Ingin Merdeka dari Sakit, Warga Semarang Berburu Kepastian Lewat CKG

- Ribuan warga Semarang memanfaatkan Cek Kesehatan Gratis di Balai Kota untuk deteksi dini, termasuk skrining payudara, serviks, X-ray, tes darah, dan konsultasi dokter spesialis.
- Antusiasme peserta melampaui target: 1.117 warga dilayani selama 10–12 Agustus 2026 setelah kuota harian ditambah dari 300 menjadi 350 peserta.
- Dinkes mencatat kanker payudara sebagai kasus kanker tertinggi di Semarang; temuan skrining akan ditindaklanjuti melalui puskesmas, rujukan rumah sakit, dan BPJS sesuai indikasi.
Semarang, IDN Times – Benjolan di payudara Lusiana Sugiarto memang sudah menghilang. Namun, perempuan 47 tahun itu tak mau menganggap persoalan tersebut selesai begitu saja.
Warga Tanah Mas, Kelurahan Panggung Lor, Kecamatan Semarang Utara menyempatkan waktu di sela jam bekerja untuk datang ke Balai Kota Semarang menjalani Cek Kesehatan Gratis (CKG), salah satunya USG payudara. Kepada IDN Times, Lusiana menceritakan, sebelumnya ia pernah mengalami benjolan di bagian payudara setelah terjatuh beberapa tahun lalu.
Warga ingin mendapat kepastian tentang kondisi kesehatannya

Lusiana warga Tanah Mas, Kelurahan Panggung Lor, Kecamatan Semarang Utara mengikuti skrining kanker payudara dan cek kesehatan gratis (CKG) di Balai Kota Semarang, Selasa (11/8/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Seiring waktu dan melakukan pengobatan, benjolan itu kemudian tak lagi terasa. Kini, ia ingin memastikan kondisi tubuhnya melalui pemeriksaan yang lebih detail. Maka itu, untuk mendapatkan kepastian tentang kondisi yang dialaminya, ia mendaftar CKG yang diselenggarakan Pemerintah Kota dalam rangka HUT Ke-81 Kemerdekaan RI melalui online sejak H-7 pelaksanaan agar mendapat kesempatan periksa kesehatan secara cuma-cuma.
“Saya pengen tahu pastinya, sebab kalau di-USG kan bisa tahu lebih detail,” kata Lusiana saat ditemui, Selasa (11/8/2026).
Dari pemeriksaan CKG, Lusiana juga mengetahui kadar kolesterol totalnya sekitar 207 dan trigliseridanya 160, sedikit di atas batas normal. Kemudian, ia pun mendapat rekomendasi pemeriksaan lanjutan. Lusiana pun memilih akan menindaklanjuti dengan membawa hasil tersebut ke dokter keluarga melalui BPJS Kesehatan.
“Saya mau konsultasi sama dokter keluarga di BPJS dulu,” tuturnya.
Karyawan yang bekerja di pabrik jamu itu, sengaja datang menjalani CKG itu bukan karena sedang merasa sakit. Ia datang untuk memastikan sesuatu yang pernah terjadi pada tubuhnya tidak diabaikan.
Kisah serupa dialami Eling Dwi Sumartiningsih, warga Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang. Selama ini perempuan berusia 51 tahun itu rutin memeriksa tekanan darah, kolesterol, dan asam urat melalui Posyandu lansia. Namun pemeriksaan yang lebih menyeluruh, termasuk USG payudara, belum pernah dijalaninya.
“Mumpung ini ada gratis dan pengen sehat aja. Pengin melihat kesehatan,” katanya yang sudah datang sejak pukul 07.30 WIB, Selasa (11/8/2026).
Setelah dua jam mengantre dan diperiksa pada pukul 09.30 WIB, hasil cek kesehatan membuat Eling lega. USG payudara, gula darah, dan sejumlah pemeriksaan lainnya menunjukkan hasil baik. Pengalaman berharga dan memuaskan itu mendorongnya berencana melakukan medical check-up bersama suaminya. Bagi Eling, pemeriksaan kesehatan bukan lagi sesuatu yang perlu dilakukan setelah tubuh memberikan tanda bahaya.
Tak menunggu sakit

