Kotoran Burung Puyuh di Kalisidi Ungaran Bisa Jadi Biogas, Begini Caranya

1. Kotoran burung puyuh sering timbulkan polusi udara

Menurut Anggota Paguyuban Burung Puyuh Desa Kalisidi, Sakimin, kotoran burung puyuh selama ini mengganggu polusi udara di lingkungannya. Malah, kadar amoniak yang tinggi pada kotoran burung puyuh telah menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga desanya.
“Dengan munculnya permasalahan kotoran burung puyuh atau ekskreta yang mengganggu polusi udara lingkungan sekitar. Apalagi kadar amoniak burung puyuh yang cenderung tinggi membuat warga tidak nyaman. Terutama buat peternak yang pelihara burung puyuh belakang rumah. Tapi selama ini hanya bisa dikendalikan dengan mengolah jadi pupuk kandang," katanya, Selasa (13/12/20022).
Di samping itu, Muhin, Ketua Paguyuban Peternak Burung Puyuh menuturkan masalah lainnya adalah kenaikan harga pakan yang selalu tinggi namun tidak diimbangi produksi yang optimal.
2. Pemberian pakan bagi burung puyuh sebaiknya berstandar SNI

Lebih lanjut, Dosen Peternakan di Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip Semarang, Lilik Krismiyanto, S.Pt., M.Si, sekaligus Ketua Tim Pengabdian Masyarakat menyampaikan solusi yang bisa ditempuh para peternak burung puyuh dengan memberi pakan berstandar SNI.
"Peternak biasanya memberikan pakan sehari sekali. Sehingga menyebabkan pakan berbentuk tepung tidak terkonsumsi optimal. Akibat rendahnya konsumsi pakan dapat menyebabkan asupan nutrisi unggas berkurang dan sangat berpengaruh terhadap kualitas telur," tulisnya dalam keterangan yang diterima IDN Times.
3. Kotoran burung puyuh bisa diolah jadi biogas sebagai pengganti kotoran sapi

Sedangkan, Dr Mulyono, M.Si selaku Ketua Tim Pengabdian Masyarakat bidang pengelolaan kotoran unggas dari Undip menyarankan bahwa kotoran atau ekskreta burung puyuh dapat dilakukan dipanggang menggunakan Nitrobakter.
Langkah kedua ekskreta dapat dicampur filler seperti serbuk kayu. Lalu langkah ketiga bisa dilakukan pembuatan biogas agar dapat dijadikan alternatif dalam energi terbarukan, khususnya di Desa Kalisidi yang belum mengenal metode tersebut.
“Biasanya biogas menggunakan kotoran sapi, paguyuban ternak burung puyuh akan membuat biogas menggunakan ekskreta burung puyuh,” cetusnya.
Kegiatan yang dilakukan oleh Tim Departemen FPP Undip dan program studi mahasiswa S1 Peternakan dilaksanakan dalam rangkaian percepatan tujuan pembangunan nasional berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG's).


















