Demak, IDN Times - Suhu udara terasa panas di dalam dapur berukuran 2x3 meter di kawasan Batursari, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Kamis (20/8/2026). Di atas kompor dua tungku yang menyala biru, spatula kayu beradu dengan dasar wajan berdiameter setengah meter. Ashfiyatul Mardiyatillah (36), atau Fiya, mengaduk lima kilogram cumi. Aroma bawang putih, ketumbar, lengkuas, dan tinta cumi tercium pekat di ruangan tersebut.
Keranjang Belanja Sang Penjual: Membangun Rantai Pasok Digital dari Dapur 2x3 Meter

- Fiya, pemilik usaha rumahan Cumi Item di Demak, tetap membeli cumi dan bumbu dari pemasok lokal, sambil mencari kemasan serta peralatan khusus melalui marketplace.
- Setelah kesulitan menemukan stoples kaca terjangkau di Demak dan Semarang, Fiya membeli 15 stoples serta 25 tutup dari Jakarta seharga Rp217.218 dengan perlindungan pengiriman.
- Kemasan kaca mendorong pesanan hampers Cumi Item naik 20 persen dan membuka varian premium Rp150.000; pola belanja digital melengkapi, bukan menggantikan, rantai pasok lokal.
Dapur itu adalah tempat produksi "Cumi Item", usaha kuliner rumahan yang dirintis Fiya sejak satu setengah tahun lalu. Kelancaran produksi olahan makanan laut tersebut bertumpu pada rantai pasok lokal di lingkungan sekitarnya.
Setiap pagi, bahan baku dikirim ke rumah Fiya. Cumi segar dipasok oleh Ngatirah (49), seorang nelayan perempuan dari pesisir Demak. Sementara itu, bumbu seperti cabai, bawang, dan empon-empon dibeli Fiya dari pedagang sayur di pasar tradisional setempat.
Ketersediaan pasokan bahan segar itu memungkinkan Fiya untuk fokus pada strategi pemasaran. Olahan cumi yang awalnya dipasarkan sebagai lauk harian keluarga, mulai menarik minat segmen konsumen yang berbeda.
Dalam beberapa bulan terakhir, Fiya rutin menerima pesan dari pelanggan yang meminta agar Cumi Item dikemas lebih rapi untuk dijadikan bingkisan hantaran (hampers). Permintaan itu menuntut pembaruan. Selama ini, Fiya menggunakan plastik vakum karena harganya murah dan aman untuk pengiriman jarak jauh. Namun, menurut Fiya, kemasan vakum kurang sesuai dengan tampilan yang diinginkan pelanggan untuk produk hantaran.
“Hampir setiap minggu ada pelanggan yang nge-chat dan tanya, bisa nggak sih Cumi Item dikemas untuk hantaran. Dari situ saya sadar, iya juga ya, kalau terus-terusan mengandalkan plastik vakum, produk ini tidak akan bisa masuk ke pasar hampers (bingkisan) karena secara visual kurang elegan. Ibaratnya, kita menaikkan derajat Cumi Item sebagai masakan rumahan juga,” cerita perempuan kelahiran Pontianak itu.
Ketika Keranjang Lokal Tidak Lagi Cukup

Paket kemasan siap kirim Cumi Item Rasa yg Berkah. (IDN Times/Dhana Kencana) Untuk memenuhi permintaan pasar, Fiya memutuskan mengganti plastik vakum dengan stoples kaca. Isi, takaran, dan resep bumbu tetap sama.
Akan tetapi, rencana tersebut terganjal oleh terbatasnya ketersediaan stok produk di daerah. Fiya membutuhkan stoples kaca dengan tutup rapat, ukuran sesuai gramasi produk, serta material yang dapat digunakan dalam proses penanganan kemasan yang diterapkannya.
Fiya menghabiskan waktu beberapa hari mendatangi belasan toko grosir kemasan di Demak hingga pusat perbelanjaan di Kota Semarang. Hasilnya nihil. Kalaupun ada stoples kaca, spesifikasinya tidak sesuai standar industri rumahan atau harganya melampaui perhitungan batas keuntungan.
"Saya mendatangi toko-toko dari Demak sampai Semarang sana berhari-hari. Ada stoples yang mirip, tapi harganya mahal. Kalau dipaksakan beli di sini, harga jual Cumi Item terpaksa naik drastis, pelanggan bisa lari," kata Fiya.
Keterbatasan variasi barang-barang untuk kebutuhan usaha itu merupakan kendala umum bagi pelaku usaha mikro di luar kota besar. Dampaknya, rencana ekspansi sering kali tertunda akibat tidak adanya alat pendukung produksi di sekitar tempat tinggal mereka.
Solusi hambatan logistik tersebut didapatkan Fiya melalui grup WhatsApp "Pasar Sehati Semarang", sebuah komunitas UMKM lokal. Seorang anggota grup, Sari Astuti (55), mengirimkan tautan toko daring bernama Layora21 di platform lokapasar (marketplace) Shopee.
Toko tersebut menjual stoples dengan spesifikasi dan harga yang sesuai dengan perhitungan Fiya. Kendalanya, toko pemasok tersebut berlokasi di Jakarta, berjarak sekitar 458 kilometer dari Demak.
Pengadaan Barang Lewat Layar Ponsel

