Cilacap Punya Smart Dropbox, Nelayan Bisa Tukar Sampah Plastik ke BBM

- Pemerintah Kabupaten Cilacap bersama Konsorsium SOLUSI meluncurkan Smart Dropbox untuk mengatasi sampah plastik pesisir dan melibatkan komunitas nelayan agar lebih peduli terhadap kebersihan laut.
- Smart Dropbox memungkinkan nelayan menukar sampah plastik yang ditimbang menjadi saldo koperasi, lalu ditukarkan dengan subsidi Pertalite, sambil memperkuat kesadaran 3R dan pengelolaan darat-laut terintegrasi.
- Program ini akan dievaluasi lewat peningkatan partisipasi bank sampah dan nelayan, serta berpotensi diperluas melalui kompetisi antar desa dan kolaborasi publik-swasta-komunitas berbasis ekonomi sirkular.
Cilacap, IDN Times - Kabupaten Cilacap meluncurkan inovasi keren untuk atasi masalah sampah plastik di pesisir. Namanya Smart Dropbox, sistem pengumpulan sampah pintar yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Cilacap bersama Konsorsium SOLUSI, Jumat (17/7/2026).
Inisiatif ini melibatkan GIZ Indonesia, Landscape Alliance, Yayasan KEHATI, SNV Indonesia, serta didukung penuh oleh Bappenas dan Bappeda Kabupaten Cilacap. Tujuannya jelas, yakni mengajak komunitas nelayan mengelola sampah plastik sebelum mencemari laut.
1. Kenapa Cilacap butuh solusi dropbox?
Cilacap berada di peringkat kedua penghasil sampah plastik terbanyak di Jawa Tengah. Sampah plastik di kawasan pantai sangat mudah terbawa ombak dan masuk ke laut, terutama melalui aliran DAS Serayu. Hal ini mengancam ekosistem pesisir yang jadi sumber penghidupan ribuan nelayan.
Plt. Sekretaris Bappeda Kabupaten Cilacap, Iwan Hasan Ma’arif, mengatakan bahwa Cilacap memiliki tantangan soal sampah plastik terutama di Pantai akibat kurangnya kesadaran membuang sampah plastik.
"Kami menyambut baik inisiatif ini. Cilacap punya tantangan spesifik, sampah plastik mudah terbawa ke laut sebelum sempat dikelola. Smart Dropbox ini realistis karena ditempatkan dekat aktivitas nelayan sehari-hari,"katanya.
Smart Dropbox diuji coba di dua lokasi strategis Pantai Menganti dan Warung Pinggir Kali (WPK) Desa Bunton, tepat di pinggir pantai dan dekat Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
2. Begini cara kerjanya

Masyarakat dan nelayan tinggal memilah sampah plastik di Smart Dropbox yang berada dalam radius 300 meter dari lokasi aktivitas mereka. Sampah kemudian ditimbang dan nilainya diubah menjadi saldo tabungan kolektif melalui koperasi nelayan. Saldo itu bisa ditukarkan dengan subsidi Pertalite untuk bahan bakar melaut. Dua bank sampah yang terlibat adalah Bank Sampah Winong Sejati dan Bank Sampah Berkah Mandiri.
"Ketika komunitas nelayan memilah sampah di darat, mereka sekaligus menjaga laut yang jadi sumber penghidupannya. Ini bukti nyata pengelolaan bentang darat dan laut yang terintegrasi,"ujar Audrie Siahainenia, Program Manager SOLUSI di SNV kepada IDN Times.
Ditambahkan, peluncuran dropbox berangkat dari studi perubahan perilaku SNV tahun 2025 di Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, dan Bangka Belitung. Studi menemukan masalah utama seperti minimnya infrastruktur pemilahan sampah, rendahnya kesadaran 3R (Reduce, Reuse, Recycle), dan ketergantungan tinggi pada plastik sekali pakai. "Tanpa penanganan, sampah plastik dari darat terus mengalir ke laut dan merusak ekosistem,"tambahnya.
3. Target dan harapan ke depan
Keberhasilan program akan diukur dari bertambahnya nasabah bank sampah, volume sampah yang berhasil dikumpulkan, keaktifan nelayan yang terus memilah sampah, dan edukasi lingkungan yang dilakukan pengelola.
Kedepannya, program ini berpotensi diperluas menjadi kompetisi antar desa dan menarik lebih banyak partisipasi swasta melalui skema Public Private Community Partnership (PPCP). Berbagai dinas daerah, mulai dari Lingkungan Hidup, Kelautan dan Perikanan, Pariwisata, hingga Koperasi, ikut memantau jalannya program ini.
Disebutkan bahwa SOLUSI (Solusi Pengelolaan Lanskap Darat dan Laut Terpadu) adalah program kemitraan antara Pemerintah Indonesia melalui Bappenas dan Pemerintah Jerman via Inisiatif Iklim Internasional (IKI). Program ini fokus memperkuat ketahanan ekosistem dan mata pencaharian masyarakat pesisir di tengah perubahan iklim melalui pendekatan ekonomi sirkular dan kolaborasi pemerintah, swasta, dan masyarakat.





















