Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dari Tiga ke Enam Bulan: 18 Tahun JAPFA for Kids Membaca Ulang Gizi Anak
Pelaksanaan program JAPFA for Kids untuk mengatasi masalah gizi pada anak. (Dok. JAPFA)
  • JAPFA for Kids 2025 memperpanjang skema 1 Hari 1 Telur dari tiga menjadi enam bulan, dengan pengukuran bulanan, pelaporan digital, serta keterlibatan orang tua, guru, puskesmas, dan pemerintah daerah.
  • Program 2025 menjangkau 15.498 siswa di 123 sekolah; dari 1.034 siswa malnutrisi, JAPFA melaporkan 646 mencapai status gizi baik. Rincian hasil 388 peserta lainnya belum dipublikasikan.
  • Intervensi tidak hanya berupa telur: peserta menerima camilan bergizi, vitamin, edukasi hidup sehat, dan pemantauan bekal. Program yang dimulai pada 2008 terus berubah sesuai evaluasi dan pelaksanaan daerah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pada 2025, JAPFA memberi telur untuk anak yang gizinya kurang selama enam bulan, bukan tiga bulan. Orang tua menyiapkan bekal, guru melihat anak makan, dan puskesmas mengukur tinggi serta berat badan. Ada 1.034 anak yang ikut. JAPFA bilang 646 anak sekarang punya gizi baik. Keadaan 388 anak lainnya belum dijelaskan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada 2024, skema 1 Hari 1 Telur berlangsung selama tiga bulan. Setahun kemudian, periode pembagian telur diperpanjang menjadi enam bulan, pengukuran tinggi dan berat badan dilakukan setiap bulan, dan pemantauan konsumsi masuk ke aplikasi. Dari 1.034 siswa yang tercatat mengalami malnutrisi, 646 dilaporkan mencapai status gizi baik. Perubahan itu memperlihatkan bahwa intervensi gizi tidak hanya berlangsung di kotak bekal, tetapi melibatkan keluarga, guru, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, serta data yang dikumpulkan sepanjang program.

Setiap hari, satu butir telur menempuh perjalanan pendek: dari sekolah ke rumah, lalu kembali ke sekolah di dalam kotak bekal. Orang tua mengolahnya, sedangkan guru memantau bekal yang dibawa dan dikonsumsi siswa.

Pada 2024, ritme itu berlangsung selama tiga bulan bagi siswa dengan gizi buruk dan gizi kurang yang mengikuti skema 1 Hari 1 Telur JAPFA for Kids.

Setahun kemudian, durasinya menjadi enam bulan.

Yang berubah bukan hanya kalender. Laporan Keberlanjutan JAPFA 2025 menyebut perusahaan memperpanjang periode pembagian telur dari Juli hingga Desember setelah melakukan tinjauan terhadap program. Pada saat yang sama, metode pengukuran diperkuat menggunakan aplikasi dan dasbor digital.

Guru penanggung jawab mendapat pelatihan mengenai pola makan sehat, pengelolaan program, dan penggunaan aplikasi. Tinggi serta berat badan siswa dicatat setiap bulan. Puskesmas melakukan pengukuran pada awal dan akhir program. Orang tua mengikuti pertemuan bulanan dan dilibatkan dalam penyediaan bekal makan siang seimbang.

Perubahan tersebut terjadi di tengah persoalan gizi anak sekolah yang tidak sederhana.

Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 11 persen anak usia 5–12 tahun berada dalam kategori sangat kurus dan kurus berdasarkan indeks massa tubuh menurut umur. Pada sisi lain, 19,7 persen berada dalam kategori gizi lebih dan obesitas.

Data nasional itu memperlihatkan beban ganda masalah gizi: kekurangan dan kelebihan gizi terjadi pada kelompok usia yang sama.

Dalam konteks tersebut, pertanyaan terhadap program gizi tidak berhenti pada berapa banyak makanan yang dibagikan. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana perubahan tubuh dan perilaku anak dipantau setelah makanan tersebut diberikan.

Ketika Pengetahuan dan Perilaku Tidak Bergerak Sama

Ilustrasi anak beraktivita di sekolah yang menerima program JAPFA for Kids. (Dok. JAPFA)

Salah satu petunjuk dapat ditemukan dalam evaluasi JAPFA for Kids pada 2022.

