Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Alasan Ilmiah Kenapa Kamu Susah Move On dari Hubungan Toxic
Ilustrasi susah move on (freepik.com/freepik)
  • Susah move on dari mantan toxic biasanya bukan murni karena cinta, melainkan akibat jebakan ikatan trauma dan kecanduan otak pada hormon dopamin.

  • Taktik manipulasi seperti gaslighting dan isolasi sosial dirancang khusus untuk membuat korban merasa tidak berharga dan takut hidup sendirian.

  • Menerapkan aturan putus kontak total adalah kunci mutlak untuk menghentikan "sakau" emosi dan memulai proses pemulihan mental.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Orang yang putus dari pasangan jahat kadang masih susah lupa. Pasangannya dulu bisa marah, lalu tiba-tiba manis. Otak jadi terbiasa dengan rasa naik turun itu. Orang itu juga bisa merasa sendirian dan tidak percaya diri. Sekarang, mereka disarankan tidak menghubungi mantan agar pelan-pelan sembuh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Secara logika, putus dari toxic relationship alias hubungan yang beracun seharusnya membawa rasa lega yang luar biasa. Tapi pada kenyataannya, banyak dari kita yang malah merasa sangat tersiksa, mendadak kangen berat, dan seolah terjebak dalam siklus masa lalu. Pernah merasa bingung dan menyalahkan diri sendiri karena kondisi ini? Nggak perlu merasa bersalah, karena susahnya melangkah maju itu ada penjelasan sainsnya, lho!

Menurut ilmu psikologi dan neurosains, fenomena sulit lepas dari mantan yang beracun ternyata bukan terjadi karena rasa cintamu yang terlalu dalam. Ada jebakan trauma dan reaksi kimia di dalam otak yang bikin kamu sulit bebas. Yuk, bedah 5 alasan ilmiah kenapa bayang-bayang mantan toxic susah banget hilang dari pikiranmu!

1. Terjebak dalam Ikatan Trauma (Trauma Bonding)

ilustrasi move on (pexels.com/Genine Alyssa Pedreno)

Di balik hubungan toxic, jarang ada kekerasan atau manipulasi yang terjadi selama 24 jam penuh setiap harinya. Polanya selalu berputar layaknya roda: setelah fase pertengkaran yang ekstrem, si dia akan masuk ke fase "bulan madu" dengan meminta maaf, bersikap super manis, hingga memberi hadiah.

Siklus manipulatif yang berulang ini menciptakan ikatan emosional yang sangat kuat dan tidak sehat, yang disebut trauma bonding. Tanpa sadar, kamu menjadi sangat bergantung pada momen-momen manis tersebut dan terus hidup dalam harapan palsu bahwa pasangannya akan berubah kembali seperti dulu.

2. Otak Mengalami "Sakau" Hormon Dopamin

Ilustrasi move on (pixabay.com/phoenixsierra0)

Secara neurosains, dinamika naik-turun dalam hubungan toxic menstimulasi otak layaknya kecanduan judi atau narkoba. Saat hubungan sedang memburuk, otak dilanda stres berat. Tapi, begitu pasangan kembali bersikap baik, otak akan langsung melepaskan hormon dopamin (hormon kesenangan) dalam jumlah yang sangat masif.

Otakmu sudah telanjur terbiasa dengan sensasi emotional roller coaster ini. Ketika akhirnya putus dan masuk ke kehidupan yang normal nan tenang, otak malah merasa hambar. Faktanya, kamu sedang mengalami gejala "sakau" (withdrawal symptoms) dari pasokan dopamin ekstrem si mantan, bukan kangen dengan orangnya!

3. Hancurnya Harga Diri Akibat Gaslighting

ilustrasi sudah move on (pexels.com/Clem Onojeghuo)

Pasangan yang beracun sangat ahli melakukan gaslighting—sebuah taktik manipulasi mental yang secara perlahan bikin kamu meragukan ingatan, kewarasan, hingga harga dirimu sendiri.

Kalimat beracun seperti, "Nggak bakal ada yang mau sama kamu selain aku," lama-kelamaan akan tertanam kuat di alam bawah sadar. Efek mematikannya baru terasa maksimal setelah putus; kamu jadi merasa tidak berharga, tidak berdaya, dan seolah nggak mampu hidup mandiri tanpa kehadirannya.

4. Terjebak Ilusi Pengorbanan (Sunk Cost Fallacy)

ilustrasi pria yang belum bisa move on (unsplash.com/Andrew Neel)

Alasan lain yang bikin kamu susah melangkah pergi adalah karena merasa sudah memberikan segalanya dalam hubungan tersebut. Mulai dari waktu bertahun-tahun, energi mental yang terkuras, hingga air mata dan materi yang nggak terhitung jumlahnya.

Dalam ilmu psikologi, kondisi ini disebut sunk cost fallacy. Pikiranmu terjebak pada bias kognitif yang berbisik, "Sayang banget kalau menyerah sekarang, semua pengorbananku selama ini bakal sia-sia." Akhirnya, kamu terus bertahan untuk "memperbaiki" hubungan yang sebenarnya sudah hancur lebur.

5. Kesepian Ekstrem Akibat Isolasi Sosial

ilustrasi belum move on (pexels.com/Alena Darmel)

Coba ingat-ingat lagi, apakah selama berpacaran, si dia perlahan menjauhkanmu dari circle pertemanan dekat atau keluargamu? Isolasi sosial ini adalah senjata andalan pasangan toxic agar hidupmu hanya bergantung padanya semata.

Ketika akhirnya hubungan tersebut berakhir, kamu baru menyadari bahwa kamu tidak punya support system untuk tempat bersandar atau sekadar curhat. Rasa kesepian yang ekstrem inilah yang sering kali memaksamu kembali memikirkan sang mantan, hanya karena bingung harus berpaling ke mana.

Menyembuhkan luka dari hubungan beracun memang butuh waktu ekstra dan metode yang berbeda dari putus cinta biasa. Langkah paling krusial untuk benar-benar lepas adalah menerapkan No Contact Rule (Aturan Putus Kontak Total). Blokir semua akses media sosialnya, hapus nomornya, dan hindari tempat kenangan kalian. Ingat, setiap kamu mencoba stalking, kamu cuma ngasih "dosis dopamin" baru ke otak yang bikin proses pemulihan makin lama.

Nah, pernah nggak sih kamu punya teman atau justru pengalaman sendiri melewati fase sulit move on dari hubungan toxic ini? Coba share di kolom komentar, apa sih rintangan paling berat yang harus dilewati saat berusaha putus kontak darinya?

Curated For You

Editorial Team

Related Article