101 Tahun RSUD Banyumas, Jejak Era Kolonial ke Pusat Rujukan

RSUD Banyumas merayakan usia ke 101 dengan fokus memperkuat layanan penyakit kronis seperti talasemia dan meningkatkan perawatan bayi berisiko tinggi melalui berbagai kegiatan serta pengembangan fasilitas baru.
Rumah sakit ini melayani sekitar 600 pasien transfusi darah tiap bulan, menghadirkan perpustakaan mini bagi pasien, dan meresmikan Instalasi Maternal Perinatal tahap kedua untuk meningkatkan layanan neonatal.
Dari berdiri sejak era kolonial hingga kini berstatus BLUD terakreditasi paripurna, RSUD Banyumas terus berkembang menjadi pusat rujukan regional sekaligus rumah sakit pendidikan dan inovasi medis.
Banyumas, IDN Times - Lebih dari satu abad berdiri, RSUD Banyumas terus bertransformasi menjadi tulang punggung layanan kesehatan di wilayah Jawa Tengah bagian barat.
Memasuki usia ke 101 pada Rabu (30/4/2026), rumah sakit ini tak hanya merayakan sejarah panjangnya, tetapi juga menegaskan arah masa depan memperkuat layanan penyakit kronis seperti talasemia hingga meningkatkan perawatan bayi berisiko tinggi.
Momentum ulang tahun tersebut ditandai dengan serangkaian penguatan layanan, mulai dari kegiatan donor darah hingga peresmian ruang Instalasi Maternal Perinatal tahap kedua.
1. Ratusan pasien talasemia bergantung setiap bulan

Direktur RSUD Banyumas, dr. Widyana Grehastuti, menyoroti besarnya kebutuhan layanan transfusi darah sebagai tantangan utama. Menurutnya, pasien talasemia menjadi kelompok yang paling bergantung pada kesinambungan pasokan darah.
"Setiap bulan kami melayani kurang lebih 600 pasien, sekitar 300 pasien talasemia dari Banyumas, dan 300 lainnya dari daerah sekitar, rata rata satu pasien membutuhkan 2 sampai 3 kantong darah,"ujarnya kepada IDN Times.
Kondisi ini membuat RSUD Banyumas harus menjaga ketersediaan darah secara konsisten seperti aksi donor darah untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut. "Darah yang terkumpul diprioritaskan bagi pasien talasemia yang menjalani transfusi rutin,"tambahnya.
Tak hanya aspek medis, RSUD Banyumas juga mulai memperhatikan kualitas hidup pasien selama perawatan. Bekerja sama dengan ARPUSDA Banyumas, rumah sakit menghadirkan fasilitas literasi berupa perpustakaan mini dan akses digital di ruang perawatan.
'Kami sediakan sarana perpustakaan agar pasien tetap bisa membaca dan mengakses literasi digital selama menjalani perawatan,"tambahnya.
2. Ruang perawatan bayi berisiko kini lebih lengkap

Selain layanan talasemia, penguatan fasilitas juga dilakukan pada sektor maternal dan neonatal. RSUD Banyumas memilikj ruang Instalasi Maternal Perinatal tahap kedua yang berada di lantai dua gedung rumah sakit.
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menyebut fasilitas tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan bagi bayi baru lahir dengan kondisi khusus.
“Ruangan ini mampu menampung hingga 50 bayi dengan peralatan medis yang sudah lengkap,"ujarnya.
Ia berharap, penambahan fasilitas ini semakin mengukuhkan posisi RSUD Banyumas sebagai rumah sakit rujukan regional, tidak hanya bagi masyarakat Banyumas tetapi juga wilayah sekitarnya.
"Di usia 101 tahun ini, harapan saya RSUD Banyumas semakin berkualitas dan terus meningkatkan pelayanannya,"katanya.
3. Jejak panjang sejak era kolonial

Dilansir dari laman resmi RSUD Banyumas, didirikan pada awal abad ke 20, RSUD Banyumas memiliki sejarah panjang yang mencerminkan dinamika sistem kesehatan di Indonesia. Rumah sakit ini pertama kali berdiri dengan nama Juliana Burgerziekenhuis, diambil dari nama putri mahkota Belanda.
Pada masa awal operasionalnya, rumah sakit ini memiliki sekitar 110 tempat tidur. Namun, perpindahan ibu kota kabupaten ke Purwokerto pada 1935 sempat membuat kondisinya menurun. Masa pendudukan Jepang hingga awal kemerdekaan Indonesia turut mengubah struktur dan pengelolaannya.
Pasca kemerdekaan, RSUD Banyumas beberapa kali berpindah kewenangan, dari pemerintah daerah ke pusat, sebelum akhirnya kembali dikelola oleh pemerintah daerah.
Transformasi besar dimulai pada dekade 1990an dengan penerapan manajemen mutu dan peningkatan kelas rumah sakit secara bertahap, dari kelas D menjadi kelas B pendidikan. Kolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada memperkuat perannya sebagai rumah sakit pendidikan.
4. Pusat pendidikan dan inovasi medis

Perkembangan RSUD Banyumas terus berlanjut dengan berbagai pencapaian. Status Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) diperoleh pada 2008, diikuti akreditasi paripurna dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) pada 2019.
Dalam beberapa tahun terakhir, RSUD Banyumas juga mendapatkan pengakuan sebagai rumah sakit pendidikan satelit dan institusi pelatihan kesehatan terakreditasi A.
Kini, di bawah kepemimpinan dr. Widyana Grehastuti sejak Agustus 2025, RSUD Banyumas diarahkan untuk tidak hanya menjadi pusat layanan kesehatan, tetapi juga pusat pendidikan dan inovasi medis.
Di usia ke 101, tantangan ke depan tak lagi hanya soal kapasitas layanan, tetapi juga kualitas, inovasi, dan keberlanjutan sistem kesehatan. Mulai dari pasien talasemia yang membutuhkan transfusi rutin hingga bayi berisiko tinggi yang memerlukan perawatan intensif, semua menjadi bagian dari tanggung jawab besar yang kini dipikul RSUD Banyumas.
Dengan fondasi sejarah yang kuat dan arah pengembangan yang semakin jelas, RSUD Banyumas berupaya tetap relevan menjadi harapan bagi ribuan pasien yang datang setiap bulannya.

















