Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jemaah Haji Puji Makanan Siap Saji Asal Solo, Disebut Indonesia Banget

Jemaah Haji Puji Makanan Siap Saji Asal Solo, Disebut Indonesia Banget
Ribuan jemaah haji Indonesia dan dari berbagai negara melakukan mabit di Muzdalifah, Makkah, Arab Saudi. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian wajib haji setelah wukuf di Arafah, sebagai persiapan menuju Mina. (Dok. MCH 2026)
Intinya Sih
  • Makanan siap saji asal Solo produksi PT HATI mendapat pujian dari jemaah haji karena cita rasanya autentik Indonesia dan dinilai lebih praktis dibanding makanan segar selama puncak ibadah di Armuzna.
  • Penggunaan RTE membantu atasi tantangan distribusi makanan di tengah suhu ekstrem dan kepadatan jemaah, sekaligus menarik perhatian Pemerintah Arab Saudi sebagai solusi konsumsi masa depan yang higienis dan efisien.
  • Pada musim haji 2026, PT HATI mengirim lebih dari dua juta produk RTE untuk 203 ribu jemaah, melibatkan bahan baku lokal serta ratusan tenaga kerja guna memperkuat ekonomi nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Surakarta, IDN Times - Makanan siap saji atau Ready to Eat (RTE) produksi Indonesia yang didistribusikan kepada jemaah haji di Arab Saudi menuai respons positif. Di tengah padatnya aktivitas dan tantangan distribusi konsumsi selama puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), makanan siap saji justru mendapat penilaian lebih baik dibanding makanan segar yang selama ini disediakan katering setempat.

Salah satu jemaah haji asal Indonesia melalui akun Tiktok @quinakuembunku yang sedang menyantap semur ayam produk PT Halalan Tayyiban Indonesia (PT HATI). Dalam video unggahannya ia mengaku rasa semur ayamnya autentik dan benar-benar sesuai dengan lidah orang Indonesia.

“Ini ada nasi uduk, ayamnya itu irisannya besar-besar seperti ini, terus disini juga ada kentang, kita cobain kentang lembut sekali, dan rasanya autentik bener-bener sesuai dengan lidah orang Indonesia,” ujarnya dalam video tersebut.

Hal serupa juga diunggah oleh akun @kang.susanto yang turut memberikan respon positif produk RTE tersebut. “Ini jumlah lauknya segini banyak sama seperti jumlah nasinya,” ungkapnya saat memperlihatkan produk rendang daging.  

Menanggapi respon tersebut, Owner PT Halalan Tayyiban Indonesia (PT HATI), Puspo Wardoyo, mengatakan mayoritas jemaah menyukai menu RTE karena cita rasanya lebih dekat dengan lidah masyarakat Indonesia.

“Komentar yang kami terima, makanan ini lebih enak daripada makanan fresh. Bumbunya lebih terasa dan rasanya lebih Indonesia,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (29/5/2026).

Menurut Puspo, penggunaan RTE pada musim haji 2026 bukan tanpa alasan. Saat seluruh jemaah mulai bergerak menuju Armuzna, sebagian dapur katering juga harus berpindah lokasi sehingga distribusi makanan segar menjadi lebih sulit.

1. Jemaah minta menu RTE tak hanya disajikan saat Armuzna

IMG_2769.jpeg
Jemaah haji asal Indonesia menyantap makanan siap saji produk PT Halalan Tayyiban asal Solo. (Tiktok @kang.susanto)

Saat memantau proses distribusi makanan haji di Arab Saudi, Puspo menjelaskan pada 7 Zulhijah, jemaah mendapatkan tiga kali makan menggunakan RTE, yakni sarapan, makan siang, dan makan malam. Sementara pada 8 Zulhijah, RTE diberikan untuk sarapan sebelum jemaah bergerak menuju Mina dan Arafah.

Selama berada di Armuzna, skema konsumsi dilakukan secara hybrid. Dari lima belas  kali makan yang diterima jemaah, tiga kali menggunakan RTE  full meal ( Nasi dan lauk ), enam kali makan Lauknya RTE -Nasi Fresh dan enam kali lainnya berupa makanan segar.

Respons positif dari jemaah membuat muncul harapan agar menu siap saji khas Indonesia tersebut tidak hanya diberikan saat puncak haji.

“Jadi dengan adanya kehadiran RTE ini, mereka senang dan variasi. Harapannya mungkin tidak hanya di Armuzna, mungkin nanti kalau ke depan ya di Madinah maupun Makkah juga bisa diberikan sebagai variasi,” kata Puspo usai mendengar komentar pada jemaah haji tentang produknya.

Beberapa menu yang disajikan antara lain semur ayam, semur daging, rendang ayam, rendang daging, balado ikan, gulai ikan, hingga empal serundeng. Menurutnya, menu-menu tersebut memberikan alternatif rasa yang berbeda dibanding makanan yang biasa diterima jemaah selama berada di Arab Saudi.

