Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pelaku Ekonomi Kreatif Butuh Ruang? Begini Respons Gubernur Jateng

Pelaku Ekonomi Kreatif Butuh Ruang? Begini Respons Gubernur Jateng
ilustrasi kerajinan tangan (unsplash.com/Sigmund)
Share Article

Semarang, IDN Times - Sejumlah pelaku usaha ekonomi kreatif mengaku membutuhkan sejumlah akses pengembangan usaha agar tetap eksis di Jawa Tengah.

Saat acara Ngobrol Kreatif Gubernur Jawa Tengah dengan Pelaku Ekonomi Kreatif di Hotel Wahid Prime, Salatiga, salah satu pelaku kreatif asal Purbalingga, Santosa, menyampaikan kebutuhan tempat untuk ruang edukasi dan eksplorasi komunitas kreatif.

Sejumlah pelaku ekonomi kreatif menyampaikan kebutuhan penguatan sentra industri, showroom, ruang promosi, akses jalan, hingga kemudahan pengembangan usaha lintas daerah.

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi mengklaim pemerintah daerah mencarikan tempat yang dapat dimanfaatkan komunitas kreatif tersebut.

Luthfi juga bilang usaha kreatif tidak boleh dibatasi sekat administratif yang tidak relevan. Pelaku usaha yang ingin berkembang ke daerah lain, kata dia, harus mendapat ruang sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku.

Luthfi menegaskan, ekonomi kreatif Jawa Tengah harus memiliki daya saing dan daya dobrak. Karena itu, pemerintah provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga desa harus bergerak bersama menyediakan ruang, membuka akses, memetakan potensi, dan memperkuat jejaring pelaku kreatif.

“Ekonomi kreatif itu tidak terbatas tempat, waktu, dan umur. Selama manusia mempunyai kreativitas, di situ akan tumbuh,” kata Luthfi.

Menurut Luthfi, ekonomi kreatif menjadi salah satu kekuatan ekonomi daerah di tengah tekanan geopolitik global dan keterbatasan fiskal pemerintah. Karenanya, pemerintah harus hadir mendampingi pelaku ekonomi kreatif agar potensi tersebut berkembang sesuai karakter masing-masing daerah.

“Kehadiran negara, pejabat, bupati, wali kota, dan dinas terkait harus ikut membersamai mereka. Jangan dilepas. Mereka harus kita beri wadah,” ujarnya.

Luthfi menilai Jawa Tengah memiliki banyak sentra ekonomi kreatif yang belum dikenal luas. Karena itu, ia meminta potensi lokal, mulai dari kerajinan, seni, produk UMKM, industri kreatif, hingga wisata, dipetakan dan dikemas dalam materi promosi yang mudah diakses.

Peta ekonomi kreatif itu, kata Luthfi, tidak boleh hanya menjadi data internal pemerintah. Peta tersebut harus menjadi panduan yang dapat menunjukkan kekuatan tiap daerah.

Selain pemetaan, Luthfi mendorong kegiatan pameran ekonomi kreatif digelar rutin secara bergilir di kabupaten/kota. Dengan begitu, produk dan karya kreatif suatu daerah tidak hanya dikenal di wilayahnya sendiri, tetapi juga menjangkau daerah lain.

“Saya ingin ekonomi kreatif mengadakan kegiatan setiap bulan, muter di seluruh kabupaten kota. Ekonomi kreatif di sini belum tentu sama dengan daerah lain,” katanya.

Luthfi juga mengingatkan agar pemerintah daerah tidak hanya menyediakan ruang pajang atau display produk UMKM. Menurutnya, pelaku usaha kecil membutuhkan ruang jualan, ruang bertemu, akses pasar, dan tempat berkolaborasi.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dhana Kencana
EditorDhana Kencana

Latest News Jawa Tengah

See More

Rahasia Hitung Pesangon Layoff PHK Sesuai UU Ciptakerja Biar Nggak Rugi!

11 Jun 2026, 17:00 WIBNews