Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jateng Stop Jual Garam Mentah ke Luar Daerah, Bangun Sentra Pengolahan
Proses pengeringan garam pasca dipanen petambak Kabupaten Pati dikerjakan menggunakan mesin di dalam gudang. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)
  • Pemprov Jawa Tengah menghentikan pola penjualan garam krosok ke luar daerah melalui program hilirisasi, agar nilai tambah pengolahan dinikmati petambak dan pelaku usaha lokal.
  • Program Sentra Ekonomi Garam Rakyat berlandaskan Pergub Jateng Nomor 20 Tahun 2024, regulasi yang mengatur tata kelola serta hilirisasi garam daerah.
  • Lima kabupaten disiapkan sebagai sentra pengolahan dan penyimpanan, dengan dukungan BUMD serta IKM, termasuk kapasitas PT SPJT hingga 25 ribu ton per tahun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Tahun 2024

Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 20 Tahun 2024 tentang Rencana Induk Pergaraman Daerah menjadi dasar program hilirisasi garam dan pembentukan SEGAR.

Senin (10/8/2026)

DKP Jawa Tengah menyatakan sebagian besar garam krosok produksi Jateng selama ini dikirim ke luar provinsi untuk diolah. Pemprov menyiapkan sentra pengolahan garam di lima kabupaten agar nilai tambah dinikmati petambak dan pelaku usaha lokal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membentuk Sentra Ekonomi Garam Rakyat untuk mengolah garam krosok di daerah asal sebelum dipasarkan sebagai produk bernilai lebih tinggi.
  • Who?
    Pemprov Jawa Tengah, Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah, petambak garam, BUMD, IKM, serta PT SPJT terlibat dalam rencana hilirisasi garam.
  • Where?
    Sentra direncanakan di Kecamatan Batangan, Kaliori, Kedung, Gajah/Kedung, dan Tanjung, masing-masing di Kabupaten Pati, Rembang, Jepara, Demak, dan Brebes.
  • When?
    Kebijakan ini merupakan tindak lanjut Pergub Jawa Tengah Nomor 20 Tahun 2024. Keterangan pelaksanaan disampaikan Lilik Harnadi pada Senin, 10 Agustus 2026.
  • Why?
    Selama ini sebagian besar garam krosok Jawa Tengah dikirim ke luar provinsi untuk diolah, sehingga nilai tambah ekonomi belum banyak dinikmati petambak dan pelaku usaha lokal.
  • How?
    Pemprov menetapkan satu kecamatan sebagai pusat pengolahan dan penyimpanan di tiap daerah penghasil garam, serta menggandeng BUMD dan IKM untuk menyerap dan mengolah produksi petambak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Jawa Tengah mau tidak lagi menjual garam mentah ke daerah lain. Dulu garam dari petambak dibawa keluar, lalu diolah dan dijual kembali dengan harga mahal. Sekarang pemerintah akan membuat tempat mengolah garam di Pati, Rembang, Jepara, Demak, dan Brebes. Harapannya petambak garam dapat uang lebih banyak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pembentukan sentra pengolahan garam di lima wilayah memberi arah baru bagi tata kelola garam rakyat Jawa Tengah. Dengan pengolahan dilakukan lebih dekat dengan lokasi produksi serta dukungan BUMD dan IKM, nilai ekonomi yang sebelumnya berpindah keluar daerah berpeluang lebih banyak dinikmati petambak dan pelaku usaha pesisir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai mengubah tata kelola industri garam rakyat. Upaya ini dilakukan agar petambak tidak lagi hanya menjual garam krosok dengan harga murah ke luar daerah.

Melalui pembentukan Sentra Ekonomi Garam Rakyat (SEGAR), garam hasil produksi petambak akan diolah terlebih dahulu di daerah asal sebelum dipasarkan. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus pendapatan petambak garam.

Program tersebut merupakan tindak lanjut dari Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 20 Tahun 2024 tentang Rencana Induk Pergaraman Daerah, yang disebut menjadi regulasi pertama di Indonesia yang mengatur tata kelola dan hilirisasi garam daerah.

1. Garam mentah selama ini diolah di luar Jateng

Proses pengemasan garam hasil panen petambak Kabupaten Pati dilakukan di gudang milik SPHJ. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

Kepala Bidang Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Tengah, Lilik Harnadi mengatakan, selama ini sebagian besar garam krosok produksi Jateng dikirim ke luar provinsi.

Selanjutnya di daerah lain, garam tersebut diolah menjadi garam konsumsi maupun bahan baku industri sebelum kembali dipasarkan ke Jawa Tengah dengan harga yang lebih tinggi.

“Selama ini garam krosok kita sebagian besar dikirim ke luar provinsi, lalu di sana diolah. Setelah jadi produk industri atau garam konsumsi bermerek, barangnya dijual lagi ke Jawa Tengah dengan harga mahal. Ini membuat nilai tambah ekonominya tidak dinikmati petambak kita,” ungkapnya, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alasan Pemprov menyusun kebijakan hilirisasi garam agar manfaat ekonomi lebih banyak dirasakan masyarakat pesisir.

2. Lima kabupaten disiapkan jadi sentra pengolahan garam

Tambak garam yang ada di pesisir Jawa. (IDN Times/Dok KPPMPI)

Sebagai implementasi Pergub, Pemprov membentuk Sentra Ekonomi Garam Rakyat (SEGAR) di setiap kabupaten penghasil garam. Pemerintah menetapkan satu kecamatan di masing-masing daerah sebagai pusat pengolahan dan penyimpanan garam.

Lima wilayah yang diproyeksikan menjadi sentra SEGAR meliputi Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Kecamatan Gajah/Kedung, Kabupaten Demak, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes.

“Arah kita adalah menghadirkan unit pengolahan atau pabrik di lokasi sentra tersebut,” ujar Lilik.

Pemprov juga akan menggandeng BUMD maupun industri kecil menengah (IKM) untuk menyerap garam hasil produksi petambak. Salah satunya melalui PT SPJT yang memiliki kapasitas pengolahan hingga 25 ribu ton garam per tahun.

3. Hilirisasi diharapkan tingkatkan pendapatan petambak

Kondisi tambak garam yang tersebar di pesisir Jawa. (IDN Times/Dok KPPMPI)

Dengan skema tersebut, garam yang dipasarkan keluar dari Jawa Tengah diharapkan sudah berbentuk produk olahan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

“Jadi garam yang keluar dari Jawa Tengah sudah dalam bentuk produk olahan bernilai tinggi,” katanya.

Melalui program hilirisasi, Pemprov Jawa Tengah ingin mengurangi ketergantungan petambak pada penjualan garam mentah.

Selain memperkuat industri pengolahan di daerah, langkah tersebut diharapkan membuka peluang usaha baru sekaligus meningkatkan daya saing garam rakyat di pasar nasional.

Pemprov menilai nilai tambah dari proses pengolahan seharusnya dapat dinikmati petambak dan pelaku usaha lokal, bukan justru berpindah ke daerah lain.

Curated For You

Editorial Team

Related Article