Semarang, IDN Times - Bagi sebagian orang, toilet mungkin sekadar fasilitas rumah tangga biasa. Namun bagi Dr. dokter. Budi Laksono, M.HSc., jamban adalah soal martabat, kesehatan, hingga masa depan generasi bangsa.
Inspiratif! Alumni Undip Semarang Turun Gunung Bangun Satu Juta Jamban

Dr. Budi Laksono, alumni FK Undip berjuluk 'Dokter Jamban', menggagas gerakan nasional membangun lebih dari satu juta jamban sehat demi menghapus kebiasaan buang air besar sembarangan di Indonesia.
Inovasi 'Jamban Terbang' dan septic tank BIO Integrated dikembangkan untuk wilayah pesisir terdampak rob agar sanitasi tetap berfungsi meski terjadi penurunan tanah dan genangan air laut.
Undip resmi mengadopsi gerakan jambanisasi melalui riset, KKN, dan LPPM guna memperluas akses sanitasi layak serta mendukung solusi lingkungan di daerah rawan krisis sanitasi.
Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip ) yang dijuluki “Dokter Jamban” itu datang kembali ke kampus almamaternya di Gedung Widya Puraya Undip Tembalang untuk membawa satu misi yang belum selesai, yakni memastikan seluruh keluarga Indonesia memiliki akses sanitasi layak.
“Saya punya cita-cita sebelum meninggal, seluruh penduduk Indonesia sudah memiliki jamban,” kata Budi, Minggu (14/6/2026).
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi perjuangannya tidak kecil. Bersama TNI AD, relawan, alumni, pemerintah daerah, hingga komunitas sosial, Budi mengklaim telah membangun lebih dari satu juta jamban sehat di berbagai wilayah Indonesia.
1. Ketika jamban berkaitan dengan stunting

Jika satu rumah dihuni empat orang, maka gerakan itu telah menyentuh sedikitnya empat juta jiwa. Selanjutnya di balik isu sanitasi, tersimpan ancaman kesehatan yang jauh lebih besar. Buruknya akses jamban masih menjadi salah satu penyebab tingginya kasus diare, kecacingan, hepatitis A, tifus, hingga stunting pada anak.
Persoalan ini menjadi relevan di tengah perhatian nasional terhadap bonus demografi dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Menurut Budi, kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS) menyebabkan rantai penularan penyakit terus terjadi melalui pencemaran lingkungan.
“Kuman usus manusia bisa menyebar lewat lingkungan yang tercemar. Itu yang sering tidak disadari,” ujarnya.
Maka itu, gerakan jambanisasi yang ia lakukan bukan sekadar membangun toilet, melainkan mengubah perilaku masyarakat. Salah satu metode unik yang dikembangkannya bahkan dikenal dengan istilah “Hypnolatrine”, yakni pendekatan edukasi dan motivasi kepada warga sebelum pembangunan jamban dilakukan.
Warga didata dari rumah ke rumah. Mereka yang belum memiliki WC atau jambannya rusak dikumpulkan, diberi pemahaman tentang sanitasi, lalu diberikan stimulan material untuk segera membangun jamban secara gotong royong.
Pendekatan tersebut kemudian diadopsi secara nasional oleh TNI Angkatan Darat melalui program GEMA SANG JUARA (Gerakan Membangun Satu Juta Jamban Keluarga). Melalui keterlibatan 52 ribu Babinsa di seluruh Indonesia, gerakan itu berhasil membangun lebih dari 1.037.876 jamban keluarga.
2. Inovasi “Jamban Terbang” untuk daerah rob

Adapun, yang membuat kiprah Budi semakin dikenal bukan hanya jumlah jamban yang dibangun, tetapi juga inovasi yang lahir dari persoalan riil masyarakat pesisir.
Untuk kawasan rob dan penurunan muka tanah seperti pesisir Demak dan Semarang, jamban konvensional sering kali tenggelam. Dari situ lahir inovasi “Jamban Terbang”.
Jamban ini dibangun di atas susunan buis beton setinggi sekitar satu meter. Ketika tanah kembali turun dan air rob meninggi, struktur jamban dapat dinaikkan lagi dengan menambah susunan beton baru. Konsep itu memungkinkan toilet tetap digunakan secara berkelanjutan di wilayah yang terus terendam.
Tak hanya itu, Budi juga mengembangkan septic tank BIO Integrated Compact Septic Tank untuk rumah panggung dan rumah perahu di kawasan pesisir agar limbah tetap aman dan tidak mencemari lingkungan.
3. Undip resmi adopsi gerakan jambanisasi

Dukungan besar datang dari kampus tempat Budi menimba ilmu. Rektor Undip, Prof. Dr. Suharnomo, menyebut inovasi sanitasi yang dilakukan alumninya menjadi contoh nyata bagaimana perguruan tinggi dapat menghadirkan solusi langsung bagi masyarakat.
Pada Dies Natalis ke-67 tahun 2024 lalu, UNDIP bahkan telah mengimplementasikan “Jamban Terbang” di Desa Tugu, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak — salah satu wilayah paling terdampak rob di Jawa Tengah. Kini, program itu akan diperluas.
Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), tim Kuliah Kerja Nyata (KKN), Fakultas Kedokteran, serta Fakultas Kesehatan Masyarakat, Undip mulai memetakan daerah-daerah dengan krisis sanitasi untuk intervensi lanjutan.
“Undip akan teruskan di daerah lain yang membutuhkan. Kami akan mulai dengan scanning wilayah yang paling membutuhkan sanitasi,” ujar Suharnomo.
Undip juga mendorong riset sanitasi melalui tim Coastal Disaster and Mitigation (CoREM), yang selama ini fokus pada persoalan kawasan pesisir dan perubahan iklim.
Langkah ini dinilai penting karena persoalan sanitasi kini tak lagi sekadar isu kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan krisis lingkungan, urbanisasi, hingga perubahan iklim.


















