Kisah Sekeluarga di Semarang Mualaf Murni Belajar Islam Didampingi KUA

- Erna dan kedua anaknya memeluk Islam murni tanpa paksaan
- KUA Mijen memberikan pendampingan spiritual dan pemberdayaan ekonomi
- KUA Mijen menerapkan metode "jemput bola" untuk memberikan pemahaman agama yang lurus
Semarang, IDN Times – Hidayah bisa datang kepada siapa saja dengan cara yang tak terduga. Hal itu dialami oleh Ernawati (41), seorang janda yang tinggal di Jatisari, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.
Tanpa paksaan dan bukan karena alasan pernikahan, Erna memantapkan hati untuk memeluk Islam pada Desember 2025 lalu, diikuti oleh kedua putranya, Marco Arjuna Jobay (12) dan Re Arthur Jobay (9).
1. Murni panggilan hati

Kondisi Erna sebagai orangtua tunggal dengan salah satu anak penyandang disabilitas daksa dan wicara, mengundang perhatian khusus dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Mijen. Pihak KUA tidak hanya memberikan legalitas status agama, tetapi juga pendampingan spiritual hingga pemberdayaan ekonomi.
Penyuluh Agama Islam KUA Mijen, Zahrotun Nisa mengungkapkan, kedatangan keluarga tersebut ke KUA didasari niat tulus. Ia berkisah, Erna datang lebih dulu untuk bersyahadat, kemudian disusul oleh anak-anaknya.
"Mereka datang ke KUA murni karena keinginan masuk Islam ya. Kadang-kadang yang sebagian besar itu kan karena mau menikah, kalau mau menikah kan mereka memang secepatnya merubah statusnya karena ada kepentingan. Kalau ini murni," kata Nisa kepada IDN Times, Kamis (15/1/2026).
2. Metode jemput bola untuk mencegah salah paham

Mengingat kondisi keluarga dan pentingnya fondasi agama Islam bagi mualaf, KUA Mijen menerapkan strategi "jemput bola" dengan mendatangi rumah Erna. Menurut Nisa, langkah tersebut dinilai krusial untuk memberikan pemahaman agama yang lurus dan sesuai koridor, serta mencegah distorsi informasi yang sering terjadi di media sosial.
"Takutnya kalau hanya belajar dari media sosial terus kemudian salah paham, bisa pahamnya menjadi salah. Jadi kita perlu mengklarifikasi," jelas Nisa.
Adapun, materi pembinaan difokuskan pada aspek fikih ibadah dasar dan adab keseharian. Nisa mengajarkan banyak hal. m tata cara salat, bacaan Al-Qur'an, hingga etika harian kepada Erna dan anak-anaknya, termasuk pendekatan khusus bagi sang anak yang berkebutuhan khusus.
"Layanan agama yang paling utama. Jadi bimbingan tentang bagaimana salat, terus kemudian membaca Al-Qur'annya, kemudian adab-adab keseharian termasuk tadi Arthur, Marco, dan Maminya," tambah Nisa.
3. Benteng akidah melalui pemberdayaan ekonomi

Selain aspek spiritual, KUA Mijen menyadari ketahanan ekonomi menjadi faktor vital dalam menjaga akidah, terutama bagi keluarga rentan. Penyuluh Agama Islam Kota Semarang yang bertugas di Mijen, Agus Winarno, menekankan pendekatan holistik dalam membina mualaf.
"Di dalam Islam kada al-faqru an yakuna kufra (kefakiran dekat dengan kekufuran). Jadi ekonomi ini bisa kalau orang kepepet (terdesak masalah keuangan), itu lebih bisa gampang menjurus ke kufur," terang Agus.
Agus menjelaskan, pihaknya ikut memetakan (mapping) terhadap latar belakang mualaf. Karena Erna berstatus janda, pendekatan yang dilakukan tidak hanya pengajaran agama, tetapi juga pemberdayaan ekonomi.
KUA Mijen sendiri bermitra dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan menyalurkan zakat profesi untuk membantu kebutuhan keluarga tersebut.
Sementara itu, dalam proses administrasi, Agus memastikan perpindahan agama Erna dan kedua anaknya dilandasi kebebasan memilih dan tanpa tekanan dari pihak mana pun, sesuai dengan prinsip hak asasi manusia (HAM).
"Sebelum masuk Islam itu ada surat pernyataan bahwa tidak dalam tekanan. Agama itu hak beragama manusia dan kebebasan memilih. Kita junjung tinggi itu," pungkasnya.


















