Pantura Jateng Banjir, Safira Naik Kereta Semarang ke Tegal 7,5 Jam

Semarang, IDN Times - Perjalanan pulang kampung yang dirasakan sejumlah perantau di jalur pantai utara(Pantura) Jawa Tengah belakangan ini tergolong tak menyenangkan. Betapa tidak, hampir semua kabupaten/kota di wilayah Pantura terendam banjir akibat sungai-sungai yang meluap.
Pengalaman pulang kampung saat kejadian banjir pun dialami Safira Nurulita, seorang warga Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak.
Ia bersama sang suami, Dicky yang awalnya berharap momen manis saat pulang kampung ke Brebes, mendadak berubah jadi serba deg-degan.
Hal itu tak lain karena KA Kaligung yang semula mereka pesan dari Stasiun Poncol Semarang tiba-tiba berhenti beroperasi lantaran jalur relnya di petak jalur antara Stasiun Pekalongan dan Stasiun Sragi, tepatnya di KM 88+6/7 terendam banjir dengan ketinggian bervariasi.
Awalnya pasutri tersebut hendak naik Kaligung 219 relasi Semarang Poncol–Tegal Sabtu (17/1/2026) jam 14.45 WIB.
Tapi tak dinyana perjalanan Kaligung tersendat. Mau tak mau Safira berdiskusi dengan suaminya mengenai kemungkinan perjalanan mereka dibatalkan dan digantikan dengan moda transportasi lain, seperti travel atau lainnya.
Akhirnya, keduanya memutuskan untuk mendatangi layanan customer service. Petugas merespons dengan cepat dan memberikan beberapa opsi, yakni pengembalian dana (refund) sebesar 100 persen atau pengalihan perjalanan menggunakan kereta api lain dengan jadwal keberangkatan yang belum dapat dipastikan.
Namun, menjelang pukul 14.45 WIB, petugas memberitahukan kepada Safira dan suaminya bahwa perjalanan mereka dialihkan menggunakan Kereta Api Kamandaka.
“Saat itu kondisi stasiun cukup padat karena banyak penumpang mendatangi customer service untuk menanyakan informasi keberangkatan. Pelayanan customer service sangat cepat. Penumpang Kereta Api Kaligung yang ingin melanjutkan perjalanan langsung dialihkan ke Kereta Api Kamandaka, sedangkan bagi yang memilih ndak lanjutin perjalanan, KAI nawarin refund 100 persen,” ujar Safira.
Singkat cerita mereka memutuskan naik Kamandaka dengan tujuan tiba di Stasiun Tegal karena jaraknya dekat Brebes.
Normalnya waktu tempuh perjalanan Semarang–Tegal naik kereta kisaran dua jam. Tetapi lantaran ada banjir di jalur rel Pekalongan, perjalanan Kamandaka telat cukup lama.
“Kami baru sampai di Stasiun Tegal sekitar pukul 22.30 WIB. Total perjalanan jadi sekitar tujuh jam 30 menit,” akunya.
Safira merasa lelah dan bosan akibat keterlambatan tersebut. Kamandaka yang ditumpanginya juga beberapa kali mandek di sejumlah stasiun. Kereta sempat berhenti di Stasiun Krengseng sekitar pukul 15.55 WIB selama kurang lebih 30 menit, kemudian kembali berhenti di Stasiun Batang dan Stasiun Pekalongan.
Waktu berhenti terlama terjadi di Stasiun Batang dan Pekalongan karena kereta harus bergantian melintas akibat genangan banjir. Selain itu, kecepatan kereta di petak jalur tersebut dibatasi hingga 10 kilometer per jam demi keselamatan perjalanan.
“Terkadang saya ke gerbong restorasi untuk memesan makanan dan minuman. Saat kereta berhenti lama, saya juga sempat turun untuk menghirup udara luar agar tidak bosan,” tuturnya.
Sebagai informasi, banjir yang merendam petak jalur antara Stasiun Pekalongan dan Stasiun Sragi, tepatnya di KM 88+6/7, kembali meluap sejak Sabtu (17/1) pukul 21.59 WIB. Dampaknya, pada Minggu (18/1/2026), sejumlah perjalanan kereta api terpaksa dibatalkan akibat genangan air yang kembali mengganggu lintasan kereta api.


















