Pada 2024, skema 1 Hari 1 Telur berlangsung selama tiga bulan. Setahun kemudian, periode pembagian telur diperpanjang menjadi enam bulan, pengukuran tinggi dan berat badan dilakukan setiap bulan, dan pemantauan konsumsi masuk ke aplikasi. Dari 1.034 siswa yang tercatat mengalami malnutrisi, 646 dilaporkan mencapai status gizi baik. Perubahan itu memperlihatkan bahwa intervensi gizi tidak hanya berlangsung di kotak bekal, tetapi melibatkan keluarga, guru, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, serta data yang dikumpulkan sepanjang program.
Setiap hari, satu butir telur menempuh perjalanan pendek: dari sekolah ke rumah, lalu kembali ke sekolah di dalam kotak bekal. Orang tua mengolahnya, sedangkan guru memantau bekal yang dibawa dan dikonsumsi siswa.
Pada 2024, ritme itu berlangsung selama tiga bulan bagi siswa dengan gizi buruk dan gizi kurang yang mengikuti skema 1 Hari 1 Telur JAPFA for Kids.
Setahun kemudian, durasinya menjadi enam bulan.
Yang berubah bukan hanya kalender. Laporan Keberlanjutan JAPFA 2025 menyebut perusahaan memperpanjang periode pembagian telur dari Juli hingga Desember setelah melakukan tinjauan terhadap program. Pada saat yang sama, metode pengukuran diperkuat menggunakan aplikasi dan dasbor digital.
Guru penanggung jawab mendapat pelatihan mengenai pola makan sehat, pengelolaan program, dan penggunaan aplikasi. Tinggi serta berat badan siswa dicatat setiap bulan. Puskesmas melakukan pengukuran pada awal dan akhir program. Orang tua mengikuti pertemuan bulanan dan dilibatkan dalam penyediaan bekal makan siang seimbang.
Perubahan tersebut terjadi di tengah persoalan gizi anak sekolah yang tidak sederhana.
Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 11 persen anak usia 5–12 tahun berada dalam kategori sangat kurus dan kurus berdasarkan indeks massa tubuh menurut umur. Pada sisi lain, 19,7 persen berada dalam kategori gizi lebih dan obesitas.
Data nasional itu memperlihatkan beban ganda masalah gizi: kekurangan dan kelebihan gizi terjadi pada kelompok usia yang sama.
Dalam konteks tersebut, pertanyaan terhadap program gizi tidak berhenti pada berapa banyak makanan yang dibagikan. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana perubahan tubuh dan perilaku anak dipantau setelah makanan tersebut diberikan.
