Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Tanda Restoran Jorok yang Wajib Dihindari Meski Antreannya Panjang dan Viral
Ilustrasi tempat sampah. IDN Times/Asrhawi Muin
  • Antrean panjang dan popularitas media sosial tidak menjamin kebersihan restoran atau kualitas bahan makanan yang digunakan.
  • Tanda restoran tidak higienis meliputi serangga, kain lap dekil, lantai lengket, peralatan berminyak, staf kurang bersih, serta tempat sampah terbuka dekat area makan.
  • Pelanggan disarankan memeriksa toilet atau wastafel sebelum memesan; kondisi area cuci tangan dinilai mencerminkan standar sanitasi dapur.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Restoran yang ramai belum tentu bersih. Kita harus lihat dulu ada lalat atau kecoak, kain lap hitam, wastafel kotor tanpa sabun, dan lantai lengket. Kita juga lihat pelayan, piring, sendok, dan tempat sampah. Kalau banyak yang kotor, lebih baik jangan makan di sana.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sering tergiur ulasan viral di media sosial sampai rela antre berjam-jam demi mencoba makanan kekinian? Banyak orang berasumsi bahwa restoran yang super ramai pasti higienis dan menggunakan bahan segar setiap harinya. Kenyataannya, popularitas sebuah tempat makan tidak selalu sejalan dengan standar kebersihan dapur yang mereka terapkan.

Demi melindungi pencernaan dari risiko keracunan makanan atau infeksi bakteri ganas, kamu harus lebih jeli saat berwisata kuliner. Sekilas apa pun godaan antreannya, segera putar balik jika menemukan deretan ciri kasat mata restoran jorok berikut ini!

1. Munculnya Lalat Hijau dan Serangga Berkeliaran Bebas

Larva lalat hijau bantu bersihkan luka infeksi (commons.wikimedia.org/AfroBrazilian)

Melihat satu atau dua lalat buah beterbangan mungkin masih bisa dimaklumi, tetapi kemunculan lalat hijau besar (blowflies) atau kecoak di sekitar meja makan adalah lampu merah. Serangga jenis ini hanya berkembang biak di area membusuk, seperti tumpukan sampah basah atau bangkai. Jika area depan saja sudah dipenuhi lalat, kondisi sanitasi dapur pasti jauh lebih mengerikan.

2. Pemakaian Kain Lap Dekil untuk Segala Keperluan

ilustrasi kain lap (pixabay.com/congerdesign)

Perhatikan cara pramusaji membersihkan meja setelah pelanggan pergi. Kain lap yang sudah berubah warna menjadi kehitaman, berminyak, dan memicu bau apek merupakan sarang utama bakteri E. coli. Risiko penyakit makin tinggi jika kain yang sama dipakai untuk menyeka meja, nampan, hingga tangan pelayan tanpa dibilas cairan disinfektan.

3. Wastafel Kotor Tanpa Fasilitas Sabun Cuci Tangan

Ilustrasi wastafel kotor. (IDN Times / Ayu Afria)

Wastafel merupakan cerminan utama kepedulian restoran terhadap sanitasi. Apabila fasilitas publiknya saja dibiarkan berlumut, keran berkarat, tidak menyediakan sabun cuci tangan, dan tempat sampahnya meluap, ini pertanda sangat buruk. Millennials bisa membayangkan sendiri betapa semrawutnya area pencucian piring di dalam dapur yang tak tersentuh pandangan pelanggan.

4. Lantai Terasa Lengket Lengkap dengan Sudut Penuh Debu

ilustrasi mengepel lantai (freepik.com/freepik)

Jangan cuma fokus mengecek kebersihan di atas meja, perhatikan juga area bawahnya. Lantai yang terasa lengket saat diinjak atau sudut ruangan yang menumpuk sisa makanan mengering menandakan pengelola tidak pernah melakukan deep cleaning. Mereka biasanya hanya membersihkan bagian tengah yang terlihat sekilas saja demi memenuhi estetika visual.

5. Standar Kebersihan Pramusaji yang Jauh dari Kata Layak

ilustrasi seorang pramusaji (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Kuman paling cepat menyebar lewat jalur kontaminasi silang dari para pekerja. Amati penampilan staf, mulai dari kuku panjang kehitaman hingga celemek yang dipenuhi noda minyak menahun. Kebiasaan menyentuh wajah, rambut, atau uang tunai lalu langsung memegang piring bersih tanpa mencuci tangan adalah bukti nyata buruknya pelatihan sanitasi staf.

6. Peralatan Makan Terasa Berminyak dan Banyak Goresan

ilustrasi sendok garpu (pexels.com/@hermaion)

Lakukan inspeksi kilat pada gelas dan sendok sebelum mulai menyantap hidangan. Segera batalkan pesanan jika gelas masih meninggalkan bekas noda bibir, sendok terasa berminyak, atau piring plastik dipenuhi goresan hitam yang dalam. Celah goresan tersebut merupakan sarang favorit bagi bakteri untuk bersembunyi dan berkembang biak secara masif.

7. Tempat Sampah Terbuka Tepat di Sebelah Meja Makan

ilustrasi tempat sampah (magnific.com/jannoon028)

Restoran yang sadar higienitas pasti menempatkan tempat sampah besar jauh dari jangkauan area makan konsumen. Kalau ada tong sampah terbuka penuh sisa makanan diletakkan di jalur lalu-lalang pramusaji, bau busuknya bisa langsung merusak selera makan. Parahnya lagi, kondisi ini menjadi undangan terbuka bagi tikus dan hewan pengerat lainnya untuk ikut berpesta.

Kunci aman saat kulineran adalah mencoba melipir ke toilet atau wastafel terlebih dahulu sebelum memesan makanan. Tingkat kebersihan area cuci tangan tersebut hampir 90% akurat dalam menggambarkan bagaimana pemiliknya memperlakukan higienitas dapurnya.

Apakah kamu pernah menemukan restoran viral tapi kebersihannya justru bikin illfeel dan batal makan? Bagikan cerita dan pengalaman serumu di kolom komentar!

Curated For You

Editorial Team

Related Article