Lusiana warga Tanah Mas, Kelurahan Panggung Lor, Kecamatan Semarang Utara mengikuti skrining kanker payudara dan cek kesehatan gratis (CKG) di Balai Kota Semarang, Selasa (11/8/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Kesadaran untuk memeriksa kesehatan sejak dini juga muncul dari kelompok usia muda. Mahasiswi Politeknik Negeri Semarang, Maharani Kusuma Wardani juga tidak mau ketinggalan mengikuti CKG di Balai Kota Semarang. Perempuan berusia 23 tahun itu ingin menjaga kesehatan dan aman dari penyakit sejak usia muda.
“Saat masih muda kadang kita enggak tahu ada apa-apa di dalam tubuh. Maka, mumpung masih muda lebih baik tahu lebih dulu,” ujarnya.
Sementara Silvia Nurul, warga Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang datang untuk mengecek USG payudara. Pemeriksaan tersebut merupakan pengalaman pertamanya. Perempuan berusia 30 tahun itu mengaku sempat merasa gugup sebelum pemeriksaan.
“Deg-degan jujur,” ungkapnya.
Namun, rasa khawatir itu berubah menjadi lega setelah mendapat penjelasan bahwa hasil pemeriksaan payudaranya aman dan tidak terlihat benjolan. Adapun, jika suatu saat hasil pemeriksaan mengharuskannya menjalani pemeriksaan lanjutan, Silvia mengaku bersedia membayar.
“Kalau untuk kesehatan, kalau misalnya ada yang perlu diperiksa lagi, lebih lanjut ya pasti mau. Namun, saya berharap pemeriksaan semacam ini dapat dilakukan secara rutin,’’ katanya.
Empat warga tersebut memiliki alasan berbeda untuk datang. Eling ingin mengetahui kondisi tubuhnya, Lusiana ingin memastikan benjolan yang pernah muncul tidak menyimpan masalah, Maharani ingin mengetahui kondisi kesehatan sejak muda, sementara Silvia memilih pencegahan meski tidak memiliki keluhan.
Mereka memiliki satu kesamaan, yaitu tidak menunggu sakit untuk memeriksa diri. Mereka memilih menjalani CKG sebagai pencegahan dini, dan sadar ingin mengobati penyakit hingga tuntas.
Kuota CKG membeludak

Ratusan perempuan mengikuti skrining kanker payudara dan cek kesehatan gratis (CKG) di Balai Kota Semarang, 10-12 Agustus 2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Antusiasme mereka sama dengan ribuan warga lainnya yang datang dan mengikuti CKG selama tiga hari, Senin-Rabu (10-12/8/2026), di Balai Kota Semarang. Kondisi itu mendorong Dinas Kesehatan Kota Semarang harus menambah kuota CKG, yang semula menyediakan kuota 300 peserta per hari, harus ditambah lagi 50 kuota per hari.
‘’Alhamdulilah total peserta CKG dalam tiga hari ini lebih dari yang kami targetkan. Secara keseluruhan peserta yang kami layani dalam CKG di Balai Kota Semarang tiga hari ini sebanyak 1.117 orang. Adapun, rincian peserta per harinya, hari pertama Senin (10/8/2026) sebanyak 354 orang , hari kedua Selasa (11/8/2026) ada 379 orang, dan hari ketiga Rabu (12/8/2026) mencapai 384 orang,’’ terang Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapat sejumlah pemeriksaan, mulai dari skrining payudara, pemeriksaan leher rahim, foto dada menggunakan X-ray, pemeriksaan darah hingga konsultasi dengan dokter spesialis.
Dinkes juga melibatkan dokter spesialis obstetri dan ginekologi, bedah, serta radiologi untuk membantu penanganan lebih lanjut apabila ditemukan masalah kesehatan.
Kanker payudara jadi alarm

