Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Harmony Trip, Cara Asyik Siswa SD Belajar Toleransi Beragama
Belajar toleransi dengan cara yang berbeda. Puluhan siswa SD Negeri 1 Gedang Kulon mengikuti Harmony Trip di Kampung Budhis Watuagung, Banyumas, Rabu (5/8/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
  • Puluhan siswa kelas VI SD Negeri 1 Gedang Kulon mengikuti Harmony Trip di Kampung Budhis, Dusun Plandi, untuk belajar keberagaman di luar kelas.
  • Program mahasiswa KKN 024 UIN Saizu Purwokerto mengenalkan sejarah Buddha, budaya lokal, serta makna simbol lilin dan bunga teratai melalui tur edukasi.
  • Peserta mengunjungi ruang gamelan, Taman Lumbini, candi, Pohon Bodhi, dan vihara lama guna menanamkan moderasi beragama serta toleransi sejak dini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Rabu (5/8/2026)

Puluhan siswa kelas VI SD Negeri 1 Gedang Kulon mengikuti Harmony Trip di Kampung Budhis, Dusun Plandi, Desa Watuagung. Kegiatan yang diinisiasi mahasiswa KKN 024 UIN Saizu mengajarkan sejarah, budaya, moderasi, dan toleransi beragama melalui tur edukasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Puluhan siswa kelas VI SD Negeri 1 Gedang Kulon mengikuti Harmony Trip, tur edukasi moderasi beragama untuk mengenal sejarah, budaya, dan nilai toleransi di Kampung Budhis.
  • Who?
    Siswa kelas VI SD Negeri 1 Gedang Kulon, mahasiswa KKN 024 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Ruli, Tukiran, dan Khikmah Tri Romadhoni terlibat dalam kegiatan ini.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di Kampung Budhis, Dusun Plandi, Desa Watuagung, Kabupaten Banyumas, termasuk ruang gamelan, Taman Lumbini, candi, Pohon Bodhi, dan vihara lama.
  • When?
    Harmony Trip dilaksanakan pada Rabu, 5 Agustus 2026.
  • Why?
    Kegiatan digelar untuk memperkenalkan sejarah dan budaya Kampung Budhis serta menanamkan pemahaman tentang moderasi beragama, hidup berdampingan, dan toleransi antarumat beragama sejak dini.
  • How?
    Mahasiswa KKN mengajak siswa mengikuti edutour, mendengarkan penjelasan Tukiran mengenai tradisi Buddhis dan simbol perlengkapan ibadah, lalu mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah di Kampung Budhis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Puluhan siswa kelas VI SD Negeri 1 Gedang Kulon pergi ke Kampung Budhis di Dusun Plandi. Mereka diajak mahasiswa UIN Saizu belajar hidup rukun walau beda agama. Tukiran bercerita tentang agama Buddha, lilin, bunga teratai, candi, dan vihara. Anak-anak senang karena bisa belajar sambil jalan-jalan. Mereka diharapkan makin tahu cara saling menghargai.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Harmony Trip memperlihatkan bagaimana pembelajaran di luar kelas dapat membuat keberagaman terasa dekat dan mudah dipahami siswa. Melalui penjelasan tokoh setempat serta kunjungan ke ruang-ruang bersejarah Kampung Budhis, anak-anak memperoleh pengalaman langsung yang menyenangkan, sambil mengenal budaya desa dan membiasakan adab ketika berinteraksi dengan perbedaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banyumas, IDN Times – Belajar tentang keberagaman tak harus selalu dilakukan di ruang kelas. Puluhan siswa kelas VI SD Negeri 1 Gedang Kulon justru mendapatkan pengalaman baru saat mengikuti Harmony Trip yang menjelajah keberagaman, menguatkan Persatuan di Kampung Budhis, Dusun Plandi, Desa Watuagung, Rabu (5/8/2026).

Program yang diinisiasi mahasiswa KKN 024 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto itu mengajak siswa mengenal sejarah, budaya, dan nilai toleransi secara langsung. Berikut lima momen menarik selama kegiatan berlangsung.

1. Cara senang belajar moderasi beragama

Para mahasiswa KKN24 dari UIN Saizu Purwokerto saat berada dilokasi kampung buddhis Banyumas, Rabu (5/8/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Ketua KKN 024 Watuagung yang juga wali kelas VI SD Negeri 1 Gedang Kulon, Ruli mengingatkan para siswa agar menjaga sikap selama mengikuti edutour moderasi beragama.

"Anak anak harus menjaga adab dan etika ketika berada di sini serta mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan baik agar memperoleh pengalaman belajar yang bermanfaat," ujarnya kepada IDN Times.

Ditambahkan melalui Harmony Trip, mahasiswa KKN 024 UIN Saizu Purwokerto berharap para siswa tidak hanya memahami pentingnya hidup berdampingan dalam keberagaman, tetapi juga semakin mengenal Kampung Budhis sebagai salah satu potensi sejarah dan budaya yang dimiliki Desa Watuagung.

2. Mengenal sejarah Kampung Budhis dari tokoh setempat

Siswa SD di Banyumas diajak masuk ke ruang gamelan Kampung Budhis Watuagung untuk mengenal warisan budaya sekaligus memahami pentingnya hidup rukun di tengah keberagaman, Rabu (5/8/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Tokoh Kampung Budhis, Tukiran menyebut mengajak para siswa yang dilakukan oleh para mahasiswa KKN tersebut sebagai bagian mengenal sejarah agama Buddha serta filosofi berbagai perlengkapan yang digunakan dalam tradisi Buddhis.

Ia menjelaskan makna simbolik lilin dengan berbagai warna hingga bunga teratai yang melambangkan perjalanan menuju kesucian hidup. Penjelasan tersebut menjadi bekal sebelum peserta mengikuti tur edukasi di kawasan Kampung Budhis.

Dalam sesi edutour, para siswa mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah, seperti ruang gamelan, Taman Lumbini, candi, Pohon Bodhi, hingga vihara lama. Di setiap lokasi, Tukiran menjelaskan sejarah serta fungsi masing masing tempat sehingga siswa memperoleh pengalaman belajar secara langsung.

3. Tanamkan nilai tolerasnsi sejak dini

Salah satu mahasiswa KKN24 UIN Saizu sebut salah satu ajarkan anak anak bertoleransi sejak dini adalah dengan pengajaran langsung di lapangan, Rabu (5/8/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Penanggung jawab harmony trip, Khikmah Tri Romadhoni, pihaknya berharap Harmony Trip menjadi pengalaman belajar yang berkesan sekaligus menanamkan nilai toleransi sejak dini bagi anak anak.

"Semoga melalui acara ini, anak-anak mendapatkan pengalaman belajar nyata mengenai sejarah, budaya, sekaligus konsep sederhana mengenai moderasi dan toleransi antarumat beragama di lingkungan sekolah," katanya.

Diakuinya, salah seorang siswa mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan seperti ini. Ia merasa senang karena dapat belajar sambil berwisata sehingga lebih mudah memahami tentang tolerans.

Editorial Team

Related Article