Banyumas, IDN Times - Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Banyumas mendeteksi persoalan stunting yang dialami anak-anak di wilayahnya karena faktor kompleks. Salah satunya saluran sanitasi dan penyediaan air bersih di tiap desa.
Kepala Bapperida Kabupaten Banyumas Dedy Noerhasan, mengatakan penanganan stunting tak cuma dari sektor kesehatan. Melainkan memerlukan banyak faktor. Mulai sanitasi, akses air bersih, kondisi rumah, hingga perilaku keluarga sehari-hari.
Di samping itu, keterlibatan ayah menjadi salah satu kunci penting dalam pencegahan stunting.
"Berbicara stunting tidak hanya Dinas Kesehatan saja, kalau dari rujukan Kementerian Kesehatan, sekitar 60-70 persen faktor stunting dari sanitasi dan air bersih. Jadi kita tidak hanya fokus di urusan gizi dan lain sebagainya," paparnya kepada wartawan belum lama ini.
Di tiap lokasi dirinya juga mendapati perilaku berbahaya yang mana banyak rumah tangga, sumur, sumber air bersih, dapur, dan kamar mandi atau WC dibangun dalam satu titik yang sama.
“Ibu-ibu ingin dari kamar mandi, dari dapur, nyuci, jadi satu. Satu titik. Ini yang kita temukan di lapangan. Jangan-jangan ini juga penyebab kenapa angka stunting enggak turun-turun,” akunya.
Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), prevalensi stunting Banyumas mulai bergerak turun. Contohnya stunting tahun 2024 menurun dari 14,52 persen menjadi 13,64 persen pada 2025. Sementara dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting juga turun dari 20,9 persen pada 2023 menjadi 19,6 persen pada 2024.
Sedangkan, Data Tim Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Banyumas menunjukkan, dari 14.274 balita yang terdiagnosis stunting, sebanyak 10.578 balita atau 74 persen di antaranya terpapar asap rokok di dalam rumah.
Walau begitu, pihaknya mendorong peran aktif pada bapak bapak di Banyumas.
