Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Green Impact Project 2026: Eco Juris UNS Surakarta Juara Inovasi Limbah

Kota Surakarta
Green Impact Project 2026: Eco Juris UNS Surakarta Juara Inovasi Limbah
Penyelenggaraan Green Impact Project 2026 di UNS. (IDN Times/Larasati Rey)
  • Green Impact Project 2026 mempertemukan mahasiswa lintas kota untuk mengubah ratusan ide lingkungan menjadi aksi lapangan; lima tim finalis terpilih setelah menunjukkan implementasi proyek.
  • Tim Eco Juris UNS menjadi juara lewat pengolahan limbah kantin menggunakan maggot BSF, budidaya lele, dan pupuk organik; finalis lain mengolah tekstil, sisa makanan, bonggol jagung, serta minyak jelantah.
  • Wali Kota Solo Respati Ardi menekankan inovasi lingkungan perlu model bisnis, pasar, dan edukasi agar berkelanjutan, memberi manfaat ekonomi lokal, serta dapat ditiru di tempat lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surakarta, IDN Times - Persoalan lingkungan sering kali dimulai dari hal-hal yang terlihat sederhana: sisa makanan di kantin, pakaian yang tak lagi terpakai, minyak jelantah, hingga limbah pertanian. Namun, lima tim mahasiswa dalam Green Impact Project 2026 membuktikan bahwa persoalan tersebut bisa diubah menjadi peluang untuk menciptakan solusi.

Bukan sekadar membuat konsep di atas kertas, mereka ditantang menerapkan gagasan tersebut di lapangan. Hasilnya, berbagai inovasi lahir dengan satu tujuan: membuat persoalan lingkungan tidak berhenti menjadi bahan diskusi, tetapi berubah menjadi aksi yang memberi manfaat.

Semangat itu terasa dalam final Green Impact Project 2026 bertema Green Campus Sadar Lingkungan: “Be There, Witness the Impact” yang berlangsung di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Sabtu (22/8/2026).

Program yang digelar Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) bersama Solopos Media Group tersebut mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Solo, Semarang, Yogyakarta, hingga Bandung.

  1. 1. Ratusan Gagasan Disaring Jadi Lima Finalis

    IMG_1205.jpeg
    Penyelenggaraan Green Impact Project 2026 di UNS. (IDN Times/Larasati Rey)

    Director Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, mengatakan perjalanan Green Impact Project 2026 menunjukkan besarnya keberanian generasi muda untuk mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan lingkungan.

    Menurutnya, ratusan gagasan yang masuk memperlihatkan bahwa mahasiswa tidak kekurangan ide. Tantangan berikutnya adalah bagaimana gagasan tersebut benar-benar diwujudkan menjadi solusi.

    “Generasi muda tidak berhenti di gagasan saja, tetapi berani melangkah untuk menjawab tantangan lingkungan,” ujar Mutiara.

    Dari ratusan ide tersebut, lima tim kemudian melaju ke babak final setelah melewati serangkaian proses seleksi. Mereka tidak hanya diminta menjelaskan konsep, tetapi juga menunjukkan implementasi proyek yang telah dilakukan.

    Mutiara berharap pengalaman tersebut membentuk mahasiswa menjadi generasi yang memiliki kepedulian sekaligus keberanian untuk mengambil tindakan.

    “Teruslah berani berpikir, berkolaborasi, menghasilkan, dan memberikan dampak. If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together,” katanya.

    Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya UNS, Prof. Dr. E. Muhtar, S.Pd., M.Si, CFrA., juga menilai kampus memiliki posisi penting dalam mendorong gerakan lingkungan.

    Ia berharap kompetisi tersebut tidak berhenti setelah pengumuman pemenang, tetapi berkembang menjadi ruang kolaborasi yang menghasilkan aksi berkelanjutan.

    “Kita mulai dari lingkungan terdekat kita. Kita jaga keberlanjutannya, kita jaga demi kita bersama,” tutur Muhtar.

  2. 2. Dari Maggot hingga Minyak Jelantah

    IMG_1204.jpeg
    Penyelenggaraan Green Impact Project 2026 di UNS. (IDN Times/Larasati Rey)

    Lima finalis membawa pendekatan yang berbeda dalam menjawab persoalan lingkungan. Ada yang mengolah limbah organik menjadi bagian dari sistem budidaya ikan, mengubah limbah tekstil menjadi produk kreatif, hingga memanfaatkan minyak bekas menjadi sabun.

