Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Murah dan Bisa Ditawar, Celana Bandung di Purwokerto Diburu Mahasiswa

Kab. Banyumas
Murah dan Bisa Ditawar, Celana Bandung di Purwokerto Diburu Mahasiswa
Adit saat menunjukkan barang dagangannya di Glempak tak jauh dati Unsoed, Kamis (27/8/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
  • Adit Amrullah menjual celana lokal Bandung di Glempang, Purwokerto, dengan harga Rp80 ribu-Rp120 ribu yang masih dapat dinegosiasikan; pilihannya mencakup celana panjang, pendek, dan cargo.
  • Usaha yang dirintis sejak 2017 ini memiliki dua lapak, menawarkan sebagian jeans produksi sendiri, serta mengandalkan kualitas dan model cargo yang diminati untuk menarik pembeli.
  • Kedekatan dengan kampus menjadikan mahasiswa pasar utama. Adit juga mulai memasarkan produk secara online, sambil mempertahankan lapak fisik untuk pengalaman memilih dan mencoba barang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Purwokerto, IDN Times — Di tengah persaingan bisnis fashion yang semakin ketat, Adit Amrullah (28) memilih bertahan dengan strategi sederhana menawarkan celana lokal dengan harga terjangkau dan masih bisa ditawar.

Lapaknya di kawasan Glempang, Purwokerto, menjadi salah satu tempat mahasiswa berburu celana dengan harga ramah di kantong. Beragam model tersedia, mulai dari celana panjang, pendek hingga cargo.

Harga celana panjang yang dijual Adit berkisar Rp100 ribu hingga Rp120 ribu. Sementara celana pendek mulai Rp80 ribu. Untuk celana cargo, harganya sekitar Rp120 ribu untuk model panjang dan Rp80 ribu untuk model pendek. Menariknya, harga tersebut masih bisa dinegosiasikan.

"Alhamdulillah ada saja yang beli. Kondisinya memang seperti sekarang, tetapi tetap ada yang laku," kata Adit kepada IDN Times, Kamis (27/8/2026).

  1. 1. Lapak jeans Adit ssjak 2017

    Lapak jeans milik Adit dengan koleksi model mengikuti tren yang menjadi buruan mahasiswa sejak 2017.
    Lapak Jeans milik Adit jadi buruan anak kampus sejak tahun 2017, karena dianggap modelnya ikuti jaman, Kamis (27/8/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

    Adit telah menjalankan usaha tersebut sejak 2017. Selain lapak di kawasan Glempang, ia juga memiliki lapak lain di Jalan Office, sebelah utara Polsek.

    Produk yang ditawarkan bukan barang impor. Sebagian besar merupakan produk lokal yang didatangkan dari Bandung. Untuk beberapa jenis jeans, Adit bahkan mengaku memiliki produksi sendiri.

    "Kita ini produk lokal dari Bandung. Ada juga yang produksi sendiri, khususnya untuk beberapa jenis jeans,"ujarnya.

    Menurut Adit, celana cargo menjadi salah satu model yang cukup diminati konsumen. Modelnya dinilai praktis dan cocok digunakan untuk aktivitas sehari-hari, termasuk oleh mahasiswa.

  2. 2. Mahasiswa jadi pasar utama

    Pembeli memadati lapak jeans milik Adit yang ramai pada suasana jelang malam, Kamis, 27 Agustus 2026.
    Suasana lapak jeans milik Adit ramai dikunjungi pembeli saat jelang malam, Kamis (27/8/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

    Lokasi lapak yang berada dekat kawasan kampus menjadi keuntungan tersendiri. Mahasiswa menjadi salah satu kelompok konsumen yang paling sering datang.

    Pertimbangannya cukup sederhana. Selain membutuhkan model yang nyaman dan mengikuti tren, mahasiswa juga cenderung mencari pakaian dengan harga yang sesuai kemampuan.

    "Karena lokasinya dekat kampus, kebanyakan pembeli juga mahasiswa,"kata Adit.

    Bagi Adit, harga murah bukan satu-satunya alasan konsumen datang. Ia tetap berusaha menjaga kualitas barang agar pembeli mendapatkan produk yang sesuai dengan uang yang dikeluarkan.

    "Kalau kenapa harus beli di sini, mungkin karena kualitas dan harga. Harganya juga masih boleh ditawar,"ujarnya.

  3. 3. Manfaat medsos jadi keuntungan tersendiri

    Seorang pelaku usaha memanfaatkan media sosial mengikuti perubahan pola konsumen untuk meningkatkan penjualan lapaknya.
    Perubahan pola konsumen dalam membeli melalui media sosial menjadi konsep meningkatkan penjualan lapaknya, Kamis (27/8/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

    Perubahan kebiasaan konsumen juga membuat Adit mulai mengembangkan pemasaran melalui kanal digital. Ia tidak ingin hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung ke lapak. "Sekarang kita menuju online. Jadi tidak hanya offline,"katanya.

    Meski mulai masuk ke penjualan online, lapak fisik tetap dipertahankan. Bagi Adit, pembeli masih membutuhkan pengalaman melihat langsung bahan, memilih model, hingga mencoba celana sebelum memutuskan membeli.

    Pengalaman berjualan selama hampir satu dekade membuat Adit memahami bahwa mempertahankan usaha bukan hanya soal menawarkan harga murah. Pedagang juga harus mampu membaca kebutuhan konsumen, menjaga kualitas dan mengikuti perubahan pola belanja.

    Di tengah persaingan bisnis fashion yang semakin terbuka, Adit memilih mengandalkan produk lokal Bandung, harga yang relatif terjangkau serta ruang negosiasi sebagai daya tarik.

    Baginya, konsistensi menjaga kualitas dan kepercayaan pelanggan menjadi modal penting agar usaha yang dirintis sejak 2017 itu tetap bertahan dan berkembang.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More