Bukti pemesanan stoples kaca untuk Cumi Item melalui aplikasi Shopee. (IDN Times/Dhana Kencana) Membeli barang pecah belah antarprovinsi memunculkan kekhawatiran bagi pelaku UMKM. Ada risiko kaca pecah saat pengiriman, tingginya ongkos kirim, hingga barang tidak sesuai deskripsi.
Fiya memitigasi risiko tersebut dengan membaca ulasan satu per satu dari pembeli sebelumnya. Ia memeriksa foto-foto bukti penerimaan barang untuk memastikan penjual menggunakan pengemas pelindung (bubble wrap) yang tebal.
Keberadaan voucer Gratis Ongkir menjadi pendorong utama Fiya untuk menekan biaya pengiriman antarkota. Kekhawatirannya akan risiko kaca pecah di jalan berhasil dimitigasi oleh fitur Garansi Bebas Pengembalian, yang memastikan dana kembali penuh jika barang rusak, serta perlindungan Garansi Tepat Waktu dari Shopee.
Berbekal keyakinan tersebut, Fiya membelanjakan Rp217.218 untuk membeli 15 stoples kaca beserta 25 tutup kedap udara dari dua toko berbeda di platform marketplace yang mulai beroperasi di Indonesia 1 Desember 2015 itu.
Dua hari berselang, kurir mengantarkan paket tersebut ke rumahnya.
"Waktu kurir datang, saya merekam video unboxing untuk berjaga-jaga. Ternyata, dari belasan stoples kaca yang dikirim dari Jakarta itu, tidak ada satu pun yang retak atau pecah," ujar Fiya.
Setelah varian kemasan kaca tersebut dipromosikan dan dipasarkan, pesanan untuk segmen bingkisan meningkat 20 persen. Cumi Item kemasan plastik yang dijual seharga Rp130.000, kini memiliki varian premium seharga Rp150.000. Selisih Rp20.000 tersebut mampu diserap oleh konsumen yang mencari estetika hantaran, sekaligus meningkatkan margin keuntungan Cumi Item.
Perubahan Pola Belanja UMKM

