7 Fakta Menarik Terumbu Karang dari Limbah Industri Karya Undip Semarang

- Tim ilmuwan FPIK Undip mengembangkan Artificial Fish Apartment (AFA), terumbu karang buatan dari limbah industri FABA yang ramah lingkungan dan mendukung ekonomi masyarakat pesisir.
- AFA telah diuji di berbagai wilayah pesisir Indonesia dengan hasil meningkatkan populasi ikan, keanekaragaman hayati, serta efisiensi biaya dibandingkan produk impor.
- Inovasi AFA lolos Program Lab2Market 2026 untuk hilirisasi riset, mendukung konsep Blue Economy dan SDGs melalui pemulihan ekosistem laut serta penguatan sektor perikanan nasional.
Semarang, IDN Times - Ilmuwan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro (Undip) mengembangkan terumbu karang buatan berbahan limbah industri. Inovasi tersebut berhasil menembus Program Lab2Market 2026, program nasional yang mendorong hilirisasi dan komersialisasi hasil riset perguruan tinggi.
1. Bukan terumbu karang buatan biasa

Teknologi terumbu karang buatan bernama Artificial Fish Apartment (AFA) tersebut dikembangkan oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Munasik dan resmi diumumkan sebagai peserta Lab2Market 2026 pada 9 Juni 2026.
Menariknya, AFA bukan sekadar terumbu buatan biasa. Teknologi ini mengubah limbah industri menjadi habitat baru bagi biota laut sekaligus mendukung ekonomi masyarakat pesisir.
2. Fakta penting dan unik dari terumbu karang AFA

Berikut tujuh fakta penting dan unik tentang inovasi terumbu karang dari limbah industri atau AFA.
1. Terumbu Buatan Ini Dibuat dari Limbah Industri
AFA dikembangkan menggunakan material Fly Ash Bottom Ash (FABA), yaitu limbah sisa proses industri yang selama ini memiliki pemanfaatan terbatas.
Melalui rekayasa teknologi, FABA diolah menjadi struktur terumbu buatan yang aman dan ramah lingkungan untuk mendukung kehidupan berbagai organisme laut.
Pemanfaatan limbah sebagai bahan utama menjadikan inovasi ini tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan laut, tetapi juga membantu mengurangi beban limbah industri.
2. Dirancang Menjadi “Apartemen” bagi Ikan dan Biota Laut
Sesuai namanya, Artificial Fish Apartment berfungsi sebagai habitat buatan yang menyediakan ruang berlindung, berkembang biak, dan mencari makan bagi berbagai jenis ikan serta organisme laut lainnya.
Struktur yang dirancang khusus memungkinkan terbentuknya ekosistem baru yang lebih kompleks sehingga mampu menarik kehadiran berbagai spesies laut.
Konsep ini menjadi penting di tengah kerusakan terumbu karang alami yang terus terjadi akibat aktivitas manusia maupun perubahan iklim.
3. Sudah Diuji di Sejumlah Wilayah Pesisir Indonesia
AFA tidak lagi berada pada tahap laboratorium.
Teknologi ini telah mencapai Technology Readiness Level (TRL) 7–8, yang menunjukkan bahwa produk telah memasuki tahap demonstrasi operasional dan siap menuju implementasi yang lebih luas.
Tim peneliti juga telah melakukan pemasangan dan pengujian di beberapa kawasan pesisir Indonesia untuk melihat efektivitasnya secara langsung.
4. Terbukti Meningkatkan Populasi dan Keanekaragaman Ikan
Hasil monitoring menunjukkan dampak ekologis yang menjanjikan.
Keberadaan AFA mampu meningkatkan jumlah ikan yang menghuni area pemasangan, memperkaya keanekaragaman hayati, serta menciptakan habitat laut yang lebih produktif dibandingkan kondisi sebelumnya.
Temuan ini menjadi indikator penting bahwa terumbu buatan tidak hanya berfungsi sebagai struktur fisik, tetapi juga mampu menghidupkan kembali ekosistem pesisir yang terdegradasi.
5. Lebih Murah Dibanding Produk Impor
Selain memberikan manfaat lingkungan, AFA juga menawarkan keunggulan dari sisi ekonomi.
Biaya produksinya disebut lebih rendah dibandingkan produk terumbu buatan impor yang selama ini digunakan dalam sejumlah program rehabilitasi pesisir.
Efisiensi biaya tersebut membuka peluang adopsi yang lebih luas oleh pemerintah daerah, pelaku industri, maupun komunitas pesisir.
6. Masuk Program Hilirisasi Nasional Lab2Market 2026
Keberhasilan lolos ke Program Lab2Market 2026 menjadi pengakuan penting terhadap potensi komersial dan kebermanfaatan AFA.
Program ini dirancang untuk mempercepat transformasi hasil penelitian kampus menjadi produk yang siap digunakan masyarakat dan industri.
Melalui program tersebut, tim AFA akan memperoleh pendampingan mulai dari validasi pasar, penguatan model bisnis, perlindungan hak kekayaan intelektual, hingga strategi komersialisasi dan akses investor.
7. Mendukung Blue Economy dan SDGs
Pengembangan AFA sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya konsep Blue Economy yang mengedepankan pemanfaatan sumber daya laut secara bertanggung jawab.
Inovasi ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 14, yakni menjaga dan melestarikan ekosistem laut.
Menurut Prof. Munasik, terpilihnya AFA dalam Program Lab2Market menjadi momentum penting agar hasil riset tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah semata.
“Kami bersyukur AFA dapat terpilih dalam Program Lab2Market 2026. Ini menjadi peluang penting untuk memperkuat proses hilirisasi inovasi yang telah kami kembangkan. Harapannya, AFA tidak hanya menjadi produk riset, tetapi juga solusi nyata yang mampu mendukung pemulihan ekosistem laut dan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujarnya.
3. Baik untuk rehabilitasi ekosistem laut

Sebagai tahapan awal program, tim pengembang AFA akan mengikuti kegiatan kick-off Lab2Market 2026 di Jakarta pada 25–26 Juni 2026.
Langkah ini menjadi awal perjalanan inovasi karya ilmuwan UNDIP menuju penerapan yang lebih luas, baik untuk rehabilitasi ekosistem laut, penguatan sektor perikanan, maupun pengembangan ekonomi biru Indonesia di masa depan.


















