Inovasi PT HATI, Siapkan Makanan Haji Siap Saji Khas Indonesia

- Puspo Wardoyo dari PT HATI menciptakan inovasi makanan siap saji khas Indonesia untuk jamaah haji, hasil riset dua tahun guna mengatasi kendala distribusi dan keterbatasan dapur di Arafah serta Mina.
- Teknologi sterilisasi suhu tinggi 121°C membuat makanan tahan hingga 18 bulan tanpa pengawet, tetap bercita rasa Indonesia, dan langsung bisa dikonsumsi tanpa pemanasan ulang.
- Meski sempat rugi hampir Rp100 miliar, kini produk PT HATI menjadi solusi utama konsumsi jamaah haji dan diharapkan dapat digunakan juga untuk kebutuhan reguler di Makkah dan Madinah.
Boyolali, IDN Times - Kepadatan jutaan jamaah saat puncak ibadah haji di Arafah dan Mina selama bertahun-tahun menjadi persoalan besar dalam distribusi konsumsi jamaah. Keterlambatan makanan, makanan basi akibat macetnya distribusi, hingga sulitnya membangun dapur umum di kawasan padat menjadi tantangan yang terus berulang.
Berangkat dari persoalan itulah, Owner PT Halalan Thayyiban (HATI), Puspo Wardoyo, mulai melakukan inovasi makanan Ready to Eat (RTE) atau makanan siap saji khas Indonesia yang kini menjadi salah satu solusi konsumsi jamaah haji Indonesia di Arab Saudi.
1. Lakukan penelitian selama dua tahun hingga temukan teknologi pertama di Indonesia.

Ditemui di Hotel Capsule, Kalipepe Land, Puspo mengungkapkan, ide tersebut muncul dari pengalaman panjangnya mengelola rumah makan dan layanan katering Indonesia di Arab Saudi. Ia melihat langsung betapa kompleksnya penyediaan makanan bagi jutaan jamaah yang berkumpul dalam waktu bersamaan di area terbatas.
“Puncak haji itu ada di Arafah dan Mina. Bisa dibayangkan dua juta orang berkumpul di tempat yang sempit. Transportasi macet, logistik susah masuk, dapur juga terbatas. Dulu sebelum ada Ready to Eat, makanan sering terlambat bahkan basi,” ujar Puspo Wardoyo kepada IDN Times, Jumat (15/5/2026).
Menurutnya, kondisi di Arafah dan Mina memang tidak memungkinkan pembangunan dapur besar. Bahkan untuk ruang jamaah saja sangat terbatas.
“Untuk manusia saja sudah sesak sekali, apalagi mau bikin gudang atau dapur besar. Karena itu kami berpikir harus ada solusi makanan yang praktis, aman, tapi tetap bercita rasa Indonesia,” katanya.
Dari situlah Puspo mulai melakukan penelitian sejak 2019. Ia bersama tim pangan yang dipimpin oleh Ir. Sugiri lulusan dari UGM melakukan riset selama lebih dari dua tahun untuk menciptakan makanan siap saji yang mampu bertahan lama tanpa bahan pengawet, namun tetap memiliki tekstur dan rasa seperti masakan fresh. Bahkan teknologi yang ia temukan merupakan teknologi yang pertama diterapkan di Indonesia.
“Yang paling sulit itu bagaimana makanan tetap rasa Indonesia, teksturnya tidak berubah, tahan lama, dan bisa langsung dimakan tanpa dipanaskan. Itu tantangan utamanya,” ungkapnya.
“Dan ini satu-satu teknologi yang punya kita, yang tanpa bahan pengawet tapi bisa tahan lama juga,” sambungnya.
2. Gunakan teknologi sterilisasi yang bisa awet hingga 18 bulan, dan tanpa bahan pengawet.

