Kartini dalam Diam, Perempuan yang Menjaga di Balik Tugas Hukum

- Peggy Luthcas, istri Kepala Kejari Banyumas, menegaskan peran perempuan tak berhenti di rumah tangga, tapi juga aktif berkontribusi sosial melalui kegiatan Ikatan Adhyaksa Dharmakarini.
- Dalam refleksi Hari Kartini, peserta menilai perjuangan perempuan kini bergeser ke ruang digital dengan fokus pada kesetaraan akses, perlindungan daring, dan pemberdayaan ekonomi berbasis teknologi.
- Kegiatan seperti peragaan busana Kartini, tukar kado, dan tebus sembako murah menjadi simbol kebersamaan serta bentuk kepedulian nyata antaranggota IAD di lingkungan Kejari Banyumas.
Banyumas, IDN Times - Dibalik tugas besar seorang kepala kejaksaan negeri, ada peran penting yang kerap luput dari sorotan yakni sosok pendamping yang setia menopang dari sisi keluarga sekaligus sosial. Hal ini tergambar dari peran Peggy Luthcas, istri Kepala Kejaksaan Negeri Banyumas, yang aktif menggerakkan kegiatan perempuan melalui Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) di Kejari Banyumas.
Sebagai pendamping suami dalam menjalankan tugas negara, Peggy menegaskan bahwa peran perempuan tidak berhenti di ranah domestik, tetapi juga memiliki kontribusi sosial yang nyata.
"Sebagai pendamping, kami tidak hanya mendukung dari belakang, tapi juga ikut mengambil peran dalam kegiatan sosial dan kebersamaan, momentum Hari Kartini ini menjadi penting bahwa perempuan bisa berkontribusi dari berbagai sisi,"ujar Peggy kepada IDN Times, Selasa (21/4/2026).
Ia menambahkan, kegiatan yang digelar memperingati hari Kartini sebagai upaya membangun solidaritas antarperempuan di lingkungan kejaksaan negeri Banyumas.
1. Ruang digital menjadi medan baru perjuangan perempuan

Dalam sesi refleksi, Peggy menilai, tantangan perempuan saat ini berbeda, namun semangatnya tetap sama."Kalau Kartini hidup di era sekarang, mungkin beliau akan fokus pada kesetaraan akses digital, perlindungan perempuan di media sosial, dan pemberdayaan ekonomi berbasis teknologi,"ujarnya.
Hal ini diamini oleh salah satu peserta, gelaran kebaya ala Kartini, Angelina Fiska, yang menilai bahwa ruang digital menjadi medan baru perjuangan perempuan.
"Sekarang perempuan harus kuat tidak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia digital. Edukasi dan perlindungan itu penting,"kata Angelina.
Ia juga menyinggung bahwa peringatan Hari Kartini dahulu lebih kental dengan forum diskusi intelektual tentang pendidikan dan emansipasi perempuan.
Menurut Angelina, nilai tersebut kini mulai dihidupkan kembali dengan pendekatan yang lebih santai.
“Dulu mungkin bentuknya diskusi formal, sekarang kita kemas lebih ringan tapi tetap ada makna refleksinya,” ujarnya.
2. Perjuangan Kartini belum selesai

Bagi Angelina, perayaan Kartini tidak harus selalu besar dan formal, justru dari hal-hal sederhana, nilai kebersamaan lebih terasa.
"Lewat gelaran pakaian ala Kartini dan tukar kado atau kegiatan sosial seperti ini, kita bisa saling menguatkan, itu yang menurut saya paling penting dari Hari Kartini,"katanya.
Ditambahkan Angel, ditengah perubahan zaman, semangat Raden Ajeng Kartini tetap hidup dalam berbagai bentuk seperti aksi nyata, kepedulian sosial, dan ruang refleksi.
"Perempuan hari ini terus menunjukkan bahwa perjuangan Kartini belum selesai ia hanya bertransformasi mengikuti zaman,"ujarnya.
3. Gelar busana Kartini dan tebus murah

Total ada tujuh perwakilan yang terlibat, terdiri dari satu wakil dari lima seksi, enam peserta dari subbag, serta anggota IAD. Kolaborasi ini mencerminkan semangat kebersamaan lintas peran perempuan dalam satu lingkungan kerja.
Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian adalah gelar peragaan busana Kartini dan tukar kado, dan tebus sembako murah. Tradisi sederhana ini menjadi simbol saling menghargai sekaligus mempererat hubungan antar peserta.
"Nilai hadiahnya mungkin tidak besar, tapi makna kebersamaannya yang utama, dari sini kita belajar saling menghargai dan berbagi,"kata Peggy.
Selain itu, digelar pula program tebus murah sembako khusus bagi anggota IAD, dengan rentang harga Rp4 ribu hingga Rp18 ribu. Paket yang tersedia meliputi alat mandi hingga makanan ringan.
Menurut Peggy, program ini menjadi bentuk kepedulian nyata yang sederhana namun berdampak.
“Kami ingin kegiatan ini tidak hanya menyenangkan, tapi juga bermanfaat, dengan harga terjangkau, harapannya bisa membantu dan meringankan kebutuhan sehari hari,"pungkasnya.


