Rata-rata skor pengetahuan siswa mengenai perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS meningkat dari 65,8 menjadi 80,7. Sementara itu, skor perilaku bergerak dari 74,0 menjadi 75,0.

Dalam evaluasi tersebut, kenaikan skor pengetahuan jauh lebih besar daripada perubahan skor perilaku.

Laporan tahun itu menyebut siswa usia sekolah belum sepenuhnya mempunyai kendali dalam memilih makanan di rumah karena pola konsumsi banyak dipengaruhi orang tua. JAPFA kemudian mencatat perlunya periode intervensi yang lebih panjang serta pendekatan kepada orang tua dan pihak lain untuk mendukung perubahan pola konsumsi sehat di rumah.

Temuan 2022 tidak membuktikan bahwa evaluasi tersebut secara langsung menyebabkan perubahan durasi program pada 2025. Namun dokumen itu menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga dan lamanya pendampingan telah menjadi bagian dari persoalan yang dikenali program beberapa tahun sebelumnya.

Konteks serupa terlihat dalam penilaian UNICEF terhadap lingkungan pangan di 268 sekolah dasar di Jawa, Sulawesi, dan Papua. Penilaian tersebut menemukan, antara lain, keterbatasan pilihan makanan sehat, pendidikan gizi, serta fasilitas aktivitas fisik.

Sekolah, dengan demikian, merupakan salah satu lingkungan tempat kebiasaan makan dibentuk. Namun keputusan mengenai apa yang dimakan anak juga bergerak melewati pagar sekolah dan masuk ke rumah.

Di situlah keterlibatan orang tua menjadi bagian dari desain JAPFA for Kids.

Dari Bekal ke Dasbor

Salah satu siswa di Mempawah yang diitervensi program layanan JAPFA for Kids. (Dok. JAPFA)

Selain perubahan perilaku, program menghadapi persoalan lain: konsistensi pemantauan.

Laporan Keberlanjutan 2025 mencatat bahwa pada pelaksanaan sebelumnya, pemantauan konsumsi telur dan pengumpulan data indeks massa tubuh atau IMT belum selalu optimal, terutama pada sekolah yang sulit dijangkau.

Pada 2025, JAPFA mengkaji kembali metode pengukuran dan meningkatkan penggunaan dasbor digital. Berat dan tinggi badan dicatat berkala untuk membaca perubahan status gizi dan tren selama program berlangsung.

Tahapannya membagi pekerjaan kepada beberapa pihak.

Sekolah di kecamatan terpilih mendapat timbangan dan alat pengukur tinggi badan. Guru penanggung jawab mendapat pelatihan, sedangkan tenaga kesehatan menjalani pelatihan penyegaran.

Puskesmas melakukan pengukuran tinggi dan berat badan awal. Pemeriksaan yang tercantum dalam program juga meliputi anemia, karies gigi, limfadenitis, dan tuberkulosis.

Selama program berlangsung, tinggi dan berat badan diukur setiap bulan untuk memantau IMT. Guru memonitor konsumsi melalui bekal dan mengirimkan laporan harian menggunakan aplikasi. Pada akhir periode, puskesmas kembali mengukur tinggi dan berat badan siswa.

Orang tua memegang bagian lain. Bagi anak yang membutuhkan peningkatan gizi, orang tua diminta menandatangani komitmen untuk menyediakan bekal makan siang seimbang dan mengikuti pertemuan bulanan selama enam bulan.

Dengan pembagian tersebut, satu data pertumbuhan melewati beberapa tangan: keluarga menyediakan makanan, guru mengikuti konsumsi sehari-hari, tenaga kesehatan melakukan pengukuran, dan sistem digital menyimpan perkembangan peserta.

Kolaborasi di sini bukan sekadar beberapa institusi hadir dalam kegiatan yang sama. Masing-masing menjalankan fungsi yang berbeda.

Enam Bulan, dengan Intervensi yang Berlapis

Implementasi program JAPFA for Kids tahun 2019 di Lampung Selatan. (Dok. JAPFA)

Durasi enam bulan tidak berarti perlakuannya sama sejak awal hingga akhir.

Pada Juli sampai Oktober 2025, siswa dengan gizi kurang dan gizi buruk menerima satu butir telur setiap hari. Pada November dan Desember, jumlah tersebut ditingkatkan menjadi dua butir sehari. Menurut JAPFA, penambahan dilakukan untuk mempercepat pemulihan gizi.