Ashfiyatul Mardiyatillah (36) membawa produk Cumi Item premium stoples kaca. (IDN Times/Dhana Kencana) Praktik pengadaan barang yang dilakukan Fiya merepresentasikan perubahan cara UMKM menggunakan platform digital (digitalisasi). Saat IDN Times menelusuri riwayat transaksinya, Fiya tercatat melakukan 11 transaksi senilai total Rp3,2 juta dalam 14 bulan terakhir khusus untuk peralatan usahanya.
Melalui Shopee, ia membeli wajan berukuran besar, kotak pendingin (cooler box) untuk menyimpan cumi, mesin penyegel plastik (sealer), alat penggiling bumbu (chopper), dan tripod banner untuk pameran, yang dikirim tujuh penjual dari empat kota yang berbeda.
Pengadaan barang modal—seperti peralatan, kemasan, dan perlengkapan produksi—lewat platform marketplace tersebut selaras dengan temuan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Statistik E-Commerce 2023. BPS memperkirakan terdapat 3,82 juta usaha e-commerce di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 37,17 persen memanfaatkan internet untuk melakukan pemesanan atau pembelian bahan baku. Jika persentase itu diterapkan pada jumlah usaha yang diperkirakan BPS, nilainya setara dengan sekitar 1,42 juta pelaku usaha.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa teknologi digital bagi pelaku usaha tidak semata menjadi kanal penjualan, tetapi juga digunakan untuk menopang kebutuhan usaha dari sisi pengadaan (procurement).
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira melihat, teknologi digital dapat berperan lebih jauh dalam proses produksi. Dalam konteks transformasi industri hijau, ia menilai pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan dapat membantu industri kecil dan menengah mengoptimalkan penggunaan energi dan bahan baku secara lebih efisien.
Dalam skala usaha rumahan, pola efisiensi dan pergeseran itu terlihat pada keranjang belanja Fiya. Transisinya dari plastik vakum sekali pakai menuju kemasan kaca yang berkelanjutan dimungkinkan oleh teknologi digital. Aplikasi Shopee tidak digunakannya untuk menjual Cumi Item, melainkan untuk membeli kemasan dan peralatan produksi yang sulit diperoleh dari pasar sekitar.
Pergeseran pemanfaatan teknologi menuju proses bisnis itu sejalan dengan pandangan pemerintah. Asisten Deputi Kemitraan Rantai Pasok dan Pemasaran Usaha Kecil Kementerian UMKM, Yogia Prihartiny menekankan bahwa transformasi digital UMKM tidak berhenti pada kehadiran di platform daring. Pemanfaatan teknologi, menurutnya, juga harus diarahkan pada peningkatan produktivitas dan daya saing.
"Transformasi digital UMKM hari ini bukan lagi sekadar hadir di platform online, tetapi bagaimana UMKM dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat daya saing," ujarnya saat di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (18/6/2026).
Ekosistem digital yang digunakan pelaku UMKM seperti Fiya tidak hanya terdiri dari etalase marketplace saja. Di belakang transaksi tersebut terdapat jaringan pembayaran dan pengiriman yang memungkinkan barang berpindah antarkota hingga sampai ke pelaku usaha di daerah.
Sebagai pelaku industri, Shopee merespons kebutuhan jalur distribusi tersebut dengan memperluas jangkauan layanan mereka. Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia, Balques Manisang mengatakan, perusahaannya terus memperkuat dukungan dari hulu ke hilir, salah satunya melalui Program Akselerasi Produk Lokal bersama Kementerian Perdagangan pada Kamis (13/8/2026). Program tersebut mengintegrasikan sejumlah dukungan bagi pelaku usaha, mulai dari peningkatan keterampilan digital, dukungan operasional, promosi, hingga akses pasar.
"Visi penguatan produk lokal ini kami dukung dengan perluasan infrastruktur logistik SPX Express. Saat ini, layanan kami telah menjangkau 514 kota dan kabupaten di seluruh provinsi," papar Balques dalam keterangan resminya.
Ketersediaan infrastruktur logistik yang luas itu menekan biaya transportasi perlengkapan usaha, seperti stoples kaca dari Jakarta ke Demak, sehingga harganya tetap terjangkau bagi usaha rumahan.

Infografik: Aplikasi Belanja Online Terpopuler 2026 di Indonesia. (IDN Times/Dhana Kencana) Keseimbangan Pasar Tradisional dan Platform Digital

Produk Cumi Item kemasan stoples kaca. (IDN Times/Dhana Kencana) Di dapurnya, Fiya menerapkan pola pengadaan secara campuran atau hibrida. Untuk kebutuhan bahan baku segar yang tersedia di sekitar tempat tinggalnya, seperti cumi dan bumbu rempah, ia tetap mengandalkan nelayan serta pedagang pasar tradisional di Demak. Namun, ketika membutuhkan kemasan, peralatan produksi, atau perlengkapan usaha dengan spesifikasi tertentu yang sulit ditemukan di pasar lokal, pencariannya diperluas melalui aplikasi Shopee.
Pola tersebut menunjukkan, digitalisasi rantai pasok tidak serta-merta menggantikan jaringan pemasok lokal. Teknologi justru menjadi jalur tambahan yang mengisi keterbatasan pasar sekitar. Bahan baku utama tetap menggerakkan ekonomi lokal, sementara marketplace memperluas akses Fiya terhadap kebutuhan usaha dari pemasok antarkota.
Praktik pengadaan silang itu sejalan dengan Kajian Pendukung Ekosistem Digital UMKM yang diterbitkan UKM Center Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) pada 2020. Kajian tersebut menyebutkan bahwa peningkatan efisiensi rantai pasok dapat berdampak positif terhadap produktivitas UMKM. Digitalisasi proses dari hulu hingga hilir juga ditempatkan sebagai salah satu cara meningkatkan efisiensi rantai pasok.
Integrasi antara pemasok lokal dan kanal pengadaan digital di sisi hulu memungkinkan usaha rumahan memperluas pilihan input produksi tanpa memutus hubungan dengan ekonomi lokal.
Selesai mematikan api kompor, Fiya mulai memindahkan olahan cuminya ke dalam deretan stoples kaca yang baru tiba dari Jakarta.
“Gak nyangka juga, dari dapur ukuran segini, saya bisa kulakan barang dari Jakarta cuma modal scrolling HP," kata Fiya. "Aplikasi Shopee ini bantu banget buat kami yang ada di daerah kalau pas butuh barang tapi di pasar sini nggak ada."

Infografik: Belanja Hulu UMKM melalui Marketplace di Indonesia. (IDN Times/Dhana Kencana)




















