Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menembus Pelosok, Kisah Tim RS Dr Kariadi dan Dinkes Mabar Mengobati Warga Korban Gempa
Tim Bencana RSUP Dr. Kariadi Semarang yang diterjunkan langsung ke pusat-pusat kemah pengungsian dan wilayah sulit jangkau di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. (dok
  • Tim Bencana RSUP Dr. Kariadi Semarang, beranggotakan 13 tenaga kesehatan, menembus desa terpencil dan pengungsian Manggarai Barat untuk memberi layanan medis di tengah medan terjal serta ancaman gempa susulan.
  • Selama 14 hari, kolaborasi relawan Kemenkes, tenaga kesehatan lokal, dan kader Posyandu melalui mobile clinic menangani lebih dari 2.000 pasien, termasuk temuan kasus anak yang memerlukan rujukan segera.
  • Sebanyak 23 dari 26 puskesmas terdampak gempa; nakes dan kader yang juga menjadi korban tetap membantu pelayanan. Masa tanggap darurat berlaku hingga 11 September, layanan keliling berlanjut hingga 21 atau 22 September 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Tim Bencana RSUP Dr. Kariadi Semarang memberikan layanan kesehatan keliling bagi warga terdampak gempa di Manggarai Barat, termasuk pemeriksaan, pengobatan, distribusi obat, dan penanganan kasus yang memerlukan rujukan.
  • Who?
    13 tenaga kesehatan RSUP Dr. Kariadi dipimpin dr. Raden Panji Uva Utomo, bersama Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Manggarai Barat, tenaga medis lokal, kader Posyandu, dan IDI Manggarai Barat.
  • Where?
    Pos pengungsian, desa terpencil, dan wilayah sulit dijangkau di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
  • When?
    Tim Batch 1 bertugas selama 14 hari. Masa tanggap darurat Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat berlaku hingga 11 September, sedangkan layanan keliling direncanakan berlanjut hingga 21 atau 22 September 2026.
  • Why?
    Layanan dilakukan untuk membantu warga terdampak gempa yang kesulitan mengakses fasilitas kesehatan, termasuk di wilayah dengan puskesmas rusak dan akses jalan terbatas.
  • How?
    Tim menggunakan truk logistik untuk menjangkau desa-desa melalui medan terjal, mendirikan tenda, membuka mobile clinic, memetakan titik layanan bersama dinas kesehatan, serta berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lokal dan kader Posyandu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Gempa membuat banyak rumah dan puskesmas di Manggarai Barat rusak. Tim 13 dokter dan perawat dari RSUP Dr. Kariadi datang naik truk ke desa jauh. Mereka memeriksa warga dan memberi obat. Mereka sudah pulang, tapi petugas lain masih akan keliling membantu warga sampai 21 atau 22 September 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah keterbatasan pascagempa, kerja bersama relawan RSUP Dr. Kariadi, tenaga kesehatan lokal, kader Posyandu, dan pemerintah daerah memperlihatkan layanan kesehatan tetap dapat menjangkau warga hingga pelosok. Sambutan hangat masyarakat serta keterlibatan petugas yang juga terdampak mencerminkan daya tahan dan kepedulian yang menguatkan pelayanan mobile clinic bagi ribuan pasien.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times — Di balik ketidakpastian pascabencana gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), terdapat kisah haru tentang dedikasi tanpa batas terukir dari para tenaga kesehatan (nakes) dan relawan yang bahu-membahu menyambangi desa-desa terdampak paling terpencil.

Deru truk logistik yang merayap perlahan menembus bukit dan lembah. Sebanyak 13 tenaga kesehatan dari RSUP Dr Kariadi Jawa Tengah yang menahan guncangan medan terjal, membawa harapan dan obat-obatan bagi warga di desa-desa terpencil.

Rombongan tersebut merupakan Tim Bencana RSUP Dr. Kariadi Semarang yang diterjunkan langsung ke pusat-pusat kemah pengungsian dan wilayah sulit jangkau di Manggarai Barat. Mereka adalah Dr. dr. Moh. Syarofil Anam, Msi.Med., Sp.A, dr. Raden Panji Uva Utomo, M.H, Sp.FM, dr. Ayla Farah Kalila, dr. Farhana Samad, dr. Ramsyifa Virzanisda, dr. Niken Ayu Dewi Masitoh, dr. Nico Andrian, Joko Wibowo, Ners, Adventi Prawulandari, S.Kep., Ners, Yosafat Christian Cahya Haryanto, S.Kep., Ners, Eka Dafid Zakaria, Ners, Fauzi Adytya Putra, S.Kep., Ners, dan Azis Irfan Anshori, SKM

1. Bekerja All-Round di Tengah Puing Bencana

Tim Bencana RSUP Dr. Kariadi Semarang yang diterjunkan langsung ke pusat-pusat kemah pengungsian dan wilayah sulit jangkau di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur. (dok Tim Bencana RSUP Dr. Kariadi Semarang)

Dipimpin oleh dr. Raden Panji Uva Utomo, Sp.F. sebagai ketua tim, skuad kesehatan asal Semarang ini terdiri dari dr. Anam (spesialis anak), lima dokter umum berkemampuan penanganan trauma dan kegawatdaruratan yakni dr. Nico, dr. Ayla, dr. Syifa, dr. Hana, dan dr. Niken serta jajaran perawat berpengalaman dari Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Dr. Kariadi.

