Semarang, IDN Times - Tren klaster penularan COVID-19 di lingkungan keluarga muncul di Kota Semarang. Klaster baru tersebut ditularkan dari klaster perusahaan atau perkantoran yang sudah terjadi sebelumnya di Ibu Kota Jawa Tengah itu.
Muncul Klaster Keluarga di Semarang, Ada di Pedurungan dan Tembalang

1. Klaster keluarga terjadi di Semarang sejak Mei 2020
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam mengatakan, jumlah kasus positif virus corona yang terkonfirmasi selama ini merupakan pengembangan dari klaster-klaster COVID-19 sebelumnya. Seperti klaster perusahaan, perkantoran, pasar, tenaga kesehatan, dan komunitas. Adapun, kasus klaster komunitas tersebut berasal dari antarkeluarga.
‘’Munculnya klaster keluarga salah satu pembawanya dari klaster perusahaan. Seperti contoh kasus di Kecamatan Pedurungan dan Tembalang, satu hingga dua keluarga dengan anggota 8 sampai 10 orang tertular virus corona,’’ ungkapnya saat dihubungi IDN Times, Rabu (2/9/2020).
Ditanya kapan klaster keluarga muncul di Semarang, Hakam mengungkapkan, trennya terjadi sejak bulan Mei 2020 lalu.
‘’Jumlahnya lumayan banyak,’’ tuturnya tanpa menyebutkan angka pasti.
2. Kemunculan klaster keluarga karena tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan
Melihat perkembangan kasus dari klaster-klaster tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Semarang terus melakukan tracing (penelusuran) dan tracking (pelacakan) hingga ke daerah permukiman warga. Khususnya di daerah dengan protokol kesehatan COVID-19 yang rendah.
Sebab, selain faktor penularan lokal (local case), penyebaran virus corona pada klaster tersebut terjadi karena ketidakdisiplinan penerapan protokol kesehatan.
‘’Maka tindakannya pertama, jika ada kasus klaster keluarga di satu daerah, kami langsung menerjunkan tim checking untuk tes swab PCR (polymerase chain reaction) kepada warga yang melakukan kontak erat dengan pasien positif dan PDP. Kedua, kami juga mengarah ke daerah dengan protokol kesehatan rendah untuk melakukan tes swab di sana,’’ tuturnya.
3. Daerah dengan penerapan protokol kesehatan yang masih rendah disasar untuk tes swab
Daerah-daerah di Semarang dengan kategori protokol kesehatan yang rendah, menjadi sasaran sosialisasi petugas dinkes dan puskesmas setempat mengenai COVID-19.
‘’Jadi sambil sosialisasi, petugas juga akan menilai penerapan protokol kesehatan di sana. Bagaimana budaya pakai maskernya, sudah melakukan jaga jarak belum, dan apakah warganya sudah rajin cuci tangan belum,’’ terang Hakam.
Hingga kini Dinkes Kota Semarang masih melakukan tes swab PCR kepada 150-200 orang per hari. Upaya itu belum termasuk dengan tes swab yang dilakukan di rumah sakit rujukan, sebagai bagian dari proses tracing kasus yang muncul.
‘’Sehingga, target tes PCR sesuai standar WHO sudah, dengan skala 1 per 1.000 penduduk per minggu dengan kondisi jumlah penduduk di Semarang 1,8 juta orang tercapai,’’ ujarnya.