Program juga mencantumkan camilan bergizi dua kali seminggu dan pemberian vitamin secara rutin.

Di luar asupan makanan, Hari Sehat JAPFA memasukkan olahraga, bekal sehat, edukasi kebiasaan hidup sehat, pemeriksaan kebersihan kuku, serta cuci tangan menggunakan sabun.

Artinya, hasil akhir program berasal dari intervensi yang terdiri atas beberapa komponen. Dokumen publik yang tersedia tidak memisahkan kontribusi masing-masing komponen terhadap perubahan status gizi peserta.

Telur merupakan salah satu bagian dari intervensi, bukan satu-satunya.

1.034 Anak dan Batas Informasi di Balik Angka 646

Pada 2025, JAPFA for Kids menjangkau 15.498 siswa di 123 sekolah pada sembilan kabupaten. Sebanyak 1.034 siswa tercatat mengalami malnutrisi.

Pada akhir program, JAPFA melaporkan 646 siswa telah mencapai status gizi baik. Proporsinya sekitar 62,5 persen.

Angka tersebut menjawab satu pertanyaan: berapa peserta yang dilaporkan mencapai kategori gizi baik.

Namun data agregat yang dipublikasikan belum menjawab pertanyaan lain: bagaimana perubahan status gizi 388 peserta lainnya.

Laporan tidak memerinci distribusi hasil kelompok tersebut. Oleh karena itu, data yang tersedia tidak cukup untuk menentukan apakah mereka mengalami perubahan tetapi belum mencapai kategori gizi baik, tetap pada kategori sebelumnya, atau mempunyai kondisi lain.

Ketiadaan rincian tersebut bukan bukti kegagalan. Itu merupakan batas informasi yang dapat dibaca dari laporan publik.

Karena angka hasil nasional tersebut bersumber dari laporan perusahaan, tulisan ini memperlakukannya sebagai hasil yang dilaporkan JAPFA, bukan sebagai evaluasi dampak independen yang menentukan kontribusi setiap unsur intervensi.

Data dari satu daerah memberikan gambaran lebih rinci mengenai tahapan yang berada di antara jumlah sasaran dan hasil akhir.

Bintan: Melihat Tahapan di Balik Persentase

Implementasi program JAPFA for Kids di Tegal pada 2025. (Dok. JAPFA)

Pemerintah Kabupaten Bintan mencatat, JAPFA for Kids 2025 menyasar 13 sekolah dasar dengan total 2.318 siswa di Kecamatan Toapaya dan Gunung Kijang.

Dari jumlah tersebut, 216 siswa atau 9,32 persen tercatat memiliki persoalan status gizi. Sebanyak 193 siswa berpartisipasi dalam pendampingan.

Dalam pelaksanaannya, 65.029 telur didistribusikan kepada 184 anak dengan malnutrisi. Tingkat konsumsi telur di sekolah tercatat 86,82 persen. Hingga Januari 2026, sebanyak 144 anak dilaporkan menunjukkan perbaikan status gizi.

Alurnya menunjukkan beberapa tahapan, sebagai berikut:

2.318 siswa sasaran → 216 memiliki persoalan status gizi → 193 berpartisipasi → 184 menerima distribusi telur → 144 menunjukkan perbaikan.

Istilah “menunjukkan perbaikan status gizi” yang digunakan Pemerintah Kabupaten Bintan tidak otomatis berarti seluruh 144 anak mencapai kategori gizi baik. Data daerah tersebut juga tidak dapat digunakan untuk menjelaskan kondisi peserta program secara nasional.

Namun rangkaian angka Bintan memperlihatkan informasi yang hilang ketika sebuah program hanya disajikan sebagai satu persentase akhir. Ada tahapan identifikasi, partisipasi, intervensi, konsumsi, pemantauan, dan perubahan.

Pada setiap tahap terdapat aktor berbeda. Pemerintah Kabupaten Bintan menempatkan Dinas Kesehatan dan puskesmas dalam skema pengawasan serta pendampingan, sementara tenaga pendidik mendukung pelaksanaan di sekolah.