Hasilnya, pada tahun 2023 PT HATI berhasil mengembangkan teknologi sterilisasi makanan menggunakan suhu 121 derajat Celsius dengan tekanan tinggi. Makanan dikemas secara vakum sehingga mikroba patogen mati dan produk mampu bertahan hingga 18 bulan.
“Kenapa bisa awet? Karena makanan dikemas higienis secara vakum lalu dipanaskan dengan suhu tinggi. Jadi mikroba mati hampir 100 persen dan dari luar juga tidak bisa masuk lagi,” jelas Direktur Utama PT HATI, Ir. Sugiri dikesempatan yang sama.
Berbeda dengan makanan instan biasa, produk Ready to Eat buatan PT HATI diklaim tidak menggunakan bahan pengawet. Produk tersebut meliputi rendang ayam, opor ayam, semur ayam, gulai kambing hingga bubur siap santap.
Bahkan makanan tersebut dapat langsung dimakan tanpa microwave maupun pemanasan ulang.
“Ini bukan seperti mi instan atau makanan kaleng biasa. Kami menciptakan makanan full meal, nasi dan lauk lengkap, yang bisa langsung dimakan tanpa dipanaskan,” katanya.
Lebih lanjut, Puspo Wardoyo menambahkan selain makanan siap saji, PT HATI juga memasok pasta atau bumbu dasar Indonesia untuk dapur katering jamaah di Arab Saudi. Tahun ini, perusahaan mengirim sekitar 300 ton pasta bumbu khas Indonesia.
Menurut Puspo, keberadaan pasta tersebut sangat penting karena sebagian besar juru masak di Arab Saudi berasal dari India sehingga rasa makanan jamaah Indonesia sering berubah.
“Kalau yang masak orang sana, nanti gulai rasa India, rendang rasa India. Makanya dapur-dapur di sana wajib menggunakan pasta Indonesia supaya rasa tetap khas Indonesia,” ujarnya.
Seluruh rempah dan bahan baku disebut berasal dari petani lokal Indonesia. Ia juga menegaskan teknologi sterilisasi tanpa pengawet lebih aman bagi kesehatan jamaah, terutama lansia.
“Dulu pasta yang dikirim pakai pengawet karena perjalanan kapal sampai 40 hari. Orang tua banyak batuk pilek, gangguan pencernaan. Sekarang dengan teknologi sterilisasi tidak perlu pengawet lagi,” katanya.
3. Sempat rugi miliaran, hingga ingin produknya bisa digunakan untuk konsumsi reguler.

Meski kini menjadi solusi utama konsumsi jamaah haji, perjalanan inovasi tersebut tidak mudah. Pada pengiriman awal, produk makanan siap saji PT HATI sempat diragukan sehingga tidak digunakan secara maksimal.
Akibatnya perusahaan mengalami kerugian besar hingga hampir Rp100 miliar.
“Awalnya orang belum yakin makanan seperti ini bisa berhasil. Produk pertama bahkan sempat tidak dipakai. Tapi setelah dicoba dan terbukti sukses, sekarang justru jadi solusi utama,” ungkap Puspo yang juga owner Wong Solo Group tersebut.
Saat ini PT HATI memproduksi makanan Ready to Eat dengan melibatkan sekitar 400 tenaga kerja lokal. Seluruh proses dilakukan dengan standar higienitas ketat, mulai dari pergantian alas kaki, cuci tangan, hingga penggunaan sarung tangan bagi pekerja produksi.
Produk tersebut juga telah mengantongi berbagai sertifikasi penting seperti BPOM, halal BPJPH, ISO 22000, hingga persetujuan Saudi Food and Drug Authority (SFDA).
Ke depan, Puspo berharap makanan Ready to Eat tidak hanya digunakan saat puncak haji, tetapi juga menjadi solusi konsumsi jamaah reguler di Makkah dan Madinah selama menjalankan ibadah. Hal ini diungkapkan karena ia melihat langsung banyak makanan para jemaah yang telat dimakan dan akhirnya basi. Untuk itu ia menawarkan solusi agar jemaah diberi makanan RTE.
“Ini sebenarnya solusi jangka panjang untuk konsumsi jamaah haji Indonesia. Lebih praktis, lebih sehat, ekonomis, dan distribusinya jauh lebih mudah,” pungkasnya.

















