Pumedi, salah satu petani di desa Pengadegan sebut kerugian akibat kekeringan, Kamis (23/7/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
Salah seorang petani, Pumedi kepada IDN Times, Kamis (23/7/2026), mengaku panen tahun ini jauh dari harapan. Jika biasanya satu lahan mampu menghasilkan sekitar 45 karung gabah, kini hanya memperoleh sekitar 10 kandi dengan bobot yang juga lebih ringan. "Ya termasuk boleh dikatakan gagal lah,"kata Pumedi.
Menurutnya, sawah di wilayah tersebut masih mengandalkan air hujan. Saat awal musim hujan petani sudah mengeluarkan biaya untuk mengolah lahan dan menanam padi. Namun ketika tanaman memasuki masa pertumbuhan, hujan justru berhenti sehingga tanaman kekurangan air.
"Biaya sudah keluar banyak untuk ongkos traktor dan tanam, tetapi saat masa pertumbuhan justru tidak ada hujan,"ujarnya.