Semarang, IDN Times - Masa kampanye Pilpres 2024 yang menggunakan teknologi artificial intelligence (AI) akan menimbulkan dampak negatif bagi para pemilih di Indonesia. Musababnya, paslon nomor urut 2, Prabowo-Gibran dan nomor urut 3 Ganjar-Mahfud mulai berlomba menggunakan AI saat berkampanye di medsos maupun baliho-baliho di jalan raya.
Nah Lho! Kampanye AI Para Capres 2024 Berpotensi Menipu Para Pemilih

1. Kampanye capres pakai AI bikin masyarakat tertipu
Menurut pengamat hukum IT di Semarang, Dr Solichul Huda penggunaan AI dalam kampanye justru akan berdampak buruk bagi masyarakat terutama para calon pemilih di Indonesia. Sebab dengan menggunakan AI, karakter masing-masing capres tidak akan diketahui aslinya oleh calon pemilih.
"Dampak negatifnya itu kan bagi masyarakat apa yang seharusnya diketahui tentang sifatnya capres tersebut akhirnya orang menjadi tidak tahu. Sehingga masyarakat banyak ketipu karena gara-gara kampanye pakai AI banyak orang tidak bisa melihat karakter capres yang asli," kata Solichul kepada IDN Times, Rabu (3/1/2024).
2. Penggunaan AI bisa sembunyikan karakter capres
Ia mengungkapkan adanya penggunaan AI juga akan dimanfaatkan para timses capres untuk menyembunyikan perilaku para capres di dunia nyata. Bahkan diakuinya bahwa dengan memakai AI mana para calon pemilih seolah-olah disuguhkan penampilan fiksi semata.
"Karena memang gara-gara AI ya orang tidak bisa lihat karakter aslinya. Jadi seolah-olah semua mudah disembunyikan. Adanya pemanfaatan AI itu mengubah seperti fatamorgana," terangnya.
Selain itu, ia berkata pemanfaatan AI juga bisa dilihat dari dua sisi. AI bisa dioptimalkan untuk kampanye capres jika media yang digunakan benar-benar tepat. Sedangkan jika media yang digunakan kurang bagus, katanya maka sosok capres yang diubah menggunakan AI akan tidak sedap dipandang.
"Sebetulnya ini tergantung media yang digunakan. Kalau yang namanya AI dibuat sebagus apapun kalau medianya tidak pas itu juga kurang efektif. Tapi juga sebaliknya, kalau medianya bagus ya tampilan AI-nya bisa dimaksimalkan," akunya.
"Tetapi kampanye capres pakai AI sedikit banyak tampilannya jadi bagus. Contohnya facenya calon si-A yang aslinya sudah tua, terus gara-gara pakai AI jadi muda, energik semua bisa dibuat sesuai gimmicknya. Dan tentu punya kemampuan memviralkan," terangnya.
3. Bisa meraih simpati sebagian Gen Z
Meski begitu, ia menuturkan penggunaan AI dalam kampanye capres bisa meraih simpati pemilih pemula atau Gen Z walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak. Karenanya banyak capres yang berusaha memakai AI untuk mengambil hati para Gen Z.
"Artinya seakan-akan itu Gen Z diarahkan jadi penggemar AI. padahal kenyataannya banyak yang tidak. Hanya saja nilai lebihnya kekinian seolah-olah yang lihat tidak ketinggalan zaman," tuturnya.
4. Kampanye AI lebih efektif ketimbang cara konvensional
Sedangkan, pengamat politik dari FISIP Undip, Wahid Abdulrahman mengatakan sebenarnya penggunaan AI lebih efektif digunakan berkampanye ketimbang cara-cara kampanye konvensional.
"Ketimbang kampanye dengan menampilkan panggung dangdut atau konvoi, pastinya kalau pakai AI di masa sekarang lebih efektif," ujar Wahid.
Namun, ia mengingatkan kepada para timses capres untuk tidak selalu menggunakan AI karena hanya bisa menjaring segmen masyarakat tertentu. Untuk kalangan pemilih lainnya dari para orang tua perlu lebih banyak didatangi langsung atau door to door.
"AI hanya bisa meraih segmen tertentu. Kalau untuk kalangan lainnya harus didatangi satu persatu di masing-masing daerahnya karena tidak semua orang familiar dengan perubahan teknologi," paparnya.