Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Perang WA Grup Jelang Rebo Wekasan, Cara Halus Respon Broadcast Parno

Kota Semarang
Perang WA Grup Jelang Rebo Wekasan, Cara Halus Respon Broadcast Parno
Ilustrasi memanfaatkan fitur broadcast (pexels.com/Vladislav Šmigelski)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Menjelang Rebo Wekasan, broadcast WhatsApp keluarga berisi kepanikan, klaim penolak bala, dan informasi tak jelas kerap memicu perdebatan antar-generasi.
  • Respons yang disarankan ialah memvalidasi niat baik pengirim sebelum memberi edukasi, lalu mengalihkan obrolan ke doa, sedekah, dan menjaga kesehatan.
  • Untuk mengoreksi informasi sensitif, sertakan rujukan lembaga tepercaya atau hubungi pengirim secara pribadi agar tidak mempermalukan mereka di grup.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semarang, IDN Times — Menjelang tradisi Rebo Wekasan di bulan Safar, suasana di grup WhatsApp keluarga biasanya mendadak memanas. Pesan berantai (broadcast) berisi narasi kepanikan (parno), peringatan marabahaya yang dilebih-lebihkan, hingga klaim penolak bala yang tidak jelas sumbernya kerap membanjiri obrolan.

Bagi generasi muda, membiarkan pesan hoaks atau panik berkeliaran rasanya gemas. Namun, merespons atau mengoreksinya secara frontal bisa dianggap tidak sopan, merusak suasana kekeluargaan, hingga bikin orang tua atau kerabat sepuh tersinggung.

Supaya kedamaian grup keluarga tetap terjaga, berikut 4 cara halus merespons broadcast parno Rebo Wekasan tanpa bikin orang tua sakit hati ala IDN Times. Yuk, simak biar gak ada musuhan di WA, Lur!

1. Gunakan Formula "Validasi Dulu, Edukasi Kemudian"

amanz-juIcqUyhmu0-unsplash.jpg
ilustrasi WhatsApp (Unsplash/Amanz)

Jangan langsung menghakimi atau menyalahkan isi pesan yang dikirim oleh orang tua.

Pahami bahwa orang tua menyebarkan broadcast tersebut umumnya karena rasa sayang dan kepedulian pada keselamatan keluarga.

"Matur nuun info dan pengingatnya nggih, Pak/Bu. Niatnya baik banget untuk saling menjaga. Tapi setelah dicek lagi, ternyata ada beberapa poin penjelasannya yang kurang tepat..."

2. Alihkan Isu ke Tindakan Positif yang Lebih Masuk Akal

ilustrasi aplikasi WhatsApp pada smartphone
ilustrasi aplikasi WhatsApp pada smartphone (pixabay.com/arivera)

Daripada berdebat soal mitos kesialan atau cerita mistis, arahkan fokus percakapan pada hal-hal positif dan bernilai ibadah.

Ajak keluarga untuk berfokus pada amalan umum yang dianjurkan, seperti bersedekah, berdoa memohon keselamatan, atau menjaga kesehatan.

"Daripada cemas mikirin mitosnya, mending hari ini kita perbanyak sedekah dan doa keselamatan bareng-bareng ya. Kebetulan cuaca lagi pancaroba, yuk tetap jaga fisik dan minum air putih yang cukup!"

3. Kirimkan Klasifikasi atau Artikel Resmi dari Sumber Terpercaya

ilustrasi aplikasi WhatsApp
ilustrasi aplikasi WhatsApp (pexels.com/Image Hunter)

Daripada memakai argumen pribadi yang berisiko memicu debat kusir, sertakan rujukan dari lembaga keagamaan atau medis resmi.

Kirimkan tangkapan layar atau tautan berita dari lembaga resmi (seperti fatwa/penjelasan MUI, NU, Muhammadiyah, atau rilis medis).

"Ini ada penjelasan adem dari para ulama/pihak kesehatan terkait Rebo Wekasan, izin berbagi nggih biar kita semua makin tenang dan mantap ibadahnya..."

4. Manfaatkan Jalur Pribadi (Japri) Jika Meneruskan Pesan Sensitif

ilustrasi logo aplikasi WhatsApp
ilustrasi logo aplikasi WhatsApp (pixabay.com/Webster2703)

Mengoreksi kesalahan orang tua di depan banyak anggota keluarga di grup umum bisa merusak harga diri (gengsi) mereka.

Jika isi broadcast sangat menyesatkan atau berpotensi bahaya (seperti ramuan obat liar), hubungi pengirim secara pribadi (japri).

Sampaikan alasanmu dengan sopan secara personal tanpa perlu memojokkan mereka di dalam grup keluarga.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More