Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) atau Geotermal di Banjarnegara. (IDN Times/Dhana Kencana)
Selanjutnya, di tengah munculnya kekhawatiran masyarakat mengenai rencana geothermal, Yanuar menilai pemerintah dan pengembang juga memiliki pekerjaan rumah besar dalam komunikasi lingkungan.
Ia mengkritik pola komunikasi yang terkesan baru dilakukan setelah muncul polemik. Menurutnya, komunikasi dengan masyarakat semestinya dilakukan sejak tahap awal, sebelum keputusan teknis proyek berjalan lebih jauh.
“AMDAL dulu baru dilakukan eksplorasi. Dan itu yang kayaknya belum dikomunikasikan secara baik oleh pihak manapun, pemerintah atau yang mau proyek,” ujarnya.
Yanuar mendorong pemerintah dan pengembang terlebih dahulu menyerap suara masyarakat, akademisi, serta kelompok lokal untuk memetakan potensi manfaat dan risiko proyek.
“Dikomunikasikan dulu, jangan bikin kehebohan dulu. Serap masyarakat, suara masyarakat, suara akademisi, suara masyarakat setempat,” katanya.
Menurut dia, masyarakat pada dasarnya tidak selalu menolak pembangunan. Mereka ingin mendapatkan jawaban sederhana mengenai apa manfaat proyek bagi kehidupan mereka dan apa konsekuensi yang harus mereka tanggung.
“Masyarakat itu sebenarnya pengen tahu, apa sih manfaatnya, apa sih ke depannya seperti apa,” ujarnya.
Lalu, masalah lain yang disoroti Yanuar adalah cara pemerintah maupun komunikator lingkungan menyampaikan informasi. Menurutnya, komunikasi lingkungan kerap gagal karena menggunakan istilah ilmiah yang sulit dipahami masyarakat.
“Communicator-nya itu terlalu banyak menggunakan diksi, menggunakan kata-kata yang terlalu ilmiah dan itu tidak dipahami,” katanya.