Sering ngerasa bingung cari tempat makan atau tempat liburan yang benar-benar terjamin kehalalannya pas lagi jalan-jalan santai? Atau kamu justru pelaku usaha yang pengin banget bisnisnya dilabeli halal tapi ngerasa prosesnya ribet?
4 Langkah Jitu Bikin Bisnis Syariah di Jawa Tengah Makin Cuan dan Berkah

Festival Jateng Syariah (FAJAR) 2026 yang diinisiasi oleh Bank Indonesia (BI) resmi digelar untuk mendongkrak literasi dan ekonomi syariah di Jawa Tengah.
Nggak cuma urusan sertifikasi halal buat makanan, kini sertifikasi juga merambah ke sektor fesyen, furnitur, hingga jasa distribusi biar pelaku UMKM makin punya daya saing tinggi.
Selain mendongkrak ekonomi, sinergi ini juga jadi amunisi kuat buat mewujudkan target besar menjadikan Jawa Tengah sebagai destinasi wisata ramah muslim favorit wisatawan mancanegara.
Jangan khawatir, semua keresahan itu kini perlahan mulai terjawab lewat gebrakan seru di dunia ekonomi syariah. Buat kamu yang penasaran gimana caranya bikin bisnis makin cuan sekaligus berkah, yuk intip keseruan dari acara Festival Jateng Syariah (FAJAR) 2026 berikut ini!
1. Literasi Dulu Biar Nggak Kudet

Kunci utama dari kesuksesan ekonomi syariah itu sebenarnya simpel banget, yaitu pemahaman alias literasi. Menurut Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, literasi adalah fondasi penting agar kita sebagai masyarakat nggak cuma asal ikut-ikutan, tapi benar-benar paham apa saja manfaat produk keuangan syariah.
Biar ilmu ini nggak cuma mentok di kalangan tertentu, Bank Indonesia bahkan sudah bergerak menggandeng para guru dan membentuk Sekolah Pelopor Ekonomi Syariah (SPES). Target utamanya jelas, yaitu menanamkan nilai-nilai syariah, budaya halal, hingga pengelolaan kantin sehat langsung dari bangku sekolah dasar hingga menengah atas di seluruh Jawa Tengah.
2. Rantai Pasok Halal yang Super Komplet

Ekonomi syariah nggak bakal jalan maksimal kalau cuma fokus di barang jadinya aja. Di sinilah pentingnya Halal Value Chain (HVC) alias rantai pasok halal yang menghubungkan proses dari hulu sampai ke hilir. Bank Indonesia bersama berbagai stakeholder terus memastikan kelancaran ekosistem ini secara menyeluruh.
Mulai dari mendampingi sertifikasi halal buat puluhan rumah potong hewan, melatih juru sembelih bersertifikat (Juleha), hingga memperluas jangkauan sertifikasi ke sektor barang gunaan seperti kain batik dan mebel kayu khas Jepara. Hasilnya, para pelaku usaha lokal jadi makin percaya diri buat bersaing di pasar yang lebih luas.
"Pengembangan ekonomi syariah itu nggak boleh berhenti cuma di produk akhir yang berlabel halal saja. Kita harus membangun keterhubungan dari hulu hingga hilir, mulai dari produksi, pembiayaan, distribusi, sampai pemasaran. Kalau ekosistem ini sudah terbentuk, daya saing pelaku usaha kita pasti naik kelas dan manfaat ekonominya bakal jauh lebih luas dirasakan masyarakat," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Mohammad Noor Nugroho.
3. Masjid Jadi Pusat Perputaran Ekonomi

Kalau selama ini mikirnya masjid cuma buat tempat ibadah doang, sekarang saatnya mengubah pola pikir itu. Tempat ibadah ternyata punya potensi luar biasa besar untuk menjadi roda penggerak ekonomi warga sekitarnya.
"Saya mengajak ketua dewan masjid... untuk bersama-sama masjid itu punya usaha. Tujuannya apa sih? Tujuannya adalah keberlanjutan masjid tersebut... kesejahteraan yang ada di masjid itu benar-benar terkover," jelas Taj Yasin di Semarang.
Ia mencontohkan praktik sukses di Sragen di mana masjid menyewa lahan pertanian untuk dikelola, dan hasilnya digunakan untuk menggaji para pengurus, imam, hingga petugas azan. Praktik cerdas ini rencananya bakal ditiru dan disebarkan ke 35 kabupaten/kota lainnya di Jawa Tengah.
4. Bersiap Jadi Surga Wisata Ramah Muslim

Dengan semua persiapan dan ekosistem halal yang makin matang, Jawa Tengah kini punya mimpi besar di tahun 2027. Yakni menjadi destinasi pariwisata ramah muslim idaman. Taj yasin menyebutkan, banyak turis mancanegara, khususnya dari Timur Tengah, senang berkunjung ke Indonesia karena merasa nyaman dengan jaminan kehalalannya.
Salah satu jurus andalannya adalah mengembangkan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS) di berbagai pusat wisata. Bayangkan aja, kamu bisa jalan-jalan menikmati keindahan alam sambil kulineran tanpa perlu waswas soal kehalalan dan kebersihan makanannya. Asyik banget, kan?
"Jujur awalnya datang ke sini cuma mau hunting jajanan kuliner. Tapi pas mampir ke area booth Halal Experience, aku jadi benar-benar melek dan dikenalkan lebih dalam soal gaya hidup halal. Ternyata cakupannya luas banget, nggak cuma soal makanan, tapi sampai ke urusan fesyen dan cara bisnis yang berkah. Edukasinya benar-benar daging banget buat anak muda!," kata salah satu pengunjung FAJAR 2026 asal Semarang, Indri.
Jadi, memajukan ekonomi syariah itu butuh kerja bareng yang asyik dari semua pihak, dari mulai produsen, pemerintah, sampai kita sebagai konsumen. Semua langkah ini bukan sekadar mengejar tren, tapi benar-benar buat naikin kelas dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Nah, ngomong-ngomong soal wisata ramah muslim, daerah mana nih di Jawa Tengah yang menurutmu paling cocok buat dijadikan pilot project destinasi wisata halal terbaik? Tulis pendapatmu di kolom komentar, ya!,





















