Jelang Ramadan, Eks Rumah Dinas Rutan Disulap Jadi Kafe Produktif

- Ruang usaha sekaligus ruang pemulihan sosial
- Menu hangat favorit saat Ramadan 1447 Hijriah
- Titik balik kehidupan bagi para mantan napi
Banyumas, IDN Times - Menjelang Ramadan, suasana di kawasan Kota Lama, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terasa berbeda. Sebuah bangunan yang dulunya merupakan rumah dinas Kepala Rumah Tahanan Negara (Rutan) Banyumas kini tampil lebih hidup. Tempat itu tak lagi identik dengan birokrasi dan jeruji, melainkan aroma masakan hangat dan aktivitas warga yang silih berganti.
Rumah dinas tersebut kini disulap menjadi kafe sekaligus pusat pemberdayaan warga binaan melalui program kemandirian yang dikelola Griya Abhibraya Kota Lama Banyumas bekerja sama dengan Balai Pemasyarakatan Purwokerto serta kelompok masyarakat peduli pemasyarakatan.
Menurut Pengelolanya, Wahyu Baharudin bahawa transformasi ini tidak hanya perubahan fungsi bangunan, tetapi juga perubahan cara pandang. "Ini hanya perubahan cara pandang, bahawa kita mampu memanfaatkan apapun menjadi sumber ekonomi kreatif,"katanya.
1. Ruang usaha sekaligus ruang pemulihan sosial

Program ini membuka peluang bagi klien pemasyarakatan yang telah memperoleh disposisi dan menjalani asimilasi untuk kembali produktif di tengah masyarakat. Mereka diberdayakan dalam berbagai bidang usaha, mulai dari layanan cuci mobil dan cuci motor hingga pengelolaan kafe.
Wahyu Baharudin, mengatakan konsep yang dibangun bukan hanya soal bisnis. "Harapan kami, kehadiran tempat ini bisa mengubah stigma masyarakat terhadap mantan narapidana. Kami ingin menunjukkan bahwa mereka mampu bekerja, mandiri, dan memberikan pelayanan terbaik,"ujarnya.
Menurut Wahyu, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari omzet, tetapi juga dari tingkat kepercayaan diri para klien pemasyarakatan yang perlahan tumbuh kembali setelah menjalani proses hukum.
2. Menu hangat favorit saat Ramadan 1447 Hijriah

Selain menjadi tempat bersantai, kafe ini juga menawarkan beragam menu dengan harga terjangkau, mulai dari Rp8 ribu hingga Rp20 ribu. Harga yang ramah di kantong membuatnya cocok menjadi pilihan menu buka puasa bersama keluarga maupun teman.
Salah satu menu andalan adalah sop daging kulit sapi atau yang akrab disebut “kultik”. Kuahnya yang gurih dan hangat menjadi favorit, terutama saat musim hujan dan menjelang waktu berbuka. Selain itu, tersedia pula nasi goreng dan aneka hidangan rumahan lainnya. Dalam sehari, penjualan menu unggulan bahkan bisa mencapai 30 hingga 40 porsi.
Lokasinya yang strategis di pusat kota dan bersebelahan dengan Rutan Banyumas membuat kafe ini mudah diakses masyarakat. Banyak pelanggan datang bukan hanya karena penasaran dengan konsepnya, tetapi juga karena cita rasanya.
Salah satu pelanggan, Handayani, mengaku puas dengan kualitas hidangan yang disajikan. "Kuahnya segar, dagingnya empuk, dan harganya terjangkau. Cocok banget buat makan hangat apalagi jelang buka puasa,"katanya.
3. Titik balik kehidupan bagi para mantan napi

Bagi para klien pemasyarakatan, kesempatan bekerja di kafe ini menjadi momentum penting untuk memulai babak baru kehidupan. Salah satunya Tetuko, yang kini aktif membantu operasional dapur dan layanan cucian kendaraan.
Ia mengaku bersyukur mendapat peluang tersebut setelah menjalani asimilasi. Berbekal pengalaman di bidang food and beverage saat merantau di Jakarta, ia kini mengasah kembali keterampilannya sekaligus belajar hal baru. Baginya, kesempatan bekerja ini bukan hanya memberi penghasilan, tetapi juga memulihkan rasa percaya diri dan harga diri yang sempat runtuh.
"Saya ingin memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Ilmu yang saya dapatkan di sini semoga bisa jadi modal untuk buka usaha sendiri nanti,"ujarnya.
4. Mengikis stigma Dan membangun harapan

Sementara pengacara kondang Banyumas, Djoko Susanto memberikan pandangan bahawa program pemberdayaan yang dilakukan oleh Rutan Banyumas melaleuca pemanfaatn ruang ini menjadi contoh bahwa proses reintegrasi sosial tidak bisa berjalan tanpa dukungan masyarakat. Dengan membuka ruang interaksi langsung antara warga dan mantan narapidana, stigma perlahan bisa dikikis.
"Kehadiran kafe pemberdayaan di bekas rumah dinas Rutan Banyumas menjadi sinyal positif bahwa kesempatan kedua itu nyata, bangunan lama yang dulu identik dengan sistem pemasyarakatan kini berubah menjadi ruang tumbuh dan harapan baru,"ujarnya.
Di tengah suasana jelang Ramadann bulan yang identik dengan refleksi dan pengampunan kisah ini terasa semakin relevan. "Bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk bangkit, memperbaiki diri, dan kembali berkontribusi secara positif di tengah masyarakat,"pungkasnya.


















