Faktor Psikologis Bikin Harga Cabai Selalu Naik saat Natal, Masa Sih?

1. Pasokan cabai dari dua daerah seret

Seorang pedagang cabai di lapak Blok G-14 Pasar Johar MAJT, Sri Yatni mengatakan naiknya harga cabai terjadi untuk jenis cabai rawit setan. Jika dilihat belakangan ini, pasokan yang didapat dari para produsen cabai rawit setan yang ada di Temanggung dan sejumlah wilayah Jawa Timur saat ini tersendat.
"Saya pas akhir-akhir ini dapatnya kiriman cuma dua kuintal sampai tiga kuintal per hari. Gak sebanyak kondisi biasanya. Mungkin gara-gara di wilayah Temanggung atau Jawa Timur sedang hujan lebat," kata Sri kepada IDN Times, Rabu (22/12/2021).
2. Cabai rawit setan naik jadi Rp77 ribu

Sri berkata cabai rawit setan yang biasanya ia jual cuma Rp15 ribu--Rp23 ribu per kilogram, kini naik 70 persen menjadi Rp77 ribu per kilogram. Sedangkan untuk harga cabai merah keriting tetap di kisaran Rp30 ribu--Rp32 ribu per kilogram, cabai rawit hijau tetap di harga Rp25 ribu per kilogram, cabai teropong merah tetap seharga Rp15 ribu per kilogram dan cabai teropong hijau juga tetap dijual seharga Rp14 ribu--Rp15 ribu.
Dirinya sendiri merasa kelimpungan ketika cabai rawit setan semakin mahal mengingat pembelinya berkurang banyak dan stok dagangannya menjadi busuk. "Karena yang beli sedikit, akhirnya rawit setan yang busuk-busuk saya jual eceran ke pedagang bakso dan soto. Biasanya cabai yang busuk itu diolah jadi sambal," akunya.
Ia memperkirakan jika tidak ada antisipasi dari pemerintah pusat, maka harga cabai rawit setan akan terus naik. "Yang kasihan itu pedagang geprek dan nasi Padang. Soalnya mereka kan rutin pakai rawit setan," cetusnya.
3. Pedagang kasung menstok rawit setan 5 kuintal

Sedangkan pedagang cabai lainnya, Heriyanto juga menuturkan hal serupa. Heri bilang cuma bisa pasrah dengan kondisi saat ini.
"Dagangan saya malahan yang gak laku. Padahal saya kadung nyetok rawit setan sampai 5 kuintal," katanya.
4. Mahalnya rawit setan karena faktor psikologis

Menurut Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Jateng, Suwanto, lonjakan cabai selaku terjadi saat akhir tahun karena dipengaruhi faktor psikologis masyarakat terutama peningkatan konsumsi untuk perayaan Natal 2021 dan Tahun Baru 2022.
"Pasti disebabkan psikologis masyarakat jadinya cabai harganya selalu naik pas akhir tahun. Ditambah lagi, bulan Desember memasuki siklus puncak hujan. Maka komoditas seperti cabai yang paling kena dampaknya," tegasnya kepada IDN Times via telepon.
Meski begitu, ia menyoroti lonjakan harga minyak goreng yang terjadi sejak tiga bulan terakhir. Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia, katanya harusnya bisa menstabilkan harga minyak goreng.
"Bukannya malah harganya naik tapi dibiarkan. Ini ada yang salah di Kemendag. Menterinya yang gak bisa kerja atau gimana, ini harus dievaluasi oleh Presiden Joko "Jokowi" Widodo," pungkasnya.



