Di lapangan, batas-batas birokrasi profesi seketika mencair. Keterbatasan fasilitas di lokasi bencana menuntut setiap personel bergerak cepat dan all-round. Seorang dokter umum atau perawat tak hanya bertugas memeriksa fisik pasien, tetapi juga cekatan memilah obat di posko farmasi darurat hingga membongkar muatan logistik medis.

"Di medan bencana dengan ancaman gempa susulan, situasinya sangat dinamis. Kami harus bergerak cepat dan all round. Di lapangan, tidak ada sekat profesi—seorang dokter maupun perawat bisa bertugas memeriksa pasien, meracik obat di posko farmasi darurat, hingga membongkar muatan logistik bersama-sama," ungkap ketua tim dr. Raden Panji Uva Utomo, Sp.F.

2. Rasa empati demi meredakan penderitaan warga meluluhkan kekhawatiran gempa susulan

Tim Bencana RSUP Dr. Kariadi Semarang yang diterjunkan langsung ke pusat-pusat kemah pengungsian dan wilayah sulit jangkau di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur. (dok Tim Bencana RSUP Dr. Kariadi Semarang)

Kehadiran tim medis Semarang di pelosok Manggarai Barat ini didasari oleh panggilan kemanusiaan dan tanggung jawab moral. Di saat gempa susulan masih membayangi, rasa empati meluruhkan kekhawatiran pribadi demi meredakan penderitaan warga terdampak.

"Melihat kondisi saudara-saudara kita di NTT, pintu hati kami seketika terketuk. Ini bukan sekadar penugasan medis, melainkan panggilan kemanusiaan dan tanggung jawab moral. Kami ingin hadir dan mendedikasikan seluruh ilmu yang kami miliki untuk meringankan penderitaan warga di lokasi bencana," tutur dr. Uva.

Aktualisasi profesionalisme di medan gawat darurat menjadi ujian nyata bagi mental dan ketahanan fisik para relawan. Menyesuaikan diri dengan dinamika bencana yang berubah cepat serta mengambil keputusan medis dalam tekanan tinggi menjadi proses pembelajaran batin yang tak ternilai, sekaligus wujud nyata keimanan serta tugas negara dalam melindungi seluruh warga.

3. Sambutan Hangat Warga dan Lambaian Tangan Jadi Pelepas Lelah

Tim Bencana RSUP Dr. Kariadi Semarang yang diterjunkan langsung ke pusat-pusat kemah pengungsian dan wilayah sulit jangkau di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur. (dok Tim Bencana RSUP Dr. Kariadi Semarang)

Menjangkau titik-titik pelayanan yang telah dipetakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat, dr. Theresia P. Asmon, bukanlah perkara mudah. Truk yang mengangkut personel kerap harus bersusah payah menaklukkan akses jalan rusak yang curam. Namun, rasa lelah fisik dan penatnya pikiran seketika sirna begitu armada mereka memasuki kawasan desa.

Anak-anak di pengungsian menyambut kedatangan tim dengan binar mata ceria dan senyum hangat saat truk berhenti. Kehangatan warga lokal yang tetap tangguh di tengah keterbatasan meluruhkan seluruh rasa lelah para relawan hingga meneteskan air mata haru.

"Perjalanan menembus medan terjal dengan truk logistik memang sangat melelahkan. Namun, rasa penat itu seketika sirna saat kami melihat binar mata dan senyum ceria anak-anak menyambut kedatangan tim. Kehangatan serta ketangguhan warga Manggarai Barat di tengah keterbatasan membuat kami menangis haru," kenangnya.

Salah satu momen berkesan bagi tim yakni ketika perpisahan dengan masyarakat. Lambaian tangan dari para ibu, ayah, dan anak-anak desa seolah mengantarkan keberangkatan tim menuju titik pelayanan berikutnya dengan pesan tersirat untuk tetap tangguh demi sesama.

Meski masa penugasan telah usai dan relawan telah kembali ke Jawa Tengah, bayangan tatapan mata serta keteguhan warga Manggarai Barat tetap melekat kuat di ingatan.

"Meski penugasan kami di Manggarai Barat telah usai, momen kebersamaan dan tatapan keteguhan warga di pengungsian akan selalu melekat di ingatan kami. Ada kepuasan batin yang tak ternilai bisa melayani mereka. Lekaslah pulih NTT, lekaslah bangkit Manggaraiku," pungkas dr. Uva.

