Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengupas Mitos Tanjakan Gombel Semarang: Sejarah dan Fakta Tersembunyinya

Kota Semarang
Mengupas Mitos Tanjakan Gombel Semarang: Sejarah dan Fakta Tersembunyinya
Arus lalu lintas lancar di tanjakan Gombel Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Tanjakan Gombel menyimpan sejarah kolonial berupa penggusuran makam kuno etnis Tionghoa yang jasadnya konon masih tertimbun aspal jalanan.

  • Kawasan ini kental dengan mitos Wewe Gombel dan tradisi lokal untuk membunyikan klakson sebagai bentuk permisi saat melintas.

  • Di balik cerita mistis, tingginya angka kecelakaan di jalur ini secara logis diakibatkan oleh kemiringan tanah ekstrem dan rawan longsor.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Berkendara melintasi rute curam di malam hari sering kali memunculkan perasaan merinding, apalagi jika rute tersebut terkenal dengan kisah horor seperti Tanjakan Gombel di Semarang. Biar tidak cuma menebak-nebak soal rentetan cerita mistis yang beredar, yuk kita bedah sejarah kelam sekaligus fakta logis di balik jalur legendaris ini!

  1. 1. Sejarah Kelam Penggusuran Makam Tionghoa

    IMG_20260420_094607.jpg
    Seorang pemotor tampak berhati-hati melewati tanjakan Gombel yang dijadikan dua jalur. (IDN Times/Fariz Fardianto)

    Jauh sebelum dibeton rapi, wilayah Bukit Gombel dulunya merupakan kawasan pemakaman kuno etnis Tionghoa pertama yang bermukim di Semarang. Pada masa kolonial Hindia Belanda di bawah pimpinan Mr. Baron Van Hacken, rencana pembangunan jalan raya yang membelah bukit ini mendapat perlawanan sengit dari masyarakat lokal demi melindungi makam leluhur mereka.

    Karena kalah kuasa oleh militer Belanda, proyek jalan tersebut tetap dipaksakan berjalan. Beredar kabar bahwa banyak jasad leluhur kuno yang tidak sempat dipindahkan dan akhirnya dibiarkan tertimbun begitu saja di bawah aspal jalanan hingga saat ini.

  2. 2. Mitos Sarang Wewe Gombel yang Bikin Merinding

    ilustrasi sarang wewe gombel (pexels.com/cottonbro)
    ilustrasi sarang wewe gombel (pexels.com/cottonbro)

    Nama "Gombel" memiliki akar cerita yang sangat melekat di telinga masyarakat. Sebagian menyebut nama ini muncul dari kisah perjalanan Kiai Pandan yang harus bersusah payah melewati perbukitan terjal saat berziarah ke Gunung Jabalkat.

    Namun, mitos paling populer justru mengaitkan tanjakan ini sebagai sarang Wewe Gombel. Makhluk astral berambut panjang, bermata merah, dan berpakaian compang-camping (gombal) ini konon gemar menyembunyikan anak-anak yang ditelantarkan atau kurang mendapat perhatian dari orang tuanya.

  3. 3. Kesaksian Pengendara dan Tradisi Bunyi Klakson

    IMG_20260419_191301.jpg
    Sejumlah pemotor dan mobil melewati turunan Jalan Gombel Lama. (IDN Times/Fariz Fardianto)

    Bukan sekadar mitos usang, banyak pengendara dan sopir angkutan yang membagikan pengalaman ganjil saat melintasi jalur Gombel Lama maupun Gombel Baru. Beberapa korban kecelakaan mengaku pandangannya mendadak kabur, digelapkan seketika, atau diserang rasa kantuk luar biasa seolah kesadarannya dikuras habis.

    Ada juga laporan penampakan wanita berpakaian putih lusuh yang tiba-tiba menyeberang jalan. Demi menghindari kecelakaan atau "gangguan", para pengendara lokal memegang teguh tradisi mengetuk klakson 1–3 kali saat melewati titik paling curam sebagai bentuk ucapan permisi.

  4. 4. Penjelasan Logis dari Sisi Geografi dan Teknis

    IMG_20260419_191439.jpg
    Ruas Jalan Gombel Lama yang dilintasi para pengendara motor ini mulai Senin besok akan ditutup total. (IDN Times/Fariz Fardianto)

    Terlepas dari segala aroma mistis yang menyelimuti, tingginya angka insiden di kawasan ini sebenarnya bisa dijelaskan secara ilmiah. Jalur ini memiliki sudut elevasi ekstrem dan tikungan tajam yang memaksa mesin kendaraan bekerja di luar batas wajar. Kendaraan yang muatannya berlebih atau kurang perawatan kerap kali mengalami rem blong atau gagal menanjak.

    Selain itu, struktur tanah perbukitan ini cenderung terus bergerak sehingga sangat rawan longsor. Pemerintah setempat bahkan sempat menutup total akses jalan lawas demi melakukan perbaikan menyeluruh untuk menstabilkan lereng dan menjamin keselamatan pengguna jalan.

    Percaya atau tidak pada cerita urban yang beredar, menjaga kondisi kendaraan tetap prima dan selalu waspada adalah kunci keselamatan utama saat melewati jalur ekstrem ini.

    Nah, apakah kamu punya pengalaman tersendiri atau terbiasa membunyikan klakson saat melintasi rute curam ini? Bagikan pengalaman berkendaramu di kolom komentar, ya!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More