Pelaksana Keraton Kasunanan Surakarta, Panemban Agung Tedjowulan. (IDN Times/Larasati Rey)
Terpisah, Pelaksana Keraton Kasunanan Surakarta, Kanjeng Gusti Panembahan Agung Tedjowulan meminta Walikota Solo sebagai mediator untuk mengundang kedua belah pihak di Balaikota Solo sebelum acara peringatan Malam Satu Sura. Ia mengatakan hadirnya pemerintah dalam konflik keraton bertujuan agar tidak ada perselisihan dan sama-sama mendukung acara Kirab Malam Satu Sura berjalan lancar, aman, dan tertib.
“Sudah banyak masukan dan sudah banyak analisa, sehingga diambil kesimpulan bahwa tanggal 13 Juni atau 14 Juni nanti, saya tadi dari perwakilan Balai Kota ada, supaya dilaporkan ke Pak Wali, supaya Pak Wali mengundang kita semuanya. Itu, jadi dari saya sama Gusti Wandansari nanti, dari pihak-pihak lain yang terkait dengan masalah keraton ini," katanya ditemui di Keraton Solo, Rabu (9/6/2026).
Pihakny juga telah mengelar rapat bersama Kubu PB XIV Hangabehi yang juga dihadiri oleh Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng serta perwakilan Kementerian Kebudayaan di Keraton Solo.
"Nah, di sinilah akhirnya kita nyuwun untuk Suro ini Pak Wali-lah yang ngundang kita. Kita-kita itu ya kita, ya mereka, untuk berembuk bersama-sama nanti di tanggal 13 Juni atau 14 Juni. Jadi kita hari ini juga tidak memutuskan apa-apa," terangnya.
"Kita menghormati juga nopo, apa yang Pak Wali sampaikan. Nah, dengan begitu kami menyampaikan permohonan ke Pak Wali Kota untuk bisa undang sana dan undang sini untuk berembuk bersama," sambungnya.
Kirab Pusaka Malam 1 Suro merupakan salah satu tradisi penting Keraton Surakarta yang digelar setiap pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. Tradisi tersebut menjadi simbol pelestarian budaya sekaligus daya tarik bagi masyarakat yang setiap tahunnya memadati kawasan keraton untuk menyaksikan prosesi sakral tersebut.