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng memantau pelaksanaan skrining kanker payudara dan cek kesehatan gratis (CKG) di Balai Kota Semarang, 10-12 Agustus 2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Menurut Hakam, percepatan CKG penting karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahui kondisi kesehatannya hingga penyakit berkembang lebih jauh.
Untuk di Kota Semarang, kanker payudara menjadi salah satu perhatian utama. Hakam menyebut kanker payudara menempati posisi pertama kasus kanker di Ibu Kota Jawa Tengah, disusul kanker serviks.
“Kanker payudara di Kota Semarang itu nomor satu, nomor dua kanker serviks,” ungkapnya.
Maka itu, skrining kanker payudara dan kanker leher rahim menjadi bagian penting dalam kegiatan CKG kali ini.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang, kasus kanker payudara menunjukkan tren peningkatan dalam enam tahun terakhir melalui pemeriksaan dengan metode yang sama, yaitu SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis).
Tercatat pada 2020 terdapat 459 kasus, meningkat menjadi 512 kasus pada 2021, 590 kasus pada 2022, 690 kasus pada 2023, 768 kasus pada 2024, dan mencapai 812 kasus pada 2025. Sementara per 12 Agustus tahun 2026, tercatat ada 767 kasus dan datanya masih berjalan.
‘’Jika dilihat perkembangannya dari tahun ke tahun, rata-rata terjadi peningkatan sekitar 12,2 persen per tahun. Jadi memang terlihat adanya peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun, dan ini menjadi perhatian kami untuk terus memperkuat deteksi dini dan tindak lanjut,’’ terang Hakam.
Sedangkan untuk kasus kanker serviks di Kota Semarang, data menunjukkan bahwa pada tahun 2020 tercatat 130 kasus, kemudian menurun menjadi 117 kasus pada 2021, lalu 103 kasus pada 2022. Selanjutnya, mulai tahun 2023 terlihat peningkatan, yaitu menjadi 131 kasus, kemudian 156 kasus pada 2024 dan mencapai 170 kasus pada 2025. Sementara pada tahun 2026 saat ini tercatat 112 kasus dan datanya masih berjalan.
Hakam menjelaskan, kenaikan kasus kanker serviks mulai tahun 2023 perlu dilihat dalam konteks perkembangan metode skrining. Sejak tahun tersebut, skrining kanker serviks tidak hanya menggunakan metode IVA, tetapi juga berkembang dengan pemeriksaan HPV DNA.
‘’Dengan cakupan dan metode deteksi yang semakin baik, semakin banyak kasus atau kelainan yang dapat ditemukan, sehingga angka temuan juga meningkat. Jadi, kenaikan angka tersebut tidak serta-merta dapat diartikan sebagai peningkatan kejadian penyakit, tetapi juga menunjukkan semakin baiknya upaya deteksi dini kanker serviks di Kota Semarang,’’ katanya.
Dengan demikian, data tersebut memperlihatkan alasan mengapa pemeriksaan dini penting dilakukan, terutama untuk penyakit yang dapat berkembang tanpa gejala jelas pada tahap awal. Kesadaran itulah yang coba dibangun Pemerintah Kota Semarang melalui CKG. Bukan semata untuk mengejar jumlah peserta, tetapi karena deteksi dini dipandang sebagai cara mencegah penyakit menjadi kronis sekaligus menekan beban biaya pengobatan.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengatakan, sasaran utama kegiatan kali ini adalah perempuan, terutama kelompok rentan. Salah satu pemeriksaan yang menjadi perhatian adalah skrining kanker payudara.
Menurutnya, pemeriksaan tersebut penting karena kanker payudara kerap dianggap sepele hingga akhirnya diketahui ketika sudah berada pada stadium berat.
“Skrining kanker payudara yang biasanya para perempuan menggampangkan. Nanti kalau terdeteksi tiba-tiba sudah dalam stadium yang cukup berat,” katanya saat memantau kegiatan CKG, Selasa (11/8/2026).
Maka itu, Pemkot Semarang membuka kesempatan bagi perempuan untuk memeriksakan diri tanpa harus terlebih dahulu merasakan keluhan. Selanjutnya, jika dalam pemeriksaan hasilnya ditemukan memiliki masalah kesehatan akan mendapatkan tindak lanjut.
Agustina mengatakan, jika membutuhkan penanganan rumah sakit, pemerintah akan memanfaatkan layanan Universal Health Coverage (UHC) sehingga pasien tetap dapat memperoleh perawatan tanpa harus terbebani biaya.
“Kalau misalnya ditemukan (kasus, red) nanti akan langsung ada follow-up. Follow-up-nya di rumah sakit, kalau bisa di rumah sakit kita dengan menggunakan UHC sehingga free from charge. Sehingga, hasil temuan dari skrining tidak akan dibiarkan berhenti sebagai angka atau catatan medis,” katanya.
Temuan penyakit dan penanganannya

