Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bukan Ngalor-Ngidul, Alasan Psikologis Jagongan Bengi di Angkringan Jadi Obat Stres
ilustrasi angkringan (pexels.com/Noval Gani)
  • Jagongan bengi di angkringan membantu pelepasan emosi negatif melalui obrolan santai tanpa penghakiman, membuat beban mental terasa lebih ringan.
  • Suasana egaliter di angkringan meniadakan sekat status sosial, menciptakan rasa aman dan menurunkan kecemasan sosial bagi siapa pun yang hadir.
  • Interaksi hangat dan suasana nyaman di angkringan memicu hormon kebahagiaan serta memberikan efek relaksasi alami yang menjaga kesehatan mental masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surakarta, IDN Times — Menghabiskan waktu malam Minggu di pertengahan bulan seperti Sabtu, 18 Juli 2026 ini memang paling pas dipakai untuk melepas penat setelah sepekan penuh dihantam rutinitas kerja, Lur. Bagi masyarakat di Jawa Tengah dan Yogyakarta, salah satu ritual malam hari yang paling populer dan tak pernah lekang oleh zaman adalah jagongan bengi (mengobrol malam hari) di angkringan atau wedangan.

Sambil menikmati sebungkus sego kucing, sate usus bakar, dan segelas wedang jahe hangat, obrolan bisa mengalir begitu saja sampai larut malam. Menariknya, aktivitas ini sering kali dianggap sebelah mata sebagai kegiatan membuang waktu atau sekadar ngobrol ngalor-ngidul tanpa arah. Padahal, jika dibedah dari kacamata sains, ada efek penyembuhan mental yang luar biasa di balik riuhnya suasana angkringan.

Bukan sulap bukan sihir, yuk bongkar alasan psikologis mengapa jagongan bengi di angkringan menjadi terapi stres terbaik bagi orang Jawa berikut ini, Lur!

1. Terjadinya Katarsis Emosional Tanpa Penghakiman

Penjual angkringan di daerah Ambarukmo, Sleman.(IDNTimes/Febriana Sinta)

Dalam dunia psikologi, ada istilah yang disebut katarsis, yaitu proses pelepasan emosi negatif, kecemasan, atau trauma yang terpendam di dalam diri melalui media tertentu.

Saat Sedulur duduk di angkringan dan mulai menceritakan keluh kesah—mulai dari cicilan rumah, masalah kerjaan, hingga politik—otak sedang melakukan pembersihan emosi.

Suasana angkringan yang santai membuat orang lain yang mendengarkan cenderung memberikan respons berupa guyonan ringan atau validasi emosi, bukan penghakiman moral yang berat. Hal ini membuat seseorang merasa didengarkan dan bebannya berkurang drastis setelah pulang dari wedangan.

2. Ruang Aman Tanpa Sekat dan Status Sosial atau Social Equality

Ilustrasi angkringan (pexels.com/Fitria Nunik)

Salah satu keunikan utama dari angkringan adalah strukturnya yang sangat demokratis. Di atas kursi kayu panjang atau tikar lesehan yang sama, sekat-sekat sosial keduniawian seketika runtuh.

Di angkringan, seorang bos perusahaan, buruh pabrik, mahasiswa, hingga sopir ojek online duduk berdampingan secara intim. Tidak ada protokoler formal atau tuntutan jaim (jaga imej).

Secara psikologis, ketiadaan sekat status ini menurunkan tingkat kecemasan sosial (social anxiety) seseorang. Jiwa kita merasa aman karena berada di lingkungan yang tidak menuntut kita untuk tampil sempurna atau pamer pencapaian hidup.

3. Pemenuhan Kebutuhan 'Srawung' dan Dukungan Sosial Organik

Ilustrasi angkringan di Jogja (Unsplash.com/Farel Yesha)

Manusia adalah makhluk sosial yang secara evolusi membutuhkan rasa memiliki kelompok agar kesehatan mentalnya terjaga. Dalam budaya Jawa, konsep ini erat kaitannya dengan istilah srawung (bersosialisasi secara aktif).

Jagongan bengi menciptakan sistem dukungan sosial (social support system) secara organik. Obrolan yang diselingi tawa dan candaan khas (gojekan) memicu otak melepaskan hormon endorfin dan oksitosin.

Hormon-hormon kebahagiaan ini bertugas sebagai penawar alami hormon kortisol (hormon stres) sekaligus memangkas perasaan kesepian yang sering melanda masyarakat modern di perkotaan.

4. Efek Relaksasi Sensorik dari Kehangatan Suasana Hygge ala Jawa

ilustrasi angkringan (pexels.com/Atlantic Ambience)

Pernahkah Sedulur merasa pikiran langsung tenang begitu mencium aroma arang yang membakar jahe atau melihat kepulan asap dari teko tembaga di gerobak angkringan? Itu bukan kebetulan, Lur.

Remang-remang lampu minyak atau bohlam kuning redup di angkringan dipadukan dengan kehangatan minuman tradisional secara psikologis merangsang sistem saraf parasimpatis untuk beristirahat dan mencerna (rest and digest).

Konsep kenyamanan sensorik ini mirip dengan budaya Hygge di Denmark, di mana suasana hangat dan bersahaja mampu menenangkan gelombang otak yang tegang menjadi lebih rileks dan damai.

Nah, itulah alasan ilmiah mengapa gerobak sederhana di pinggir jalan itu selalu sukses jadi tempat curhat dan penyembuh stres yang ampuh. Jadi, sudah punya agenda mau jagongan di angkringan mana malam Minggu ini, Lur? Jaga kesehatan mentalmu, nikmati hidangannya, dan salam hangat selalu, Sedulur!

Curated For You

Editorial Team

Related Article