Semarang, IDN Times - Institute for Essential Services Reform (IESR) bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia merilis kajian The Solar Archipelago: Indonesia's 100 GW Leap to Energy Sovereignty, Senin (23/2/2026). Kajian tersebut merumuskan rancangan strategis pelaksanaan instruksi Presiden Prabowo terkait pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt (GW) yang dicanangkan pada pertengahan 2025 lalu.
Dokumen tersebut menawarkan analisis komprehensif terkait pembangunan PLTS 100 GW yang diintegrasikan dengan Sistem Penyimpanan Energi Baterai (BESS). Fokus utama implementasi mencakup dua strategi dasar: percepatan penghentian Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berbiaya tinggi yang diselaraskan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN, serta pengembangan energi surya skala desa untuk mendukung sektor ekonomi produktif, termasuk Koperasi Desa Merah Putih dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
