Buruh Tani Wonogiri Tak Lagi Menumpang Berkat Rumah Bata Interlock

- Buruh tani Wonogiri, Isnano Dalhari Nuryanto, menerima rumah bata interlock dari Pemprov Jawa Tengah setelah sebelumnya tinggal menumpang bersama keluarga dan menanggung dua anak sekolah.
- Pada 2026, APBD Jawa Tengah menargetkan peningkatan kualitas 5.111 rumah tidak layak huni di 35 kabupaten/kota, termasuk 235 unit di Wonogiri.
- Bata interlock hasil kerja sama Pemprov Jateng dan PT Semen Indonesia menekan biaya rumah 30 meter persegi menjadi sekitar Rp60 juta serta mempercepat pembangunan hingga satu setengah bulan.
Wonogiri, IDN Times - Seorang buruh tani yang tinggal di Desa Jaten Kecamatan Selogiri Wonogiri memperoleh bantuan rumah berbahan baku bata merah interlock. Bantuan dari Pemprov Jawa Tengah ini dianggap bisa mengurangi angka backlog yang ada selama ini.
Isnano Dalhari Nuryanto, nama buruh tani tersebut mengakui senang saat diberi bantuan rumah bata interlock. Sebab selama ini ia dan keluarganya kerap nebeng.
Menurutnya bangunan rumah bata interlock cukup layak untuk ditempati. "Layak banget," katanya.
1. Isnano senang dapat bantuan rumah bata interlock

Isnano bersama anak dan istrinya berpose dengan Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen dengan latar rumah bata interlock. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng) Isnano saban harinya menjadi buruh tani. Ia kerap menerima upah dari menggarap sawah sekitar Rp1 juta-Rp2 juta per bulan.
Ia juga masih menanggung kebutuhan dua anaknya yang bersekolah.
Sebelum menerima bantuan, Isnano bersama keluarganya masih menumpang. Kini, rumah yang sebelumnya hanya menjadi harapan sudah berdiri dan siap ditempati keluarganya.
Bagi Isnano, bantuan tersebut bukan sekadar bangunan baru, tetapi kesempatan untuk memiliki tempat tinggal yang lebih layak bagi keluarganya.
2. Ratusan rumah di Wonogiri dapat bantuan RTLH

Penampakan rumah bata interlock milik Isnano di Selogiri Wonogiri. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng) Pihak Pemprov Jateng menuturkan pemberian bantuan rumah bata interlock hasil kerjasama dengan PT Semen Indonesia. Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya Pemprov Jateng menangani persoalan perumahan yang masih cukup besar. Pada 2026, intervensi APBD Jawa Tengah diarahkan untuk peningkatan kualitas 5.111 rumah tidak layak huni (RTLH) yang tersebar di 35 kabupaten/kota.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 235 unit berada di Kabupaten Wonogiri.
3. Penggunaan bata interlock percepat pembangunan

Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen memberikan keterangan kepada para wartawan. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng) Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen mengatakan dengan memakai bata interlock memungkinkan pembangunan rumah dilakukan dengan biaya yang lebih efisien. Rumah berukuran 30 meter persegi misalnya, dibangun dengan anggaran sekitar Rp60 juta.
“Kalau dihitung oleh tukang, biasanya satu meter persegi itu Rp3 juta. Berarti kalau 30 meter persegi habisnya Rp90 juta. Tetapi alhamdulillah pembangunan ini kita biayai dengan angka Rp60 juta,” kata Gus Yasin, Kamis (13/8/2026).
Selain menghemat biaya, penggunaan bata interlock juga mempercepat waktu pembangunan. Rumah tersebut dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu setengah bulan.
“Ini yang kita dorong untuk pemakaian, pengaplikasian khususnya untuk bantuan-bantuan rumah dari Pemprov Jawa Tengah,” ujarnya.
4. Gus Yasin berharap ada inovasi lagi untuk RTLH

Gus Yasin bersama pengusus Ponpes mengunjungi korban tanah gerak di Desa Padasari Tegal. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng) Pemprov Jateng selanjutnya akan mengevaluasi hasilnya sebelum memperluas penggunaan bata interlock pada pembangunan rumah bantuan di daerah lain.
Gus Yasin berharap, inovasi serupa dapat diterapkan pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah pusat, sehingga pembangunan rumah layak huni dapat dilakukan dengan biaya lebih ringan dan tidak semakin membebani penerima manfaat.






















