Surakarta, IDN Times – Lomba Gapura 2026 di Kota Surakarta memasuki tahap penilaian akhir. Dari lebih dari 180 gapura yang mengikuti kompetisi, sebanyak 10 gapura berhasil masuk sebagai finalis dan kini dinilai untuk menentukan karya terbaik.
10 Gapura Finalis di Solo Tampilkan Kreatif dan Identitas Budaya

- Lomba Gapura 2026 Surakarta memasuki penilaian akhir, dengan 10 finalis terpilih dari lebih 180 peserta untuk memperebutkan karya terbaik.
- Juri menilai kreativitas bentuk, detail ornamen, keserasian warna, lingkungan, dan identitas wilayah; motif batik, wayang, serta karakter Solo banyak dihadirkan.
- Karya gapura melibatkan seniman, pegiat budaya, dan gotong royong warga, sekaligus menyemarakkan HUT ke-81 RI serta menampilkan potensi budaya Solo.
Bukan sekadar permainan warna, setiap gapura finalis hadir dengan bentuk, ornamen, hingga konsep visual yang berbeda. Sejumlah warga bahkan memadukan unsur batik, wayang, serta karakter khas Kota Solo ke dalam desain gapura di lingkungan masing-masing.
Wakil Wali Kota Surakarta turut meninjau proses penilaian bersama Cat Weldon, salah satu pihak yang mendukung kegiatan tersebut. Ia mengaku kesulitan menentukan pilihan karena masing-masing finalis memiliki keunggulan tersendiri.
“Alhamdulillah sudah terpilih sepuluh besar yang hari ini kami melanjutkan penilaian. Bagus-bagus semua. Saya sampai bingung ini memilih yang mana menjadi pemenang,” ujarnya, Senin (10/8/2026).
1. Dari ornamen batik hingga karakter khas kampung

Wakil Walikota Solo, Astrid Widayani meninjau Lomba Gapura dalam rangka HUT ke-81 RI di Solo. (Dok/Istimewa) Penilaian terhadap 10 finalis tidak hanya mempertimbangkan kemeriahan warna. Dewan juri juga melihat detail bentuk, keserasian warna, keindahan lingkungan sekitar, serta kemampuan setiap gapura menampilkan karakter wilayahnya.
Perbedaan konsep terlihat dari bagaimana masyarakat menerjemahkan identitas kampung ke dalam bentuk visual. Ada gapura yang menonjolkan warna-warna pekat, sementara lainnya mengandalkan detail ornamen dan permainan motif.
Motif batik menjadi salah satu unsur yang cukup banyak ditemukan. Elemen tersebut dinilai mampu memperkuat identitas Solo sebagai kota budaya.
“Banyak yang sangat detail, kaitannya dengan motif-motif batik. Ini yang menjadi satu ciri khas Kota Solo, kota budaya, yang ternyata bisa ditampilkan melalui media tembok, melalui cat,” jelasnya.
2. Setiap gapura punya bentuk dan karakter berbeda

Wakil Walikota Solo, Astrid Widayani meninjau Lomba Gapura dalam rangka HUT ke-81 RI di Solo. (Dok/Istimewa) Keunikan Lomba Gapura 2026 tidak hanya terlihat dari hasil akhir, tetapi juga dari proses kreatif di balik pembuatannya. Setiap wilayah memiliki karakter visual yang berbeda sesuai dengan kreativitas masyarakat dan seniman yang terlibat.
Wakil Wali Kota mengatakan, terdapat gapura dengan karakter warna yang kuat, desain sangat detail, hingga karya yang melibatkan pembatik. Perbedaan tersebut membuat setiap gapura memiliki identitas tersendiri.
“Yang menarik bagi saya ternyata para seniman-seniman di Kota Solo yang tinggal di satu wilayah itu sangat kental memberikan gambaran ciri khas goresan warna-warna di gapuranya masing-masing. Ada yang konsepnya warna-warninya pekat, ada yang detail, bahkan ada pembatik juga,” ungkapnya.
Menurutnya, keberagaman bentuk tersebut menunjukkan bahwa gapura tidak hanya berfungsi sebagai penanda masuk sebuah wilayah. Dalam lomba ini, gapura berubah menjadi media ekspresi seni yang dapat menggambarkan karakter masyarakat di baliknya.
3. Gapura jadi ruang ekspresi seniman kampung

Wakil Walikota Solo, Astrid Widayani meninjau Lomba Gapura dalam rangka HUT ke-81 RI di Solo. (Dok/Istimewa) Keterlibatan seniman dan pegiat budaya dalam pembuatan gapura menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian. Kreativitas mereka berpadu dengan semangat gotong royong warga hingga menghasilkan karya yang bisa dinikmati masyarakat.
“Jadi saya lihat muncul banyak sekali seniman-seniman dan juga pegiat budaya yang ada di wilayah masing-masing yang hadir di sebuah karya besar ini. Itu yang menarik bagi saya,” katanya.
Ia berharap kegiatan seperti Lomba Gapura dapat terus digelar dan dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menyemarakkan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, lomba ini dinilai mampu menghidupkan kembali semangat kebersamaan di tingkat kampung.
Potensi budaya Solo juga diharapkan semakin banyak dituangkan dalam karya masyarakat, mulai dari batik, wayang, hingga berbagai destinasi dan ikon kota.
“Untuk kegiatan penyambut 17-an ini merupakan semangat bersama-sama untuk menggerakkan masyarakat lebih guyub, gotong royong, dan menunjukkan bahwa potensi Kota Solo mulai dari batik, wayang dan juga destinasi-destinasi yang ada di Kota Solo ini sudah patut untuk dimunculkan atau ditampilkan kepada masyarakat,” pungkasnya.
Sebanyak 10 finalis sebelumnya telah menyisihkan lebih dari 180 gapura yang mengikuti Lomba Gapura 2026. Setelah penilaian tahap akhir rampung, juri akan menentukan gapura terbaik yang dinilai tidak hanya dari kemeriahan tampilannya, tetapi juga kreativitas bentuk, detail ornamen, keserasian, serta kekuatan identitas budaya yang ditampilkan.




















