Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Laba BRI Tembus Rp31,2 Triliun, 75,1 Persen Kredit Mengalir ke UMKM

Kota Semarang
Laba BRI Tembus Rp31,2 Triliun, 75,1 Persen Kredit Mengalir ke UMKM
Jajaran pimpinan memaparkan kinerja Triwulan II 2026, Senin (31/8/2026). (dok. BRI)
  • BRI mencatat laba bersih Rp31,2 triliun hingga Triwulan II 2026, naik 17,5 persen secara tahunan, dengan aset konsolidasian tumbuh 11,7 persen menjadi Rp2.352 triliun.
  • Sebanyak 75,1 persen kredit dan pembiayaan BRI Group, senilai Rp1.235,4 triliun, mengalir ke UMKM; total kredit tumbuh 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun.
  • BRI memperluas pemberdayaan UMKM lewat Desa BRILiaN, klaster usaha, LinkUMKM, Rumah BUMN, serta menyalurkan KUR Rp103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur selama Januari-Juni 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semarang, IDN Times - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI membukukan laba bersih Rp31,2 triliun hingga akhir Triwulan II 2026. Angka tersebut tumbuh 17,5 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

  1. 1. Penyaluran kredit UMKM tumbuh 8,6 persen

    Pelaku UMKM sedang mengikuti pelatihan fotografi produk di Rumah BUMN BRI Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
    Pelaku UMKM sedang mengikuti pelatihan fotografi produk di Rumah BUMN BRI Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

    Namun, di balik pertumbuhan laba tersebut, BRI tetap mempertahankan ciri utama bisnisnya sebagai bank yang bertumpu pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

    Hingga Juni 2026, sebanyak 75,1 persen portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group masih disalurkan ke UMKM, dengan nilai mencapai Rp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6 persen secara tahunan.

    Kinerja tersebut menunjukkan ekspansi bisnis BRI tidak serta-merta menggeser fokus perseroan dari ekonomi kerakyatan.

    “BRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai core business. Kami percaya pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat,” ujar Direktur Utama BRI, Hery Gunardi dalam pemaparan kinerja Triwulan II 2026 melalui keterangan resmi, Senin (31/8/2026).

    Pertumbuhan laba BRI berjalan beriringan dengan ekspansi bisnis yang cukup agresif. Hingga akhir Juni 2026, aset konsolidasian BRI mencapai Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7 persen secara tahunan.

  2. 2. Dana Pihak Ketiga tumbuh 6,7 persen

    Kantor BRI di Muladi Dome Semarang. (dok. BRI)
    Kantor BRI di Muladi Dome Semarang. (dok. BRI)

    Kredit dan pembiayaan justru tumbuh lebih tinggi, yakni 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun. Ekspansi tersebut ditopang Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.581 triliun yang tumbuh 6,7 persen secara tahunan.

    Pertumbuhan kredit turut mengerek pendapatan bunga bersih atau net interest income sebesar 9,9 persen dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun. Sementara itu, Pre-Provision Operating Profit (PPOP) meningkat 12,8 persen menjadi Rp65,7 triliun.

    Menurut Hery, angka tersebut mulai menunjukkan dampak dari transformasi bisnis yang dijalankan perseroan melalui BRIVolution Reignite.

    “Transformasi yang kami jalankan bukan semata untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi. Fokus kami adalah memastikan BRI memiliki mesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan,” katanya.

    Kenaikan laba juga dibarengi dengan sejumlah indikator fundamental yang membaik. Biaya dana atau Cost of Fund (CoF) secara bank only turun dari 3 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 2,4 persen pada periode yang sama tahun ini.

  3. 3. Bangun ekosistem UMKM naik kelas

    Pelaku UMKM pemilik usaha Idea Craft menunjukkan produknya saat mengikuti BRI Incubator 2023 di Rumah BUMN BRI Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
    Pelaku UMKM pemilik usaha Idea Craft menunjukkan produknya saat mengikuti BRI Incubator 2023 di Rumah BUMN BRI Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

    Efisiensi operasional juga meningkat. Cost to Income Ratio (CIR) turun dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen. Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3 persen menjadi 2,9 persen. Sementara Cost of Credit (CoC) membaik dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.

    Kemampuan menghasilkan imbal hasil juga menguat. Return on Equity (ROE) meningkat dari 16,6 persen menjadi 18,8 persen, sedangkan Return on Asset (ROA) bertahan di kisaran 2,7 persen.

    “Funding semakin efisien, efisiensi operasional membaik, kualitas aset semakin sehat, dan kemampuan BRI dalam menghasilkan return juga semakin kuat,” ujar Hery.

    BRI juga mencoba memperluas perannya di sektor UMKM melalui pemberdayaan. Perseroan tidak hanya menempatkan UMKM sebagai penerima pembiayaan, tetapi membangun ekosistem agar pelaku usaha dapat berkembang dan naik kelas.

    Hingga Juni 2026, program Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan. Program Klasterku Hidupku menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha.

  4. 4. LinkUMKM jangkau 17,3 juta pelaku usaha

    Pelaku UMKM melakukan registrasi untuk mengikuti pelatihan di Rumah BUMN BRI Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
    Pelaku UMKM melakukan registrasi untuk mengikuti pelatihan di Rumah BUMN BRI Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

    Sementara itu, platform digital LinkUMKM telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM dan pendampingan melalui Rumah BUMN melibatkan sekitar 596 ribu pelaku UMKM.

    Dukungan pembiayaan juga terus berjalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Sepanjang Januari-Juni 2026, BRI menyalurkan KUR Rp103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur.

    Secara kumulatif sejak 2015 hingga Juni 2026, penyaluran KUR BRI mencapai Rp1.539 triliun kepada 48,4 juta nasabah.

    “Bagi BRI, pembiayaan dan pemberdayaan merupakan satu kesatuan. Kami ingin menciptakan siklus pertumbuhan yang berkelanjutan: UMKM memperoleh akses keuangan, mendapatkan pemberdayaan dan pendampingan, meningkatkan kapasitas usahanya, kemudian naik kelas,” kata Hery.

    Dengan laba yang tumbuh dua digit dan kredit yang melaju 16,2 persen, BRI kini menghadapi tantangan untuk menjaga kualitas pertumbuhan tersebut.

    Sebab, bagi bank dengan basis UMKM terbesar seperti BRI, ukuran keberhasilan tidak hanya terletak pada seberapa besar laba yang dibukukan. Sebanyak Rp1.235,4 triliun kredit UMKM menjadi pengingat bahwa pertumbuhan BRI masih sangat terkait dengan seberapa kuat ekonomi pelaku usaha kecil bertahan dan berkembang.

    “Keberhasilan BRI tidak hanya kami ukur dari pertumbuhan aset, kredit, maupun laba. Yang juga penting adalah seberapa besar pertumbuhan tersebut mampu menciptakan nilai, membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk berkembang, dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” pungkas Hery.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More