    Tim Eco Juris dari UNS keluar sebagai juara. Mereka mengembangkan pengelolaan limbah organik kantin dengan memanfaatkan maggot Black Soldier Fly (BSF).

    Maggot yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan sebagai pakan lele dalam sistem budikdamber. Sementara itu, sisa proses budidaya berupa kasgot dan air juga diolah kembali menjadi pupuk organik. Dengan pendekatan tersebut, limbah tidak hanya dikurangi, tetapi juga diarahkan menjadi sumber daya bernilai guna.

    Posisi berikutnya ditempati Eco Lin Craft, tim kolaborasi mahasiswa UNS dan STM MMTC Yogyakarta. Mereka mengangkat limbah tekstil sebagai bahan baku berbagai produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.

    Sementara W2W Team dari Universitas Diponegoro (Undip) memilih persoalan sisa makanan sebagai fokus. Mereka memanfaatkan maggot untuk membantu mengurai sampah organik sehingga volume limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir dapat ditekan.

    Dari Universitas Muria Kudus, Eco Vibes membawa inovasi dengan memanfaatkan bonggol jagung sebagai media budidaya jamur. Limbah pertanian yang sebelumnya kurang bernilai diarahkan menjadi media produksi yang memiliki manfaat ekonomi.

    Adapun Climate Warrior dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengolah minyak jelantah menjadi sabun. Program tersebut menjadi upaya untuk mengurangi potensi pencemaran akibat pembuangan minyak bekas sekaligus menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

    Kelima proyek itu memperlihatkan bahwa isu lingkungan dapat didekati dari berbagai sisi. Sampah organik, limbah tekstil, sisa pertanian, maupun minyak jelantah sama-sama dapat menjadi bahan untuk menciptakan solusi ketika diolah dengan kreativitas dan perencanaan yang tepat.

  3. 3. Respati: Jangan Berhenti di Tepuk Tangan

    IMG_1209.jpeg
    Penyelenggaraan Green Impact Project 2026 di UNS. (IDN Times/Larasati Rey)

    Wali Kota Solo, Respati Ardi mengingatkan, mahasiswa agar tidak terjebak pada keberhasilan membuat produk atau memenangkan kompetisi. Menurutnya, inovasi lingkungan baru akan benar-benar memberikan dampak apabila memiliki keberlanjutan, termasuk dari sisi ekonomi.

    Ia mencontohkan berbagai produk hasil pengolahan sampah yang kerap mendapat apresiasi ketika dipamerkan. Namun, persoalan yang lebih penting adalah apakah produk tersebut tetap digunakan dan memiliki pasar setelah kegiatan selesai.

    “Yang harus ditekankan dari proyek ini adalah business model. Hasilnya harus bisa berkelanjutan secara bisnis,” kata Respati.

    Menurut dia, model bisnis dapat menjadi salah satu faktor yang membuat inovasi lingkungan bertahan lebih lama. Bahkan, aktivitas ekonomi yang tumbuh dari pengelolaan sampah berpotensi menciptakan manfaat bagi masyarakat di sekitar.

    “Yang utama adalah business model. Hasil dari ekonomi sampah bisa menghidupkan masyarakat lokal,” ujarnya.

    Respati juga mengajak mahasiswa memperluas dampak gerakan lingkungan melalui edukasi. Ia mendorong para peserta turun langsung ke sekolah-sekolah di Solo untuk mengenalkan persoalan polusi, pencemaran air, hingga ancaman lingkungan kepada anak-anak.

    Ia ingin proyek lingkungan yang lahir dari Green Impact Project dapat ditiru dan dikembangkan di tempat lain.

    “Saya berharap aksi seperti ini bisa diduplikasi dan terus dilakukan,” katanya.

    Pada akhirnya, Green Impact Project 2026 tidak hanya mempertemukan mahasiswa dalam sebuah kompetisi. Program tersebut menjadi ruang pembuktian bahwa gagasan tentang lingkungan dapat bergerak lebih jauh ketika diwujudkan melalui kolaborasi dan aksi.

    Lima tim finalis menunjukkan bahwa solusi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Dari limbah kantin, pakaian bekas, bonggol jagung, sisa makanan, hingga minyak jelantah, perubahan dapat dimulai ketika ada keberanian untuk mengolah persoalan menjadi peluang.

    Bagi para mahasiswa, kemenangan mungkin menjadi pencapaian hari ini. Namun, tantangan sebenarnya adalah memastikan aksi tersebut tetap hidup dan memberi dampak setelah panggung kompetisi berakhir.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More