Keraton Solo Kembali Gelar Grebeg Besar Versi PB XIV Hangabehi

- Keraton Solo kubu PB XIV Hangabehi menggelar Grebeg Besar Iduladha 1447 H sehari setelah versi Hamangkunegoro, menandai berlanjutnya dualisme tradisi di lingkungan Keraton Surakarta.
- Dua gunungan jaler dan estri diarak dari Kori Kamandungan ke Masjid Agung lalu seluruhnya dibagikan kepada masyarakat sesuai instruksi Gusti Moeng sebagai simbol berbagi berkah.
- Gusti Moeng menjelaskan Grebeg digelar hari kedua Iduladha agar abdi dalem dapat berkurban bersama keluarga, mengikuti tradisi yang sudah diterapkan sejak masa PB XII.
Surakarta, IDN Times - Konflik “raja kembar” di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Keraton Solo kembali terlihat dalam pelaksanaan tradisi Grebeg Besar Iduladha 1447 Hijriah. Setelah kubu PB XIV Hamangkunegoro atau Purbaya menggelar Grebeg Besar pada Rabu (27/5/2026), giliran kubu PB XIV Hangabehi mengadakan prosesi serupa sehari berikutnya, Kamis (28/5/2026).
Tradisi tahunan tersebut tetap dipadati masyarakat yang antusias berebut gunungan berisi hasil bumi dan makanan khas sebagai simbol berkah dari Keraton Solo.
1. Dua Gunungan Diperebutkan Warga di Masjid Agung.

Dalam Grebeg Besar versi PB XIV Hangabehi, Keraton mengeluarkan dua gunungan yakni gunungan jaler (laki-laki) dan gunungan estri (perempuan). Kedua gunungan diarak dari Kori Kamandungan menuju halaman Masjid Agung Keraton Surakarta Hadiningrat sebelum diperebutkan ratusan warga.
Berbeda dengan pelaksanaan Grebeg Besar sehari sebelumnya, seluruh gunungan kali ini dibagikan kepada masyarakat di halaman Masjid Agung.
Sebelumnya, dalam prosesi versi PB XIV Hamangkunegoro, gunungan jaler diperebutkan masyarakat di halaman Masjid Agung, sementara gunungan estri diperebutkan para abdi dalem di halaman Kori Kamandungan Keraton.
2. Keraton Pilih Grebeg Digelar Hari Kedua Iduladha.

Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo, GKR Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng, mengatakan keputusan seluruh gunungan diberikan kepada masyarakat merupakan instruksi langsung darinya.
menjelaskan alasan Grebeg Besar versi Keraton Solo digelar sehari setelah Iduladha. Menurut dia, keputusan tersebut sudah diterapkan sejak masa pemerintahan PB XII.
Hal itu dilakukan agar para sentono dan abdi dalem tetap memiliki kesempatan melaksanakan penyembelihan hewan kurban bersama keluarga di rumah masing-masing.
“Makanya Keraton mengambil yang hari kedua, termasuk Idulfitri juga begitu. Yang tidak diundur itu adalah Maulid Nabi, karena Maulid Nabi itu baku bagi Keraton,” ungkapnya.
Ia menambahkan, rangkaian peringatan Maulid Nabi di Keraton Solo telah dimulai sejak awal bulan Maulid dengan tradisi Sekaten sehingga tidak bisa diubah jadwalnya.
3. Warga Antusias mendapat Gunungan

“Kebetulan itu perintah saya tadi pagi supaya diparingke semua di masjid karena memang sudah diikhlaskan semua untuk masyarakat yang menunggu di masjid jangan dibawa lagi ke dalam. Karena untuk abdi dalem sudah ada jatahnya sendiri,” ujar Gusti Moeng.
Ia menyebut masyarakat yang menunggu di Masjid Agung berhak mendapatkan gunungan yang telah didoakan dalam prosesi adat tersebut.
“Gunungan yang didoakan di Masjid Agung ya semuanya diberikan untuk masyarakat,” lanjutnya.

















