AJI Kecam Pelecehan Seksual di Lokasi Kampanye Simpang Lima Semarang

Semarang, IDN Times - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang mengecam aksi pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh ajudan petinggi partai terhadap seorang jurnalis perempuan di Kota Semarang.
Divisi Gender, Anak, dan Kelompok Marginal AJI Kota Semarang, Riska Farasonalia menyatakan bahwa pelecehan seksual dan serangan terhadap jurnalis di Semarang harus ditindaklanjuti.
"Kami percaya bahwa tindakan pelaku ini merupakan bentuk penghalangan terhadap kegiatan jurnalistik. Intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis tidak dapat diterima sesuai dengan Undang-Undang Pers," katanya.
Selain itu, perbuatan pelaku juga melanggar Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.
"Kami mengajak semua pihak untuk menentang segala bentuk pelecehan seksual dan melindungi pekerjaan jurnalis. Pelaku harus dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku agar kejadian serupa tidak terulang," tambahnya.
AJI Semarang juga menekankan agar perusahaan media memberikan dukungan penuh kepada korban.
"Perusahaan media memiliki tanggung jawab atas keselamatan jurnalisnya, termasuk memberikan pendampingan kepada mereka yang menjadi korban kekerasan," ujarnya.
Selain itu, kepolisian harus menindak tegas pelaku pelecehan seksual. Serta penyelenggara harus bertanggung jawab memberikan ruang aman dari tindakan pelecehan seksual.
Kejadian kekerasan terhadap jurnalis perempuan di Semarang ini menambah panjang daftar kasus serupa di Indonesia.
Survei Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bersama Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2M) mencatat sebanyak 82,6 persen atau 704 responden perempuan jurnalis pernah mengalami kekerasan seksual selama berkarir jurnalistik.
Ada 10 jenis tindak kekerasan seksual terhadap perempuan jurnalis, dan paling tinggi adalah body shaming secara luring 58,9 persen dan daring 48,6 persen. Dalam riset berjudul "Kekerasan Seksual terhadap Jurnalis Perempuan Indonesia" menyurvei 852 jurnalis perempuan di 34 provinsi pada September--Oktober 2022.
Untuk diketahui, seorang jurnalis perempuan diduga menjadi korban pelecehan seksual meliput kampanye pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD di Lapangan Simpang Lima Semarang, Sabtu (10/2/2024). Pelaku diduga merupakan ajudan petinggi PDI Perjuangan. Pasalnya, mengenakan seragam, earphone, lengkap dengan handy talky.
Awal mula peristiwa tersebut terjadi saat Ketua DPP PDIP, Puan Maharani mengajak swafoto bersama sejumlah jurnalis.
"Korban (saat itu) ada di belakang Bu Puan," kata teman korban, Intan, yang juga sesama jurnalis di lokasi kejadian.
Terduga pelaku kemudian meminta para jurnalis menyingkir. Namun, orang tersebut juga memegang kemaluan korban.
Menerima pelecehan tersebut, korban terdiam dan terpaku tak langsung meresponsnya. Bahkan, aksi pelaku tersebut tak hanya dilakukan sekali.
"Kedua kali dia megang lagi di tempat yang sama," ucap Intan.
Korban lantas berteriak setelah mendapat pelecehan yang kedua kalinya hingga pelaku melarikan diri.
"Orangnya langsung pergi," akunya.



