Ratusan perempuan mengikuti skrining kanker payudara dan cek kesehatan gratis (CKG) di Balai Kota Semarang, 10-12 Agustus 2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Sementara terkait cakupan pemeriksaan kesehatan masyarakat melalui CKG, lebih lanjut Hakam menerangkan, pihaknya menargetkan sekitar 80 persen masyarakat Kota Semarang mengikuti CKG. Menurutnya, kegiatan jemput bola seperti ini menjadi penting untuk mempercepat cakupan tersebut.
“Harapannya kami punya target 80 persen masyarakat Kota Semarang harus bisa melaksanakan cek kesehatan gratis,” ujarnya.
Untuk diketahui, cakupan CKG Kota Semarang per 12 Agustus 2026 pukul 15.00 WIB, telah mencapai 707.382 peserta atau 40,74 persen dari total sasaran sebanyak 1.389.028 orang.
Kemudian, berdasarkan seluruh hasil skrining kesehatan melalui CKG yang tercatat, ada sekitar 709 temuan kasus atau kelainan selama tiga hari ini. Angka tersebut merupakan akumulasi temuan pada masing-masing layanan, sehingga satu orang dapat memiliki lebih dari satu temuan.
Temuan yang paling banyak adalah hipertensi (HT) sebanyak 174 kasus, dislipidemia/kolesterol sebanyak 111 kasus, dan kelainan refraksi mata sebanyak 136 kasus. Dari hasil skrining itu ada sekitar 160 kasus memerlukan tindak lanjut atau rujukan. Dari jumlah tersebut, 74 kasus secara langsung tercatat perlu tindak lanjut, yaitu 55 kasus dari layanan gigi dan 19 kasus dari layanan USG payudara.
Sementara, sekitar 88 kasus lainnya merupakan temuan abnormal yang berpotensi memerlukan pemeriksaan lanjutan, seperti benjolan payudara, hasil skrining serviks abnormal, suspek TB, kelainan hasil X-ray, serta beberapa kelainan gigi dengan total angka sebanyak 160 kasus.
Hakam memastikan, peserta yang ditemukan memiliki masalah kesehatan akan mendapatkan tata laksana. Jika tidak dapat ditangani di puskesmas, pasien akan dirujuk ke rumah sakit.
“Hasil positif ada benjolan, ada positif pemeriksaan leher rahimnya, itu pasti langsung dilakukan tata laksana. Kalau tidak bisa di puskesmas, nanti pasti akan dirujuk ke rumah sakit,” katanya.
Sesuai mekanisme, seluruh peserta yang telah mengikuti pemeriksaan, data diri dan hasil pemeriksaannya, sudah diinput dan terintegrasi dalam sistem ASIK (Aplikasi Sehat Indonesiaku). Sehingga, Puskesmas dapat langsung melihat hasil pemeriksaan dan melakukan tindak lanjut sesuai temuan. Maka, tidak berhenti pada tahap skrining, tetapi hasil pemeriksaannya dapat langsung ditindaklanjuti baik itu rujukan atau pemberian obat-obatan yang dibutuhkan seperti obat hipertensi, kolesterol dan diabetes melitus.
Untuk pemeriksaan atau penanganan lanjutan, peserta dapat mengikuti mekanisme rujukan melalui BPJS Kesehatan sesuai indikasi medis dan ketentuan yang berlaku. Kemudian, apabila hasil pemeriksaan membutuhkan rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan, pembiayaannya dapat ditanggung melalui kepesertaan BPJS Kesehatan.
Pola tersebut sejalan dengan arah CKG nasional pada 2026. Kementerian Kesehatan menegaskan CKG kini tidak hanya diarahkan untuk menemukan penyakit, tetapi juga memastikan masyarakat yang terdiagnosis mendapat penanganan.
Pemerintah bahkan menetapkan pengobatan gratis selama 15 hari pertama bagi masyarakat yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan melalui CKG. Petunjuk teknis CKG 2026 juga menegaskan program ini dilaksanakan untuk mencegah dan menangani faktor risiko, kondisi pra-penyakit, serta penyakit secara dini.
Pencegahan penyakit dimulai dari hal sederhana

Ratusan perempuan mengikuti skrining kanker payudara dan cek kesehatan gratis (CKG) di Balai Kota Semarang, 10-12 Agustus 2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Hakam menambahkan, CKG ini menjadi salah satu upaya untuk mendorong perubahan pola pikir masyarakat dari yang sebelumnya lebih banyak datang ketika sudah sakit, menjadi lebih aktif melakukan pemeriksaan dan deteksi dini.
‘’Melalui CKG, masyarakat diajak mengetahui kondisi kesehatannya sejak awal, termasuk faktor risiko dan penyakit yang belum menimbulkan gejala. Dengan begitu, intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan diharapkan beban penyakit serta komplikasi dapat dicegah,’’ tandasnya.
Seperti Eling, ia datang karena ingin tahu seberapa sehat dirinya. Lusiana datang karena tak ingin mengabaikan riwayat benjolan di payudaranya. Maharani datang karena merasa usia muda bukan jaminan bebas penyakit. Silvia datang karena ingin memastikan tubuhnya baik-baik saja meski tak merasakan keluhan.
Mereka menunjukkan bahwa pencegahan bisa dimulai dari hal sederhana, yakni memilih datang dan memeriksakan diri ketika tubuh masih terasa sehat. Sebab, penyakit tidak selalu datang dengan rasa sakit. Kadang ia muncul sebagai angka kolesterol yang sedikit meningkat. Kadang sebagai benjolan yang sudah menghilang. Kadang bahkan belum menunjukkan tanda apa pun. Dan sebelum tubuh benar-benar berteriak, CKG memberi kesempatan untuk mendengarkan lebih awal.




















