yang mampu memulihkan lebih dari 95 persen logam berharga. Untuk mendukung operasional hijau, instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 18 MWp dipersiapkan pada 2027 demi dekarbonisasi kawasan pabrik.

Infografik: Akselerasi Raksasa Baterai EV Indonesia (IDN Times/Dhana Kencana)
Infografik: Akselerasi Raksasa Baterai EV Indonesia (IDN Times/Dhana Kencana)
    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More