Kementerian Sosial menyalurkan BLT Minyak Goreng di Kepulauan Riau, Kamis (20/5/2022). (dok. Kemensos)
Lebih lanjut, Prof. Anton juga menyoroti program bantuan langsung tunai (BLT) yang diberikan oleh pemerintah sebesar Rp600 ribu untuk 16 juta penduduk di Indonesia. Menurutnya, bantuan tersebut hanya bersifat jangka pendek, padahal dampak kenaikan harga BBM sendiri bisa dirasakan oleh masyarakat hingga akhir tahun mendatang.
Terlebih batuan BLT hanya diberikan untuk masyarakat miskin, sedangkan yang perlu diwaspadai adalah masyarakat rentan miskin yang diprediksi akan mengalami penurunan daya beli.
"Ok di masyarakat paling bawah disiapkan bantalannya termasuk mereka yang gajinya dibawah Rp 3,5 juta, hanya saja kan ada juga mereka yang rentan dengan gangguan terhadap pada kenaikan harga, misalnya mereka yang sedikit gajinya diatas UMR itu kan kemungkinan mereka tidak akan masuk kedalam jaringan bantuan sosial, bisa jadi mereka daya belinya berkurang," katanya.
Prof. Anton menambahkan kenaikan harga BBM jika tidak diselesaikan secara merata akan menambah jumlah masyarakt miskin di Indonesia.
"Ya kalau itung-itungan angkanya ya pasti, tiap kali ada inflasi ada kenaikan itu nanti pasti jumlah orang miskin akan bertambah, karena pukulannya tidak hanya kena sektor-sektor konsumsi masyarakat tapi juga sektor produktif, terutama yang usaha UMKM yang pasti akan terdampak. Jadi apa jumlah orang miskin naik, nah bisa dipastikan ia," ungkapnya.