Ketika Kolaborasi Masuk ke Pembiayaan

Implementasi program JAPFA for Kids di Tegal pada 2025. (Dok. JAPFA)

Pembagian peran mengambil bentuk berbeda di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Pada 2024, pemerintah daerah menanggung 50 persen biaya pelaksanaan JAPFA for Kids. Program tersebut mencakup 2.323 siswa di 15 sekolah. Sebanyak 207 siswa teridentifikasi mengalami malnutrisi dan mengikuti intervensi selama enam bulan.

Dari jumlah itu, 146 siswa atau 70,5 persen dilaporkan mencapai status gizi baik.

Angka pembiayaan dan hasil gizi tersebut tidak dapat dibaca sebagai hubungan sebab-akibat. Namun model Mempawah memperlihatkan bahwa pemerintah daerah tidak hanya memberikan dukungan administratif, tetapi ikut menanggung biaya pelaksanaan.

Model lainnya muncul di Kabupaten Tegal pada 2025.

Program menjangkau 32 sekolah dasar di Kecamatan Margasari. Sebanyak 19 sekolah menjadi sasaran intervensi setelah ditemukan 170 anak yang terindikasi mengalami malnutrisi.

Saat program diluncurkan, JAPFA menyatakan pelaksanaan akan berjalan enam bulan dan dievaluasi pada akhir periode. Jika lebih dari 65 persen anak mengalami perbaikan gizi, program disebut akan berlanjut melalui skema JAPFA for Kids Award pada tahun berikutnya.

Ketentuan itu merupakan desain yang diumumkan untuk Tegal, bukan standar nasional JAPFA for Kids.

Bintan, Mempawah, dan Tegal akhirnya menunjukkan, istilah kolaborasi dapat mempunyai bentuk yang berbeda. Mulai dari pengukuran oleh tenaga kesehatan, pemantauan oleh sekolah, keterlibatan keluarga, pembiayaan pemerintah daerah, hingga penggunaan evaluasi untuk menentukan tahap program berikutnya.

Delapan Belas Tahun yang Beberapa Kali Berubah

Implementasi program JAPFA for Kids pertama kali tahun 2008 di Bali. (Dok. JAPFA)

Perubahan pada 2025 bukan yang pertama dalam perjalanan JAPFA for Kids. Program itu dimulai pada 2008 dengan kegiatan yang mencakup paket gizi, buku pola makan sehat, pemeriksaan kesehatan, serta pelatihan di sekolah.

Pada 2017, JAPFA memperkenalkan pendampingan selama enam bulan serta pendidikan sebaya melalui Duta Anak Sehat, Duta Lingkungan Sehat, dan Duta Makanan Sehat.

Pada 2022, pendekatan terhadap persoalan gizi menjadi lebih terarah melalui uji coba 1 Hari 1 Telur. Pada 2024, skema dalam laporan keberlanjutan mereka menjelaskan pemberian telur selama tiga bulan. Setahun kemudian, periode tersebut diperpanjang menjadi enam bulan dan pemantauan digital diperkuat.

Perjalanan itu tidak selalu bergerak dalam pola yang seragam. Mempawah, misalnya, telah menjalankan intervensi enam bulan pada 2024 ketika skema 1 Hari 1 Telur yang dijelaskan untuk program tahun tersebut masih berlangsung tiga bulan di lokasi lain.

Variasi tersebut memperlihatkan bahwa desain JAPFA for Kids berubah menurut periode dan pelaksanaannya di daerah.

Setelah 18 tahun, angka yang paling menonjol dari program 2025 mungkin 646 anak.

Namun perjalanan program tidak hanya terdapat pada angka akhirnya saja. Ada 1.034 anak yang masuk kelompok intervensi, guru yang mencatat konsumsi, keluarga yang membawa program ke meja makan, puskesmas yang mengukur pertumbuhan, pemerintah daerah yang mengambil bagian, serta sistem yang berusaha menghubungkan semua informasi tersebut.

Di situlah perubahan tiga menjadi enam bulan memperoleh konteksnya. Bukan sebagai bukti bahwa satu durasi pasti lebih baik daripada durasi lainnya, melainkan sebagai catatan bahwa program yang telah berjalan bertahun-tahun masih mengubah cara kerja ketika evaluasi menemukan sesuatu yang perlu diperbaiki.

Pengukuran terakhir karena itu tidak harus menjadi akhir dari sebuah program. Data hasilnya dapat menjadi dasar untuk menentukan apa yang perlu dilakukan berikutnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article