Semarang, IDN Times - Kota Semarang mulai memperkuat model pengasuhan anak usia dini berbasis layanan terpadu yang mengintegrasikan pendidikan, kesehatan, gizi, hingga perlindungan anak. Pendekatan ini tidak sekadar mengubah paradigma pengasuhan, tetapi juga untuk mencegah kasus kekerasan kepada anak di Ibu Kota Jawa Tengah.
Cegah Kasus Kekerasan, Semarang Terapkan Model Pengasuhan Anak Terpadu

- Kota Semarang memperkuat model pengasuhan anak usia dini berbasis layanan terpadu melalui konsep PAUD Holistik Integratif untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang dan mencegah kekerasan pada anak.
- Berbagai inisiatif seperti Rumah SIGAP, Rumah Pelita, dan Rumah Inspirasi dikembangkan untuk mendukung stimulasi, pencegahan stunting, serta pendidikan inklusif bagi sekitar 151 ribu anak usia dini di Semarang.
- Pemerintah menekankan pentingnya bermain sebagai proses belajar alami dan mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan agar tercipta ekosistem keluarga yang seimbang dan mendukung perkembangan anak.
1. Penguatan pengasuhan anak usia dini

Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan penguatan pengasuhan anak usia dini yang digelar Tanoto Foundation bersama Pemerintah Kota Semarang, komunitas, praktisi pendidikan, dan media, Jumat (26/6/2026).
Ketua TP PKK Kota Semarang, Lies Iswar Aminuddin mengatakan, pengembangan anak usia dini di Kota Semarang telah mengacu pada konsep PAUD Holistik Integratif (PAUD HI), yakni layanan yang menggabungkan aspek pendidikan, kesehatan, pemenuhan gizi, pengasuhan, hingga perlindungan anak secara berkelanjutan.
Model tersebut diperkuat melalui Peraturan Wali Kota Semarang Nomor 65 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif yang menjadi dasar pelaksanaan layanan di seluruh satuan pendidikan.
“Tujuan utamanya adalah memastikan seluruh kebutuhan tumbuh kembang anak terpenuhi sehingga kualitas sumber daya manusia dapat dibangun sejak usia dini,” ungkapnya.
Menurut Lies, implementasi kebijakan tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang menyasar kebutuhan anak berdasarkan tahap perkembangannya.
2. Rumah SIGAP berikan layanan stimulasi anak usia 0-3 tahun
Salah satunya adalah Rumah SIGAP yang memberikan layanan stimulasi bagi anak usia 0–3 tahun, periode yang dikenal sebagai masa paling penting dalam pembentukan jaringan otak.
Sementara, Rumah Pelita difungsikan sebagai pusat intervensi pencegahan stunting melalui pemantauan tumbuh kembang, edukasi keluarga, serta pendampingan pemenuhan gizi anak.
Selain itu, pemerintah juga mengembangkan Rumah Inspirasi sebagai ruang belajar inklusif bagi anak berkebutuhan khusus agar memperoleh kesempatan belajar yang setara.
Berdasarkan data Pemerintah Kota Semarang, saat ini terdapat sekitar 151 ribu anak usia dini yang didukung oleh sekitar 1.200 satuan PAUD yang tersebar di berbagai wilayah.
Tidak hanya mengandalkan lembaga pendidikan, Pemkot Semarang juga mulai memperluas ruang pengasuhan berbasis komunitas melalui program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya).
3. Bermain merupakan proses belajar anak

Program ini menghadirkan ruang bermain edukatif di taman-taman kota, seperti Taman Kedondong dan Taman Manyaran, yang memungkinkan anak bermain bersama orang tua maupun pengasuh.
Lies menegaskan, bermain merupakan bagian penting dalam proses belajar anak sehingga orang tua tidak perlu terburu-buru mengejar kemampuan akademik.
“Anak-anak usia dini tidak boleh dibebankan dan dituntut untuk belajar membaca dan berhitung,” tegasnya.
Ia menilai salah satu tantangan terbesar saat ini justru berasal dari pola pikir sebagian orang tua yang masih menganggap kemampuan calistung sebagai tolok ukur utama keberhasilan anak.
Maka itu, peningkatan literasi digital serta penguatan komunitas parenting dinilai menjadi langkah penting agar masyarakat memahami pengasuhan yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak.
4. Pengasuhan anak bukan hanya tanggung jawab ibu

Dalam kesempatan yang sama, fasilitator Tanoto Foundation yang merupakan pakar gender dari UIN Walisongo, Nur Hasyim mengingatkan, bahwa pengasuhan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu.
Menurutnya, keterlibatan ayah memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan emosional, rasa aman, hingga pembentukan karakter anak.
“Karena sosok ayah memberikan edukasi dan rasa aman bagi anak-anaknya,” ujarnya.
Ia menambahkan, ayah juga berperan dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini serta mendampingi anak menghadapi berbagai tantangan di lingkungan sosial.
Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan Tanoto Foundation, Kota Semarang berharap dapat membangun ekosistem pengasuhan yang lebih komprehensif sehingga setiap anak memperoleh stimulasi, perlindungan, dan kesempatan berkembang secara optimal sejak usia dini.

