4. Kolaborasi Kemenkes tenaga medis lokal hingga kader Posyandu

Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat, Theresia P. Asmon. (Dok: Dinas Kesehatan Manggarai Barat)

Sementara itu meski dalam kondisi tanggap darurat bencana, Roda pelayanan kesehatan di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus terus berputar menembus keterbatasan usai dilanda bencana. Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat, drh. Theresia P Asmon, mengungkapkan rasa haru dan apresiasi mendalam atas kolaborasi luar biasa antara relawan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), tenaga medis lokal, hingga kader Posyandu.

Inisiatif jemput bola (mobile clinic) ini menjadi pelita bagi ribuan warga yang kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.

Ketangguhan para relawan ini meninggalkan kesan mendalam baginya. Selama 14 hari penuh, tim relawan medis Batch 1 dari RSUP Dr. Kariadi Semarang yang terdiri dari 13 personel dan juga tim dari dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat bahu membahu memberikan pelayanan medis bagi warga yang terdampak gempa bahkan hingga ke daerah-daerah paling pelosok.

"Mereka menginap di lapangan, membangun tenda, dan logistik semua disiapkan sendiri. Jadi, bagaimana kami tidak merasa terharu? Perjalanan ini tidak hanya terkait pelayanan kesehatan, tetapi juga men-transfer spirit dari teman-teman relawan kepada tim kami di puskesmas," ungkap Theresia.

5. Warga Antusias Bertemu Dokter Spesialis untuk Pertama Kalinya

Tim Bencana RSUP Dr. Kariadi Semarang yang diterjunkan langsung ke pusat-pusat kemah pengungsian dan wilayah sulit jangkau di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur. (dok Tim Bencana RSUP Dr. Kariadi Semarang)

Pendekatan layanan langsung ke titik-titik desa terluar ini membawa kebahagiaan tersendiri bagi warga. Theresia menuturkan bahwa masyarakat sangat antusias, terutama karena ini adalah momen pertama kalinya bagi sebagian dari mereka bisa diperiksa langsung oleh dokter spesialis.

Selama hampir dua pekan beroperasi, layanan mobile clinic ini berhasil menangani lebih dari 2.000 pasien. Menariknya, turunnya para spesialis ke lapangan berhasil mengungkap berbagai temuan kasus penyakit unik pada anak yang membutuhkan rujukan atau penanganan segera.

Guna memaksimalkan layanan, pada akhir pekan, tim dari RS Kariadi juga berkolaborasi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Manggarai Barat. Dokter spesialis penyakit dalam dan obstetri dan ginekologi (obgyn) yang sedang libur dinas dari rumah sakit setempat, turut terjun berkeliling ke sejumlah titik bersama para relawan.

"Puskesmas-puskesmas boleh rusak gedung-gedungnya, tetapi dengan pendekatan layanan jemput bola ini sangat membantu masyarakat dan mengurangi kekhawatiran kami. Kehadiran kami itu mengobati dan mengurai sedikit kegelisahan masyarakat, sekaligus memberi pesan bahwa pemerintah hadir di tengah mereka," tegas Theresia.

6. Pengorbanan Nakes Lokal dan Kader Posyandu yang juga Merupakan Korban Gempa

Tim Bencana RSUP Dr. Kariadi Semarang yang diterjunkan langsung ke pusat-pusat kemah pengungsian dan wilayah sulit jangkau di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur. (dok Tim Bencana RSUP Dr. Kariadi Semarang)

Di balik suksesnya pelayanan medis bagi ribuan warga, terselip kisah pengorbanan luar biasa dari para nakes lokal dan "Mama-Mama" kader Posyandu. Dari 26 puskesmas di Manggarai Barat, sebanyak 23 di antaranya berada di wilayah terdampak bencana. Banyak dari petugas kesehatan dan kader ini yang rumahnya ikut hancur atau rusak berat akibat gempa.

Meski menjadi korban dan berada di pengungsian, mereka menolak untuk berdiam diri. Spirit pelayanan mereka tidak kendur sedikit pun dalam membantu tim relawan memetakan wilayah dan mendampingi warga yang sakit.

"Setelah selesai pelayanan, kami baru mendapat kabar bahwa mereka (nakes lokal dan kader Posyandu) ternyata juga bagian dari keluarga yang terdampak bencana. Itu sangat luar biasa. Di kondisi seperti ini, mereka selalu memprioritaskan orang lain dibanding dirinya sendiri. Itu yang bikin terharu," tutup Theresia dengan nada bergetar.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat masih memberlakukan masa tanggap darurat hingga 11 September. Layanan jemput bola keliling ini dijadwalkan akan terus berlanjut hingga tanggal 21 atau 22 September 2026 mendatang dengan kedatangan relawan Kemenkes Batch 2, yang ditargetkan mampu menjangkau seluruh desa terdampak di Manggarai Barat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article