2 Dinilai jadi solusi distribusi makanan saat puncak haji.

8aea947f-25ea-40d9-ae22-3b46496b6e7c.jpeg
Owner PT Halalan Tayyiban, Puspo Wardoyo. (Dok.Istimewa)

Puspo mengatakan distribusi makanan menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penyelenggaraan ibadah haji. Suhu udara yang mencapai 50 derajat Celsius, kepadatan jutaan jemaah, hingga keterbatasan akses distribusi sering menyebabkan keterlambatan bahkan kerusakan makanan.

“Kondisi saat itu memang cukup sulit. Karena staff dan karyawan dapur juga bergerak ke Armuzna dan akses distribusi juga terbatas, maka pemerintah mengarahkan penggunaan makanan RTE,” ujarnya.

Tak hanya membantu jemaah, kehadiran RTE juga meringankan beban operasional dapur katering yang harus memasak dalam kondisi cuaca ekstrem dan infrastruktur terbatas.

“Dapur juga terbantu karena kondisi di Armuzna sangat berat. Infrastruktur terbatas dan proses memasak dilakukan dalam suhu yang sangat panas,” jelasnya.

Menurut Puspo, Pemerintah Arab Saudi bahkan mulai melirik makanan siap saji sebagai salah satu solusi masa depan pelayanan konsumsi jemaah haji karena lebih praktis, higienis, dan mudah didistribusikan.

Selain itu, penerapan aturan yang lebih ketat oleh Pemerintah Arab Saudi terhadap akses masuk Makkah dan Armuzna juga membuat pelaksanaan haji tahun ini dinilai lebih tertata dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sekarang jauh lebih tertib. Penduduk dan mukimin selain Makkah,  yang tidak memiliki izin tidak bisa masuk ke Makkah maupun Armuzna. Ini membuat pelayanan lebih terkontrol dan kepadatan bisa dikurangi,” ujarnya.

Kedepan, ia berharap penggunaan produk makanan siap saji dari Indonesia dapat terus dikembangkan pada musim haji mendatang. Selain meningkatkan kualitas layanan, langkah tersebut juga dapat memperkuat ekosistem ekonomi haji nasional melalui penggunaan bahan baku dan tenaga kerja dalam negeri.

“Kami siap mendukung pemerintah untuk memberikan pelayanan makanan yang lebih baik. Pengalaman di Arab Saudi tidak bisa didapat secara instan karena harus memahami kultur, regulasi, hingga jaringan kerja di sana. Itu yang selama ini kami bangun,” pungkasnya.

3. PT HATI kirim lebih dari 2 juta produk makanan haji pada 2026.

IMG_6222.jpeg
Pabrik pembuatan makanan siap saji, Makanku yang berlokasi di Grogol, Sukoharjo. (IDN Times/Larasati Rey)

Di balik distribusi RTE tersebut, PT Halalan Tayyiban Indonesia (PT HATI) yang merupakan anak usaha Wong Solo Group menjadi salah satu pelopor penyedia makanan siap saji untuk jemaah haji Indonesia.

Selama empat tahun terakhir, perusahaan asal Solo itu telah mengirimkan total 5.342.606 produk makanan siap saji untuk kebutuhan haji. Rinciannya sebanyak 1.475.000 produk pada 2023, 1.496.010 produk pada 2024, 2.257.430 produk pada 2025, dan 2.042.441 produk pada 2026.

Pada musim haji tahun ini, PT HATI menyediakan makanan siap saji untuk sekitar 203.320 jemaah Indonesia. Jumlah tersebut terdiri dari 1.041.452 lauk siap saji dan 1.000.989 paket nasi beserta lauk siap saji. Selain itu, perusahaan juga mengirimkan 150 ton bumbu pasta siap masak untuk pertama kalinya.

Produksi makanan tersebut melibatkan bahan baku dari Indonesia, antara lain 132 ton daging, ayam dan ikan, 2.416.154 butir telur ayam, serta 52 ton rempah-rempah. Proses produksi juga melibatkan lebih dari 500 tenaga kerja.

Puspo menilai pemanfaatan produk dalam negeri untuk konsumsi haji dapat memperkuat ekosistem ekonomi nasional sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi jemaah.

“Makanan itu kebutuhan primer. Kalau makanan sehat, bergizi dan berkualitas, jamaah bisa menjalankan ibadah dengan baik. Sebaliknya kalau tidak diperhatikan, risiko sakit juga meningkat,” katanya.

Seluruh produk PT HATI telah mengantongi sertifikasi halal dan standar ISO 22000. Makanan diproses menggunakan teknologi sterilisasi suhu dan tekanan tinggi sehingga memiliki masa simpan hingga 18 bulan tanpa memerlukan penyimpanan dalam lemari pendingin.

Dengan berbagai tantangan distribusi yang terus meningkat setiap musim haji, makanan siap saji berbasis teknologi dinilai berpotensi menjadi salah satu tulang punggung layanan konsumsi jemaah Indonesia pada masa mendatang.

Share Article
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono

Latest News Jawa Tengah

See More