Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bukan Banjir, Ini Bencana yang Sering Terjadi di Kota Semarang

Ilustrasi tanah longsor. (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi tanah longsor. (IDN Times/Aditya Pratama)
Intinya sih...
  • BPBD Kota Semarang mencatat bencana yang sering terjadi di Ibu Kota Jawa Tengah bukan banjir.
  • Bencana yang mendominasi adalah tanah longsor.
  • Tanah longsor menjadi bencana utama yang perlu diwaspadai di Kota Semarang.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mencatat bencana yang sering terjadi di Ibu Kota Jawa Tengah sepanjang tahun 2025 bukan banjir. Adapun, bencana yang mendominasi adalah tanah longsor

1. Ada 160 kejadian tanah longsor

Ilustrasi tanah longsor (Dok. BNPB)
Ilustrasi tanah longsor (Dok. BNPB)

Berdasarkan data dari 418 kejadian bencana di Kota Semarang pada tahun 2025, ada 160 kejadian tanah longsor. Kemudian, kejadian bencana lainnya antara lain rumah roboh sebanyak 79 kejadian, kebakaran 69 kejadian, puting beliung 47 kejadian, banjir dan rob 30 kejadian, dan pohon tumbang 27 kejadian.

Dari total jumlah kejadian bencana terdapat 9 orang meninggal dunia dan 3.056 warga terdampak, mulai dari kerusakan rumah, terganggunya aktivitas sehari-hari, hingga hilangnya mata pencaharian sementara.

2. Kejadian terjadi di kecamatan dengan wilayah berbukit

Ilustrasi tanah longsor dan banjir (Dok. BNPB)
Ilustrasi tanah longsor dan banjir (Dok. BNPB)

Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto mengatakan, tanah longsor memang menjadi jenis bencana yang paling banyak terjadi di Kota Semarang.

‘’Ini karena sebagian wilayah Kota Semarang memiliki karakter berbukit-bukit dan rawan pergerakan tanah,’’ ungkapnya, Sabtu (17/1/2026).

Kejadian tanah longsor ini terjadi di wilayah yang termasuk Kawasan Rawan Bencana (KRB), terutama di Kecamatan seperti Candisari, Ngaliyan, Gajahmungkur, Tembalang, dan Gunungpati.

"Kondisi topografi kecamatan tersebut menanjak dipadukan dengan curah hujan tinggi, sehingga membuat daerah ini rentan terhadap longsor," terang Endro.

3. Warga diminta waspada terhadap cuaca ekstrem

Ilustrasi tanah longsor (ANTARA FOTO/Reno Esnir)
Ilustrasi tanah longsor (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Kemudian, bencana yang dominan selanjutnya adalah rumah roboh. Dari 79 kejadian, sekitar 40 rumah roboh akibat longsor, 27 rumah tertimpa pohon tumbang, dan sisanya karena bangunan sudah tua atau lapuk. Sebagian kecil rumah roboh juga disebabkan oleh puting beliung.

Menurut Endro, jumlah bencana pada tahun 2025 di Kota Semarang mengalami penurunan.

"Jumlahnya menurun dibandingkan tahun 2024 yang tercatat mencapai 488 kejadian bencana. Namun, memasuki tahun 2026 ini, kami tetap meminta agar warga tetap waspada terhadap cuaca ekstrem, apalagi beberapa waktu belakangan ini sering terjadi hujan lebat dan angin kencang,’’ tandasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dhana Kencana
EditorDhana Kencana
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More

Bukan Banjir, Ini Bencana yang Sering Terjadi di Kota Semarang

18 Jan 2026, 06:00 WIBNews