Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ini Kendala dan Penyebab Koperasi Merah Putih Belum Aktif di Jateng
Ilustrasi Koperasi Kelurahan Merah Putih di Gedawang, Kota Semarang. (dok. Pemprov Jateng)
  • Dinas Koperasi dan UMKM Jateng mencatat 6.271 dari total 8.523 koperasi merah putih sudah aktif, melampaui target nasional meski sekitar 2.000 koperasi masih belum beroperasi.
  • Kendala utama yang dihadapi adalah potensi usaha lokal belum tergali optimal serta kurangnya kolaborasi antara pengurus koperasi dengan kepala desa atau kelurahan setempat.
  • Pemerintah provinsi menargetkan seluruh koperasi merah putih dapat beroperasi penuh pada akhir tahun melalui pemantauan dan pencarian solusi atas hambatan yang ada.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Tengah mencatat terdapat sekitar 2.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih belum beroperasional hingga saat ini. 

1. Sebanyak 6.271 koperasi sudah aktif

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jateng, Eddy S. Bramiyanto. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Untuk diketahui, sampai dengan sekarang sebanyak 6.271 atau 73 persen dari total 8.523 kopdes/KKMP yang berbadan hukum di Jateng telah beroperasi.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jateng, Eddy S. Bramiyanto mengatakan, meskipun ada 2.000 koperasi belum aktif, tetapi angka koperasi yang sudah beroperasi tersebut sudah melampaui target nasional yang sebesar 60 persen. 

“Kalau diidentifikasi, ada dua kendala utama yang menghambat operasional koperasi desa atau kelurahan merah putih ini,” ungkapnya, Jumat (8/5/2026).

2. Potensi usaha belum tergali secara optimal

Ilustrasi Koperasi Kelurahan Merah Putih di Gedawang, Kota Semarang. (dok. Pemprov Jateng)

Menurut Eddy, kendala utama adalah potensi usaha yang belum tergali secara optimal. Koperasi-koperasi yang belum beroperasi kemungkinan besar belum menemukan atau mengembangkan model bisnis yang sesuai dengan potensi lokal dan kebutuhan anggotanya. 

“Kami mendorong koperasi merah putih untuk bergerak di sektor produktif dan riil agar perputaran modal lebih cepat dan memberikan keuntungan yang berkelanjutan,” katanya.

Selanjutnya kendala kedua, kurangnya kolaborasi yang intensif antara pengurus koperasi dengan kepala desa dan kelurahan setempat. Kolaborasi yang kuat antara pihak-pihak ini sangat penting untuk mengidentifikasi potensi lokal, mendapatkan dukungan dari pemerintah desa, dan memastikan keberlanjutan operasional koperasi. 

3. Targetkan 100 persen koperasi merah putih beroperasi di akhir tahun

Ilustrasi Koperasi Kelurahan Merah Putih di Gedawang, Kota Semarang. (dok. Pemprov Jateng)

“Kami mengakui pengurus koperasi desa merah putih adalah pejuang yang bekerja tanpa memikirkan honor, melayani anggota, dan mengabdi pada masyarakat. Namun, kolaborasi yang lebih erat dengan pemangku kepentingan lokal dapat mempercepat proses operasionalisasi koperasi,” jelas Eddy.

Maka itu, Dinas Koperasi dan UMKM Jateng akan terus mencermati dan menanyakan penyebab belum beroperasinya koperasi-koperasi tersebut. 

“Upaya ini diharapkan dapat membantu mengidentifikasi solusi yang tepat untuk mengatasi kendala-kendala yang ada, sehingga target 100 persen koperasi merah putih beroperasi pada akhir tahun ini dapat tercapai,” tandasnya

Editorial Team