Terbongkar! Alasan Sebenarnya Bulan Safar Sering Dianggap Sial oleh Wong Jowo

- Anggapan Safar sebagai bulan sial berakar dari mitos Arab pra-Islam tentang Hamah dan Safar, serta masa suku-suku meninggalkan rumah untuk berperang atau bepergian.
- Di Jawa, kepercayaan itu berakulturasi menjadi prinsip eling lan waspada dan ritual sosial-keagamaan, seperti membuat apem serta bersedekah, bukan sekadar memelihara ketakutan.
- Ajaran Islam menolak thiyarah atau kesialan pada Safar; hadis Bukhari-Muslim menegaskan semua bulan baik, sehingga hajat dan aktivitas tidak perlu dibayangi mitos.
Semarang, IDN Times — Dalam kalender Jawa maupun Hijriah, bulan Safar sering kali diperlakukan dengan penuh kehati-hatian oleh sebagian masyarakat tradisional Jawa (Wong Jowo). Tak sedikit orang tua zaman dulu yang melarang anak cucunya menggelar hajatan besar, seperti pernikahan atau pindah rumah, selama bulan ini karena dianggap membawa sial atau bencana (bala).
Stigma "bulan sial" ini bahkan melahirkan tradisi Rebo Wekasan sebagai bentuk amalan penolak bala di pekan terakhir bulan Safar. Namun, jika dibongkar dari sudut pandang sejarah, antropologi, dan ajaran Islam, benarkah Safar adalah bulan pembawa nasib buruk?
Berikut 3 alasan sebenarnya di balik mitos bulan Safar sebagai bulan sial bagi Wong Jowo ala IDN Times. Yuk, simak biar gak salah kaprah lagi, Lur!
1. Warisan Tradisi Arab Jahiliah yang Terserap ke Budaya Lokal

Anggapan bahwa Safar adalah bulan sial sebenarnya bukanlah produk murni dari kebudayaan Jawa, melainkan warisan mitos kuno masyarakat Arab Jahiliah sebelum datangnya Islam.
Mitos Burung Nahas dan Bencana: Masyarakat Arab pra-Islam percaya bahwa pada bulan Safar, ruh orang meninggal berubah menjadi burung hantu (Hamah) atau adanya cacing perut (Safar) yang merusak tubuh dan membawa kemalangan.
Asal-Usul Nama "Safar": Secara bahasa, safar berarti "kosong". Pada masa lalu, bulan ini menjadi waktu ketika suku-suku Arab meninggalkan rumah mereka hingga kosong untuk berperang atau bepergian jauh setelah berhentinya larangan berperang di bulan Muharram, yang sering kali berujung pada kerugian dan musibah perang.
2. Proses Akulturasi Budaya dan Kehati-hatian Orang Jawa

Saat ajaran Islam masuk ke Nusantara, tradisi dan kepercayaan tersebut mengalami proses penyaringan (akulturasi) oleh para ulama dan Wali Songo.
Prinsip Eling lan Waspada: Orang Jawa memiliki filosofi hidup yang sangat menjunjung tinggi kehati-hatian. Kepercayaan tentang diturunkannya cobaan pada bulan Safar dimaknai oleh para leluhur Jawa bukan untuk ditakuti secara mistis, melainkan sebagai pengingat agar manusia lebih introspeksi diri (eling) dan berhati-hati (waspada).
Pengalihan Menjadi Ritual Positif: Dibandingkan memelihara ketakutan, para penyebar agama di Tanah Jawa mengubah ketakutan tersebut menjadi momentum sosial-keagamaan, seperti tradisi membuat kue apem (simbol memohon ampunan) dan bersedekah kepada tetangga.
3. Pelurusan Syariat: Semua Bulan Adalah Baik

Dalam pandangan ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas masyarakat Jawa modern, anggapan bahwa ada bulan tertentu yang membawa sial (thiyarah) adalah pemahaman yang perlu diluruskan.
Penegasan Hadis: Rasulullah SAW secara tegas membantah mitos ini dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim: "Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada kesialan (thiyarah), tidak ada kesialan karena burung hantu (hamah), dan tidak ada kesialan pada bulan Safar."
Perubahan Cara Pandang: Saat ini, generasi muda Jawa semakin memahami bahwa tidak ada hari atau bulan yang buruk. Setiap masa adalah waktu yang baik untuk berbuat kebaikan, bekerja keras, dan menggelar hajat pernikahan tanpa perlu dibayang-bayangi ketakutan mistis.




![[WANSUS] Dari Pensiun Dini PLTU hingga PLTS Atap: Mengupas Sengkarut Bisnis Energi di Indonesia](https://image.idntimes.com/post/20251126/upload_dac0e8c81162d1e32b863a3061dc130e_00df1b11-74a1-4d6b-b0c0-5e5da9a0d779.jpg)

![[WANSUS] Blak-blakan KNEKS di Jateng: Kaus Kaki Halal sampai Wisata Ramah Muslim yang Diminati](https://image.idntimes.com/post/20260806/h8nbhi9ubk813x2ho8y25cdg4_34d3e394-98a2-4477-96b4-239429d4e65f_watermarked_idntimes-2.jpg)















