Cerita Febri, Milih Kerja di Jepang Daripada Gaji UMR di Tanah Air

- Febrina Gita Grahita, asal Samarinda, bekerja sebagai perawat lansia di Kanagawa, Jepang, dan membagikan kesehariannya lewat media sosial.
- Motivasi Febri merantau muncul setelah sulit mendapat pekerjaan layak di Indonesia dan ingin mewujudkan impian tinggal di luar negeri.
- Ia menghadapi tantangan seperti kendala bahasa, makanan halal, serta diskriminasi budaya, namun tetap menikmati hidup dan berharap memperpanjang kontrak kerja di Jepang.
Semarang, IDN Times - Dari balik layar telepon genggamnya, Febrina Gita Grahita membagikan cerita tentang pengalaman mencari tempat tinggal di Jepang. Pada konten video yang diunggah di media sosial pribadinya, perempuan asal Samarinda, Kalimantan Timur itu tengah menyewa apartemen untuk dia tinggal.
1. Bekerja sebagai perawat lansia

Tayangan itu diunggah Febri di Instagram pribadinya dan mendapat reaksi dari sejumlah pengikutnya yang ingin merasakan pengalaman seperti perempuan berusia 33 tahun itu. Ya, Febri memang kerap membuat konten-konten tentang Jepang di media sosial, tapi di Negeri Sakura sana ia bukan sedang berlibur. Gadis asal Samarinda, Kalimantan Timur itu merantau ke Jepang sebagai Pekerja Migran Indonesia beberapa tahun ini.
Febri bekerja sebagai caregiver atau perawat lansia di panti jompo di Kanagawa, Kantou, Jepang. Sehari-hari ia bertugas merawat lansia seperti menyuapi makan, memandikan, hingga memindahkan dari satu tempat ke tempat lain.
“Lansia di tempat saya bekerja kebanyakan lumpuh total dan sebagian pakai kursi roda. Jadi, kerjaan saya ya bantu seperti bangunin atau nidurin, lalu memindahkan pasien misalnya dari tempat tidur ke ruang TV,” tuturnya.
Bekerja di luar negeri baginya bukan sebuah kebetulan dan paksaan, tapi sebuah mimpi yang diperjuangkan dari sejak dulu duduk di bangku kuliah.
2. Cita-cita pengen tinggal di luar negeri

“Dari sejak zaman kuliah saya sudah punya cita-cita pengen tinggal di luar negeri. Namun, nggak dapat beasiswa, jadinya pengen kerja aja di luar negeri,” ungkapnya saat dihubungi IDN Times.
Keinginan merantau di negeri orang itu juga bukan tanpa sebab. Seusai lulus sebagai sarjana dari Universitas Mulawarman, Samarinda, Febri sempat lama menganggur. Lalu, sekali mendapat pekerjaan, kerja kerasnya dibayar dengan gaji di bawah UMR. Ketidakpuasan bekerja di Tanah Air itu menjadi motivasinya bekerja di negeri orang.
Ia pun bertekad untuk mengubah nasib dan mencari peluang bekerja di Jepang lewat lembaga penyalur. Tentu perjalanan dan perjuangan menuju ke negara impiannya itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Banyak tantangan yang dialami Febri. Pertama, ia harus mendapat restu orang tua untuk pergi bekerja ke Jepang
“Awalnya orang tua sempat khawatir karena saya gampang sakit, tapi karena keadaan juga ngeliat aku kelamaan jadi pengangguran akhirnya diizinkan,” ujarnya.
3. Hadapi diskriminasi budaya

Menurut Febri, banyak suka duka selama hidup di Jepang. Dukanya seperti harus jauh dari keluarga, makanannya kurang cocok, kesulitan cari bahan makanan halal, dan kendala bahasa.
“Karena tempatku tinggal dan bekerja agak jauh dari kota jadi ada beberapa kendala itu. Lalu, sebagian orang Jepang juga ada yang diskriminasi dalam hal budaya atau kebiasaan kami pekerja migran Indonesia, jadi itu menjadi kendala dalam berkomunikasi,” terangnya.
Kendati demikian, Febri tetap suka tinggal di Jepang karena banyak tempat bagus untuk dikunjungi saat ia libur dari bekerja. Ia pun berharap mendapat kesempatan memperpanjang waktu kerja di Jepang dari perjanjian kontrak lima tahun kerja di Negara Macan Asia itu.
“Ya, selain gaji yang lebih menjanjikan, saya ingin mendapat kesempatan bekerja di bidang lain seperti di perhotelan. Selain itu, saya tetap ingin bekerja di luar negeri ke Korea Selatan yang merupakan negara impian saya selain Jepang,” pungkasnya.
















